Daeng Halim dan Fundamental Kopi Topidi

oleh -93 kali dilihat
Daeng Halim dan Fundamental Kopi Topidi
Biji kopi Topidi milik Wahyudin Halim di Makassar - Foto/dok. Wahyudin
Wahyuddin Junus

Klikhijau.com – Aroma kopi topidi tercium dari kompetisi Cup of Exellence (COE) Indonesia 2021. Kabar ini  terkirim atas foto piagam penghargaan yang dibagikan oleh Daeng Halim melalui pesan Whatsapp, medio Maret 2022.

Kabar ini juga terbaca dari dinding facebook, penghujung Desember 2021. Ucapan selamat untuk Daeng Halim, atas kiprah dan prestasi yang diraih bersama dengan kopi topidi.

“Selamat pada para pemenang COE pertama di Indonesia. Kalian adalah bagian dari sejarah perjalanan kopi Indonesia dan mampu berbicara di pentas dunia. Selamat untuk kopi Daeng Halim masuk di TOP 10 dan kopi Daeng Balengkang the best, next tahun depan masuk di 5 besar”.

Atas capaian ini membangkitkan kembali ingatan dua tahun lalu, perjumpaan saya dengan Daeng Halim. Obrolan panjang yang tercipta saat itu kemudian berbuah “Cerita tentang Kopi TOPIDI, Cita Rasa yang Tersembunyi di Balik Kepopuleran Malino”.

KLIK INI:  Kisah Haru Seorang Jeffalin Milka, Mendonasi Taman Marga Satwa Secara Swadaya

Malam itu di rumah panggung mungil, bernama Naurah Camp menjadi saksi. Sajian kopi tengah malam  bersama sosok petani kopi ini, larut dalam obrolan sejarah, kiprah, dan harapannya mengolah  kopi topidi.

Salah satu tantangan, kopi topidi belum sepopuler jenis kopi lain. Belum lagi jika kita berbicara tentang kopi di wilayah Sulawesi Selatan. Ingatan yang pertama muncul adalah Kopi Toraja dan Kopi Enrekang.

Tetapi siapa sangka, kalau satu dari 10 kopi terbaik Indonesia versi Cup Of Exelent (COE) 2021 ada di Kaki Gunung Bawakaraeng. Tepatnya di Lingkungan Topidi, Kelurahan Bontolerung, Kecamatan Tinggimoncong Kabupaten Gowa.

Kiprah Kopi Topidi dalam COE 2021

COE adalah salah satu kompetisi bergengsi yang selalu diikuti oleh para prosessor kopi Indonesia. Dalam event kali ini Kabupaten Gowa ikut berpartisipasi dengan mengirimkan salah satu kopi Arabika Spesialty yang dihasilkan oleh kelompok tani Parangmaha kabupaten Gowa.

KLIK INI:  Inovasi Alat Makan dari Gandum, Sebuah Upaya Selamatkan Lingkungan

Melalui Daeng Halim, petani kopi Arabika asal Topidi mengirimkan 3 jenis prosessing kopi yaitu Kopi Topidi Natural, kopi Topidi Fullwash dan Kopi Topidi Honey.

Dalam event tersebut dua jenis proses kopi Spesialty masuk ke posisi 9 dan 11 Kopi Terbaik Indonesia yaitu Proses Natural dan Fullwash. Dimana proses Natural memiliki skoring 88.14 dan Fullwash-nya 88.25.

Angka skoring yang dicapai menjadi prestasi tersendiri karena pengelolaan kopi topidi dilaksanakan oleh masyarakat sendiri.

Program Pengolahan Kopi Topidi

Pengakuan Hariman Qalbi, SP dari Dinas Peternakan dan Perkebunan Gowa, sebagaimana dilansir dari Meditek.id, Daeng Halim adalah salah satu Petani Binaan yang telah melakukan Prosesing kopi sejak 4 tahun terakhir. Dan selama perjalanan itu pula telah mengirimkan Kopi jenis Arabika Spesialty ke beberapa negara. Diantaranya, Amerika Serikat dan Australia.

