Tragedi Petani, Bercocok Tanam di Lumbung Sampah Plastik

Klikhijau.com – Bercocok tanam memiliki tantangan tersendiri. Mulai persoalan air hingga musim yang mulai tidak menentu. Daerah yang suplai airnya minim dan curah hujan yang rendah akan berdampak p...

Tragedi Petani, Bercocok Tanam di Lumbung Sampah Plastik
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Klikhijau.com – Bercocok tanam memiliki tantangan tersendiri. Mulai persoalan air hingga musim yang mulai tidak menentu.

Daerah yang suplai airnya minim dan curah hujan yang rendah akan berdampak pada waktu penggarapan sawah atau ladang.

Daerah tersebut akan menunggu musim hujan agar bisa melakukan aktivitas bercocok tanam. Semisal yang terjadi di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan. Aktivitas bercocok tanam hanya biasa dilakukan pada saat musim hujan.

Masyarakat akan turun ke sawah dan ladangnya untuk menanam padi dan jagung. Dua komoditi tersebut menjadi andalan di Kab. Jeneponto jika musim hujan.

Sayangnya, para petani mendapat tantangan lain, yakni sampah plastik. Khususnya  ladang atau sawah  terletak di pinggir jalan raya.

Hal itu pula yang membuat petani rela tidak rela harus rela pula menanam padi atau jagung di tengah lumbung plastik yang menghuni ladang atau sawahnya.

Tidak hanya Kabupaten Jeneponto, saya juga menemukan hal serupa di Kabupaten Takalar, Bantaeng, Bulukumba, dan Maros. Sawah dan ladang di pinggir jalan disesaki pula dengan sampah plastik

Telah diketahui jika keberadaan sampah plastik adalah ancamana nyata bagi tercemarnya tanah, air tanah, dan makhluk bawah tanah.

Partikel plastik membawa racun yang bisa masuk ke dalam tanah sehingga  akan membunuh hewan-hewan pengurai di dalam tanah seperti cacing.

Plastik  tidak dapat terurai meskipun termakan oleh binatang maupun tanaman. Ini bisa jadi penyebab menjadi racun berantai sesuai urutan rantai makanan.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2