Restorasi Mangrove Kritis Jadi Perhatian Bersama demi Redam Dampak Perubahan Iklim

Klikhijau.com - Perlindungan dan pemulihan mangrove merupakan salah satu strategi penting untuk menghadapi perubahan iklim dan meredam bencana pesisir. Kemampuannya menyimpan karbon 3-5 kali lebih b...

Restorasi Mangrove Kritis Jadi Perhatian Bersama demi Redam Dampak Perubahan Iklim
Bacakan Artikel

“Kami mengajak para peneliti untuk membantu mencari solusi mengatasi hama. Hama ini tidak terekam oleh kita, namun sangat memengaruhi pertumbuhan tegakan mangrove,” kata dia.

Deputi Perencanaan dan Kerja Sama BRGM Budi Setiawan Wardhana menambahkan bahwa restorasi mangrove dengan penanaman diharapkan menjadi opsi terakhir karena opsi tersebut dinilainya lebih mahal.

“Jika memang bisa dicegah degradasinya, maka mangrove dengan tingkat degradasi ringan sampai sedang mempunyai kesempatan untuk regenerasi alami. Yang perlu disampaikan pada masyarakat adalah keberlanjutannya” katanya.

Sementara Direktur Program Kelautan Yayasan Konservasi Alam Nusantara Muhammad Ilman mengungkap bahwa persoalan lain pada kerusakan mangrove adalah ancaman sampah plastik yang terus bertambah banyak di laut.

“Berbagai penelitian dalam lima tahun terakhir mengungkapkan bahwa mangrove dapat menjebak plastik dan menyimpannya di dalam sedimen mangrove. Jika  mangrove dirusak, partikel plastik yang disimpannya akan lepas ke perairan dan dikonsumsi oleh hewan laut yang nanti akan dikonsumsi oleh kita juga,” tuturnya.

Selain melakukan restorasi mangrove, program yang dilakukan lintas kementerian ini juga fokus pada pemberdayaan masyarakat. Menjaga ekosistem mangrove yang sehat mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Selain menjadi tempat pemijahan dan perkembangbiakan biota laut, mangrove juga dapat dimanfaatkan untuk pengembangan produk komunitas seperti kopi mangrove, tepung mangrove, sirup mangrove, dan pewarna jati.

Pelibatan masyarakat

Ilman pun mengatakan pentingnya melibatkan petani tambak ikan agar dapat menerapkan praktik budi daya perikanan yang ramah lingkungan, sehingga kelestarian mangrove terjaga. Hal ini pun diakui oleh Munhamir, pelestari mangrove dari Kelurahan Mangunharjo, Kota Semarang.

“Hilangnya mangrove di wilayah kami juga karena alih fungsi lahan menjadi area tambak. Kami harus segera mengambil langkah nyata sebelum terlambat,” ujar Munhamir yang mengatakan terjadinya demam tambak udang pada 1990-an mengakibatkan wilayahnya mengalami abrasi sejak 1997.

Kerusakan wilayah pesisir yang disebabkan oleh abrasi mencapai 150 hektare, bahkan merambah sepanjang 3,5 kilometer ke arah pemukiman warga.

“Bersinergi dengan banyak pihak, masyarakat di Kelurahan Mangunharjo mulai melakukan upaya pelestarian mangrove, juga mengelolanya secara berkelanjutan. Salah satunya bekerja sama dengan YKAN melalui program MERA (Mangrove Ecosystem Restoration Alliance),” ujarnya.

Melalui program MERA, masyarakat didorong menerapkan praktik budi daya perikanan ramah lingkungan, mengaktifkan kembali tambak yang tidak produktif dengan teknologi semi intensif dan skala rumah tangga secara berkelanjutan, serta penguatan kapasitas masyarakat dan ekonomi masyarakat melalui koperasi yang berfokus pada pengembangan batik mangrove dan kerupuk udang.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2