Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara

(1) Kita, Seperti Musim Yang Labil Langit di kepalaku telah lapang dan benar-benar abu, ketika puisi menyentuh banyak raga tetapi tidak raga kau. Di tengah jalan aku adalah puluhan cahaya. Ya...

Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara
Bacakan Artikel
Rifqi Septian Dewantara

Artikel terbaru dari Rifqi Septian Dewantara (lihat semua)

Belum ada artikel terbaru lain dari penulis ini.

(1)

Kita, Seperti Musim Yang Labil

Langit di kepalaku telah lapang dan benar-benar abu, ketika puisi menyentuh banyak raga tetapi tidak raga kau.

Di tengah jalan aku adalah puluhan cahaya. Yang entah itu pagi, siang, sore, malam atau bagian hari-hari lain kau. Memeluk tubuhku, mendekap rindu kau.

Di persimpangan jalan kau adalah titik-titik kehidupan. Yang mendiami tubuh lesuhku. Menjadikannya begitu berani keluar dari pikiranku. Melepas jauh dari kematian kata.

Dan perpisahan adalah hal paling tidak menarik dari sebuah perjumpaan. Seperti penghujan kepada kemarau ataupun sebaliknya.

Seorang peramal cuaca mengatakan akan terjadi musim penghujan di wajahku. Tetapi setelah semua dibaca dan diramalkan, yang ada hanya kemarau panjang yang kering di tubuh puisi ini.

Kehidupan mulai kembali ketika kau belum juga kembali. Seperti musim yang berubah-ubah, mungkin kau dan aku diceritakan selokal itu. Dingin, panas, mendung, terik dan banyaklah macam bentuknya.

2024

 

(2)

Rona

Mentari terik dalam warna keemasan, tatkala suhu memanas di bawah sana yang berselindung siur jalanan.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: