Ritual Andingingi dan Pasang Ri Kajang, Refleksi Ekologi dari Pembukaan Festival Pinisi 2026

Ritual Andingingi dan Pasang Ri Kajang, Refleksi Ekologi dari Pembukaan Festival Pinisi 2026
Ritual Andingingi Pesan Ekologis Masyarakat Adat Kajang dalam Pembukaan Festival Pinisi XVI tahun 2026, - Foto: ist
Bacakan Artikel

Tunu Panroli dan Pa Basing, Pertautan Bahari dan Benteng Adat

Penempatan Ritual Andingingi di awal Festival Pinisi XVI Tahun 2026 memberi pesan ekologis mendalam, bahwa kayu-kayu pembuat Phinisi yang tangguh di lautan lahir dari hutan-hutan adat yang dijaga ketat oleh aturan hukum lokal. Tanpa kearifan daratan Kajang, narasi kebaharian Bulukumba akan kehilangan fondasi ekologisnya.

Selain prosesi khusyuk Andingingi, pembukaan Festival Pinisi XVI turut menyuguhkan kekayaan identitas dan etno-sains masyarakat Kajang. Para pengunjung disuguhkan serangkaian aksi kebudayaan, mulai dari penghormatan Angngaru Kajang, Tari Pabitte Passapu yang dibawakan langsung oleh para tetua adat, hingga atraksi magis Tunu Panroli (membakar besi panas/linggis besar). Alunan alat musik bambu Pa Basing dan kidung tradisional Kelong Jaga turut membungkus suasana magis nan hangat di lapangan Desa Tambangan.

Tunu Panroli, Hukum Besi Panas dan Benteng Kejujuran Adat Kajang

Di luar keanggunan kain hitam Tallasa Kamase-mase dan ketenangan hutan adatnya, masyarakat adat Ammatoa Kajang menyimpan tradisi hukum adat yang sangat disegani, Tunu Panroli. Secara harfiah, Tunu Panroli berarti membakar linggis atau melingkar besi panas. Tradisi ini bukan sekadar atraksi magis atau uji kekebalan tubuh, melainkan puncak penegakan hukum dan pembuktian keadilan tertinggi dalam tatanan adat Kajang.

Dalam kosmologi Kajang, Tunu Panroli baru akan digelar ketika sebuah perselisihan, tindak pidana, atau pelanggaran hukum adat mengalami kebuntuan dan tidak menemukan titik terang melalui musyawarah. Ketika tidak ada saksi atau bukti fisik yang memadai, ritual ini dipanggil sebagai sarana pengadilan spiritual untuk menguji kejujuran para pihak yang bersengketa.

Mekanisme Uji Keadilan Ilahi

Prosesi ini dipimpin langsung oleh pemangku adat atas restu Ammatoa. Sebuah linggis besi dibakar di atas bara api hingga memerah membara. Pihak-pihak yang tertuduh atau bersengketa wajib memegang atau memeluk linggis panas tersebut secara bergantian, disaksikan oleh masyarakat adat dan para Galla.

Secara sosiologis dan spiritual, masyarakat Kajang meyakini kekuatan mistik Pasang ri Kajang akan bekerja secara instan. Pihak yang benar dan jujur tidak akan mengalami luka bakar sedikit pun pada kulitnya, karena kebenaran dilindungi oleh hukum alam.

Pihak yang bersalah atau berdusta akan mengalami luka bakar hebat saat menyentuh besi panas tersebut sebagai wujud hukuman langsung dari alam dan leluhur.

Filosofi Ekologi dan Kejujuran Sosial

Bagi masyarakat adat Kajang, Tunu Panroli mengandung pesan moral yang sangat dalam tentang kejujuran (lambusu'). Besi panas membedakan secara tegas antara yang benar dan yang salah, tanpa bisa dimanipulasi oleh retorika atau status sosial.

Nilai kejujuran ini berbanding lurus dengan komitmen mereka dalam menjaga bentang alam. Merekalah yang meyakini bahwa merusak hutan adat (Borong Karama') sama halnya dengan merusak jiwa masyarakat Kajang. Kejujuran yang diuji dalam Tunu Panroli adalah pondasi moral yang membuat hutan adat Kajang tetap utuh dan lestari hingga hari ini, membentengi daratan Bulukumba dari ketakhasan eksploitasi zaman.

Tak kalah memikat, demonstrasi pembuatan sarung tenun khas Kajang menggunakan pewarna alami dari tumbuh-tumbuhan lokal serta sajian kuliner tradisional turut dipamerkan, memperlihatkan bagaimana prinsip keberlanjutan (sustainability) telah mengakar ratusan tahun dalam praktik keseharian mereka, jauh sebelum tren sustainability di dengungkan.

Pemerintah Kabupaten Bulukumba menaruh harapan besar agar Festival Pinisi XVI tidak sekadar menjadi magnet wisata selebratif, melainkan ajang diplomasi budaya dan edukasi lingkungan. Pariwisata Bulukumba terbukti memiliki dimensi yang utuh, menghubungkan keindahan pesisir pantai, kepiawaian maritim pembuatan kapal, hingga kedalaman filosofi kearifan lokal yang hidup dan dipraktikkan secara konsisten oleh masyarakat adat Kajang.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2