Pohon Seribu Tahun

Aku girang ketika seorang lelaki gondrong mendekatiku. Di tangannya ada palu, paku, dan kertas. Lelaki gondrong itu menatapku. Ada haru dari matanya. Ada kagum bertumbuh dari tatapannya. Dan aku meras...

Pohon Seribu Tahun
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Aku terkadang dianggap angker. Jujur saja. Aku suka dengan anggapan itu. Itu membuatku selamat dari berbagai ancaman “pembunuhan”.

Dianggap angker memberiku napas lebih panjang. Hanya segelintir manusia saja yang mengusikku. Jadi, aku bisa hidup seribu tahun untuk memberi manfaat yang banyak bagi manusia dan makhluk hidup lainnya.

Iya, tak hanya manusia, aku juga jadi rumah bagi banyak burung, bahkan cacing tanah menyukaiku. Mereka bisa berumah di celah-celah akarku.

Nama ilmiahku Ficus benjamina. Kerenkan?.

Kembali ke lelaki gondrong itu. Setelah ia selesai memakuku. Ia menatapnya dengan sangat bangga. Dikeluarkannya gawai dari sakunya. Lalu memotretku.

Aku merasa haru. Semua pori dalam tubuhku menggerimis. Daun dan reranting menari bahagia. Orang-orang yang berlalu lalang mampir membaca pengumuman itu. Minggu depan di malam Minggu. Akan ada perayaan peringatan hari lahir penyair idolaku itu. Chairil Anwar.

Akan banyak puisi Chairil yang dibaca dan aku akan meneduhkan semua orang yang hadir. Bagaimanapun, akhir-akhir ini panas terasa lebih memanggang kota ini.

Air yang kusimpan dalam tubuhku seakan terkuras habis. Pertumbuhan daun dan ranting melambat. Tapi, aku telah bersumpah akan tetap bertahan. Akan tetap bermanfaat.

“Air tak lagi mengalir ke kamar mandi fakultas,” ujar seorang Dosen Muda.

“Mungkin air tanah telah habis,” jawab Dosen Senior.

Mereka berbincang sambil mengisap rokok di bawahku. Aku hampir batu-batu oleh asap rokoknya.

“Pemanasan global semakin nyata adanya,” timpal Dosen Perempuan yang baru datang. makeupnya  telah luntur di hantam panas. Padahal hari masih sangat pagi.

“Untung ada pohon beringin ini, bisa meneduhkan kita,” timpal Dosen Muda itu.

“Ini harus dijaga,” kata Dosen Senior

“Bagaimana air sudah mengalir,” tanya Dosen Perempuan tersebut.

“Belum,” jawab Dosen Muda itu.

Mereka tak tahu, sejak kemarau. Aku telah berhenti mengalirkan air ke dalam sumur bor mereka. Aku berada pada ranah serba salah. Jika aku alirkan air yang kusimpan melalui akar-akarku. Maka aku sendiri yang akan keropos lalu menemui mautku.

Jika aku mati, manfaatku akan berhenti. Aku tahu, aku bukanlah jenis pohon yang dapat berguna setelah matinya. Aku berbeda dengan pohon lain, yang kayunya bisa digunakan untuk membuat rumah atau kursi.

Karenanya aku ingin hidup seribu tahun lagi untuk memberi manfaat. Tak boleh tidak. Tiada guna hidup tanpa manfaat.

“Barangkali beringin ini menyerap semua air tanah,” ungkap Dosen Senior itu.

“Hahaha, ada-ada saja, justru pohon inilah yang menyimpan dan menyuplai air,” jawab Dosen Perempuan itu.

Aku terkejut mendengar dugaan Dosen Senior berbaju putih itu. Aku menggoyangkan badanku, dua atau tiga helai daun jatuh.

“Lihat, siapa yang memaku pohon ini?” tanya Dosen Muda.

“Pasti ulah mahasiswa,” jawab Dosen Senior.

“Mereka menyakiti pohon ini,” kata Dosen Perempuan tersebut sambil mencabut pengumuman itu. Aku ingin protes. Ia mencabut puisi kesukaan dari tubuhku.

Yang tercabut hanya papan pengumuman tersebut. Tidak dengan pakunya. Aku juga heran, sebatang paku tak akan menyakitiku—tak akan membunuhku. Aku ingin hidup seribu tahun lagi.

Jelang acara

Tiga hari jelang acara peringatan kelahiran Chairil. Tubuhku menggigil. Sakit pada sekujurnya. Paku yang ditancapkan lelaki gondrong itu telah menyakiti. Melukai dan memotong banyak suratku.

Aku ingat protes Dosen Perempuan itu. Tapi aku terlalu sombong dan merasa tak mungkin satu batang paku dapat membunuhku.

Rupanya itu tidak benar. Paku itu, yang perlahan berkarat dalam tubuh—karatannya menyebar cepat dan memotong semua aliran nafas.

Aku jadi takut, tak lagi bisa melihat pementasan puisi Chairil Anwar itu. Karena sekarat karena paku yang ditancapkan lelaki gondrong itu.

Saat aku mengumpulkan napas, seorang perempuan muda bersama tiga lelaki datang pula menempel pengumuman. Mereka memakuku. Tulisan pengumumannya adalah seruan aksi jaga iklim dalam rangka peringatan hari bumi.

“Jaga bumi, jaga pohon,” begitu pengumuman yang dipaku pada tubuhku.

Aku membiarkan mereka memakuku. Dan saat acara pementasan baca puisi berlangsung. Tubuhku telah sangat payah. Aku meranggaskan semua daunku. Orang-orang yang hadir bersorak. Itu pemandangan yang eksotis. Menakjubkan bagi mereka.

Saat usai pementasan puisi, napasku juga usai. Aku gagal hidup seribu tahun.

 Kindang, Oktober 2023

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2