Puisi Tentang Lingkungan dari 5 Penyair Dunia Paling Menyentuh
Klikhijau.com – Sesungguhnya para penyair tidak bisa lepas dari lingkungannya. Karenanya banyak penyair yang menulis puisi tentang lingkungan. Kata-kata yang tersusun dalam puisi memiliki daya magi...
Klikhijau.com – Sesungguhnya para penyair tidak bisa lepas dari lingkungannya. Karenanya banyak penyair yang menulis puisi tentang lingkungan.
Kata-kata yang tersusun dalam puisi memiliki daya magis tersendiri. Para penyair memilih diksi penuh kejutan. Menggunakan estetika bahasa yang menyentuh.
Beberapa penyair dunia banyak menggunakan diksi-diksi alam dalam puisinya. Selain sebagai metafora, penggunaan diksi alam juga mengandung nilai estetika yang kuat.
Berikut Klikhijau.com telah merangkum lima puisi tentang lingkungan dari penyair dunia. Puisi tentang lingkungan yang mereka tulis jika diselami lebih dalam, bisa melahirkan efek sadar lingkungan. Minimal sadar dengan cara menikmati keindahannya dan tidak merusaknya:
[irp]
-
Pada Sebuah Senja di Langitku (Pablo Neruda)
Burung
Hal ini dilepaskan dari satu burung ke burung lainnya, seluruh karunia hari. Hari pun pergi dari satu seruling ke seruling lainnya, pergi berpakaian vegetasi, dalam penerbangan yang membuka terowongan yang akan dilintasi angin menderu tempat burung-burung memecahkan udara padat biru – dan di sana, malam pun kembali. Ketika kembali aku dari banyak perjalanan, aku pun istirah dan hijau antara matahari dan geografi – kusaksikan bagaimana sayap bekerja, bagaimana parfum ditransmisi oleh telegraf berbulu, dan dari atas kusaksikan jalan, mata air dan atap-atap genteng, para nelayan dalam pelelangan mereka, celana-celana busa; kusaksikan semua itu dari atas langit hijauku. Tiada kupunya alfabet lebih selain beburung walet dalam kawanan mereka, betapa mungil, kemilau air dari burung mungil di atas kobaran api yang menari di luar serbuk sari. [irp]-
Musim Bunga (Kahlil Gibran
Musim Bunga
Marilah, sayang, mari berjalan menjelajahi perbukitan, Salju telah cair dan Kehidupan telah terjaga dari lenanya dan kini mengembara menyusuri pegunungan dan lembah-lembah, Mari kita ikut jejak-jejak Musim Bunga, yang melangkaui Ladang-ladang jauh, dan mendaki puncak-puncak perbukitan Tuk menadah ilham dari aras ketinggian, Di atas hamparan ngarai nan sejuk kehijauan. Fajar Musim Bunga telah mengeluarkan pakaiannya dari lipatan simpanan, dan menyangkutnya pada pohon pic dan sitrus , dan mereka kelihatan bagai pengantin dalam upacara tradisi Malam Kedre.. Sulur-sulur daun anggur saling berpelukan bagai kekasih Air kali pun lincah berlompatan menari ria, Di sela-sela batuan, menyanyikan lagu riang. Dan bunga-bunga bermekaran dari jantung alam, Laksana buih-buih bersemburan, dari kalbu lautan Kemarilah, sayang: mari meneguk sisa air mata musim dingin, dari gelas kelopak bunga lili, Dan menenangkan jiwa, dengan gerimis nada-nada Curahan simfoni burung-burung yang berkicauan dan berkelana riang dalam bayu mengasyikkan Mari duduk di batu besar itu, tempat bunga violet berteduh dalam persembunyian, dan meniru Kemanisan mereka dalam pertukaran kasih rindu.-
Suatu Hari Masa Kanak-Kanakku (Rabindranath Tagore)
Suatu Hari Masa Kanak-Kanakku
Suatu hari masa kanak-kanakku aku harus berpikir –di situ aku lepaskan sebuah kapal kecil di selokan. Itu bulan Juli musim hujan: Aku sendiri dan gembira dengan permainan itu. Aku renangkan kapal kecilku di selokan. Namun tiba-tiba petir menyambar langit begitu keras, angin datang dan meliuk deras. Sungai kecil mengalirkan air lumpur dan kapalku tenggelam. Dengan pikiran kalut, kegembiraanku berakhir karena badai datang. Semua kejengkelan terpendam dalam. Telah lewat hari bulan Juli suram itu: aku bayangkan semua permainanku yang telah sirna. [irp]-
Negeri Para Peri (Edgar Allan Poe)
Negeri Para Peri
Lembah yang suram dan banjir yang kelam Dan langit berawan seperti tertumpuk batang-batang pohon Kepada kita yang tidak menemukan wujud Dari air mata yang berderai hingga habis Bulan penuh di sana membesar dan menyusut Lagi, lagi dan lagi Setiap saat, ketika malam Selalu ada pertukaran tempat Dan mereka memadamkan sinar bintang dengan napas dari wajah-wajah pucat mereka Tentang panggilan bulan yang keduabelas Satu lagi, sesuatu yang setipis sarang-sarang lebah yang terbaring Suatu yang indah, di atas kesengsaraan, mereka menjelma lebih indah Menurun, terus ke bawah, dan semakin rendah Dengan pusatnya adalah pucak Tempat tertinggi pada sebuah lembah Walaupun ada lingkaran yang luas Dalam tirai yang mudah runtuh Di atas pondok-pondok, memenuhi ruang-ruang Di mana pun mereka berada Dalam hutan yang tak dikenal, dan di dalam lautan Dengan tenaga yang memenuhi sayap-sayapnya Dengan segala yang membuat kantuk Dan sesuatu yang cukup untuk mengubur mereka Dalam labirin cahaya Kemudian, sangat dalam! dalam sekali! Terserap hasrat dalam tidur mereka Pada suatu pagi mereka hadir Dan menyembunyikan kelinglungan mereka Membumbungkannya tinggi-tinggi ke langit Dengan angin sekencang gerakan mereka Seperti itu, hampir tak tampak apa pun Atau seperti sebuah gerakan elang laut berbulu kuning Mereka hanya mengandalkan bulan Untuk arti yang sama dari sebelumnya Yaitu sebuah tempat tinggal Yang kupikir terlalu berlebihan Bagaimanapun mereka terlalu kecil Hingga hujan memecahkannya Dari sekumpulan kupu-kupu itu Dari bumi, yang terlihat sebagai langit Dan, kembali menurun, lebih ke bawah Tidak pernah puas akan sesuatu! Sambil membawa seseorang Di atas sayap mereka yang gemetar (1831)-
Di Dalam Hutan (Osca Wilde)