KLIK INI:  Menyesap Quotes Menggugah dari Kopi yang Bisa Menularkan Spirit Hidup Lebih Bijak

“Topidi adalah salah satu wilayah penghasil kopi di Kabupaten Gowa dengan Luasan Kopi Arabika sekitar 150 Ha dan Produksi sekitar 80 ton/tahun,” urai Hariman Qalbi.

Daeng Halim selaku produsen kopi spesialty hanya mampu mengelolah sekitar 10 persen dari total produksi kopi Topidi.

“Hal tersebut karena terkendala dalam proses pengolahan kopi membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama dibanding kopi komersial serta kondisi penjemuran yang terbatas. Selain itu dia juga harus bersaing dengan pedagang pembeli kopi asalan yang membeli kopi meskipun masih hijau,” ringkasnya.

Soal ciri khas kopi topidi, Zulkifli K, SP punya penilaian tersendiri. Sebagai petugas yang selama ini ikut mendampingi Kelompok petani Kopi di Kabupaten Gowa. Menurutnya, kopi Topidi memiliki karakteristik body lebih tipis dan rasa yang sedikit lembut.

KLIK INI:  Lagi, BBKSDA Sulsel dan PT Pertamina Serahkan Indukan Rusa ke Penangkar di Takalar

Menurutnya, kopi dari Topidi punya acidity yang lebih besar. Dan memiliki aroma pisang dan kayu manis. Karakteristik kopi Topidi tersebut memang dipengaruhi oleh budidaya dan karakter lokasi tumbuh.

“Namun yang perlu tetap diperhatikan adalah kopi yang berkualitas itu didapatkan dari memetik Kopi dengan buah yang merah kemudian diolah,” jelasnya.

Daeng Halim, Sosok Fundamental Kopi Topidi

Dari laman Direktori Pertanian Cup of Exellence (https://farmdirectory.cupofexcellence.org/) kemunculan dan keberhasilan Daeng Halim dalam kompetisi COE 2021 tercatat di sini. Laman ini juga menjadi rujukan tulisan berikut, dalam menempatkan Daeng Halim sebagai sosok fundamental kopi Topidi.

Kegemaran Daeng Halim didasari oleh apa yang ia saksikan dalam rutinitas sehari-hari. Bermula dari ayahnya, Daeng Balengkang, saat ia berjalan melewati hutan kopi di sekitar rumahnya.

KLIK INI:  Mengamati Cara Tarsius Bekerja di Alam Membantu Petani

Terletak di ketinggian 1240 mdpl hingga lebih dari 1500 mdpl, kiprah Daeng Halim dalam bertani kopi mulai tumbuh dan panen tiga dekade yang lalu.

Dengan menerapkan metode tradisional di desanya secara turun-temurun, ia akhirnya bertemu dengan keluarga besar Kopi Toduri pada tahun 2016.

Tahun tersebut menjadi awal bagi Daeng Halim dan keluarganya untuk mendedikasikan dan mencoba mendiversifikasi usaha dari metode pertanian kopi tradisional mereka.

Topidi saat ini dihuni oleh sekitar 48 KK yang hidup di atas ketinggian 1.350 mbpl. Dengan kondisi alam dingin dan berkabut menjadikan kopi dapat tumbuh subur. Akses menuju Topidi dapat ditempuh kurang lebih kurang 20 menit dari kota Malino.

Topidi, dengan keberadaan tanaman kopinya menjadi salah satu aset fundamental. Salah satu komoditi unggulan yang masih terjaga dan terpelihara. Dengan meletakkan  potensi yang lahir dari keistimewaan bumi Topidi. Kembali terpulang, bagaimana menjaga keberlanjutan sambil merawat ekosistem di sekitarnya.

KLIK INI:  Cerita tentang Kopi TOPIDI, Cita Rasa yang Tersembunyi di Balik Kepopuleran Malino