Tragedi Petani, Bercocok Tanam di Lumbung Sampah Plastik

Klikhijau.com – Bercocok tanam memiliki tantangan tersendiri. Mulai persoalan air hingga musim yang mulai tidak menentu. Daerah yang suplai airnya minim dan curah hujan yang rendah akan berdampak p...

Tragedi Petani, Bercocok Tanam di Lumbung Sampah Plastik
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Sampah plastik akan mengganggu jalur air yang teresap ke dalam tanah. Sehingga bisa menurunkan kesuburan tanah. Sampah plastik juga bisa menghalangi sirkulasi udara di dalam tanah dan ruang gerak makhluk bawah tanah yang mampu menyuburkan tanah.

Pramiati Purwaningrum (2016) mengungkapkan bahwa penggunaan plastik yang tidak sesuai persyaratan akan menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, karena dapat mengakibatkan pemicu kanker dan kerusakan jaringan pada tubuh manusia (karsinogenik).

Selain itu, sampah plastik yang berada dalam tanah yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme. Ini menyebabkan mineral-mineral dalam tanah baik organik maupun anorganik semakin berkurang.

Ancaman dunia pertanian

Hal tersebut masih menurut Pramiati dapat menyebabkan jarangnya fauna tanah, seperti cacing dan mikorganisme tanah, yang hidup pada area tanah tersebut, dikarenakan sulitnya untuk memperoleh makanan dan berlindung.

Hal lain yang jadi masalah adalah  kadar O2 dalam tanah semakin sedikit, sehingga fauna tanah sulit untuk bernapas dan akhirnya mati.

Jika ini terjadi, akan berdampak langsung pada tumbuhan yang hidup pada area tersebut. Tumbuhan membutuhkan mikroorganisme tanah sebagai perantara dalam kelangsungan hidupnya (Pramiati Purwaningrum dalam Ahmann D dan Dorgan JR, 2018)

Jika sampah plastik tidak dikendalikan, bisa berakibat fatal bagi gelar Indonesia sebagai negara agraris, yang  lebih dari 60% penduduknya bekerja di sektor pertanian. Karena itu apabila lahan pertanian tercemar oleh sampah, maka akan menurunkan kualitas tanah maupun hasil produksi dari pertanian tersebut (Nining Wahyuni, Ghazi Muhammad, Agung Rahmadi, 2018).

Petani yang bercocok tanam di lumbung plastik seperti yang saya temukan di lima kabupaten (Bulukumba, Maros, Bantaeng, Takalar, dan Jeneponto) jika merujuk pada  pendapat  Nining Wahyuni dkk (2018) dapat  menurunkan kesuburan tanah serta produktivitas tanah itu sendiri. Sehingga akan kehilangan daya kesuburannya untuk menyuburkan tanaman. Itu karena   mikroorganisme di dalam tanah akan mati sehingga ketersediaan unsur hara dalam tanah akan semakin rendah.

Pencemaran sampah plastik juga bisa mengubah suatu tatanan (komposisi) dari air, tanah  sehingga kualitas air, tanah maupun udara menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukkannya.

Jika tidak berusaha dikurangi, sampah plastik akan menjadi ancaman mengerikan bagi dunia pertanian. Apalagi sifat plastik akan terurai di tanah dalam waktu lebih dari 20 tahun bahkan dapat mencapai 100 tahun.

Itu artinya derita petani akan semakin panjang sebab plastik dapat menurunkan kesuburan tanah, juga bisa menyebabkan  produktivitas hasil pertanian menurun.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2