Pertanian Dapat Berkontribusi Positif pada Perubahan dan Mitigasi Iklim

Klikhijau.com – Setiap pagi, ketika hujan tak turun. Masyarakat akan bergegas ke kebun mereka. Lengkap dengan “alat tempur” masing-masing. Ritus seperti itu, bagi dunia pertanian memang telah turun...

Pertanian Dapat Berkontribusi Positif pada Perubahan dan Mitigasi Iklim
Bacakan Artikel

[irp]

Harus ditanggapi serius

Laporan dari IPCC tersebut, juga memperingatkan bahwa jika pemerintah dan individu tidak mulai menanggapi peringatan iklim secara serius, maka pemanasan global akan segera menjadi dua kali lebih dahsyat dari sekarang.

Saat ini,  banyak negara sebelumnya telah berjanji untuk membatasi pemanasan hingga 1,5 derajat Celcius. Tentu saja janji itu membutuhkan perubahan nyata, bukan janji politik, untuk memastikan umat manusia tidak menyia-nyiakan kesempatan terakhirnya, kata laporan itu.

Untuk menghasilkan laporan, para peneliti dari lebih dari 165 negara meninjau lebih dari 18.000 makalah ilmiah tentang topik mulai dari restrukturisasi penggunaan bahan bakar fosil hingga rekomendasi kebijakan untuk mempromosikan kerja sama internasional.

Laporan IPCC, tidak hanya membawa kabar buruk, tetapi  juga menyampaikan beberapa kabar baik.

Kabar baik itu di antaranya, emisi gas rumah kaca berada pada level tertinggi antara 2010 hingga 2019. Namun, sejak itu, tingkat itu telah melambat secara signifikan.

Salah satu penyebab  berkurangnya GRK karena adanya  pandemi Covid-19. Pada saat itu emisi CO2 juga turun sementara di tahun 2020 lalu. Namun, sayangnya mulai kembali merangkak naik di paruh kedua tahun ini.

[irp]

Perlu teknologi dan kebijakan

Laporan itu bahkan mengimbau bahwa teknologi dan kebijakan utama yang diperlukan untuk menjaga pemanasan global agar tidak mencapai ketinggian baru sudah ada. Misalnya, tenaga surya dan angin adalah beberapa cara terbaik yang kita miliki untuk memerangi perubahan iklim.

“Sekarang ada lebih banyak pilihan dan lebih banyak cara bagi orang untuk terlibat dalam mitigasi perubahan iklim yang berada dalam ranah hemat biaya,” kata Sohngen.

“Sebagian alasan mengapa orang lebih optimis tentang laporan ini adalah karena kami benar-benar telah membuat kemajuan dalam pengurangan emisi melalui tindakan mitigasi,” tambahnya.

Satu-satunya masalah adalah mencari cara untuk mengimplementasikannya dengan lebih baik. Salah satu rintangan terbesar yang harus diatasi umat manusia bermuara pada pendanaan.

“Literatur ilmiah menunjukkan bahwa jika kita ingin tetap berada di bawah target 1,5 derajat, kita harus benar-benar meningkatkan pembiayaan,” ujar Sohngen.

[irp]

“Kami memperkirakan bahwa sekitar $50 hingga $250 miliar per tahun selama dekade berikutnya diperlukan untuk mencapai beberapa tujuan di sektor penggunaan lahan untuk mitigasi,” tegasnya.

Di persimpangan inilah, antara penggunaan lahan dan manusia. Menurut laporan tersebut menunjukkan “hubungan kuat antara pembangunan berkelanjutan, kerentanan, dan risiko iklim.”

Itu berarti meningkatkan upaya untuk menciptakan pembangunan berkelanjutan.  Menghapus kemiskinan ekstrem, dapat menjadi faktor besar dalam mengendalikan dan memantau kesehatan Bumi secara keseluruhan.

Sohngen mengatakan bahwa dia optimis tentang bagaimana publik akan menanggapi laporan tersebut.

“Tidak diragukan lagi ada beberapa pendekatan terhadap perubahan iklim. Dan itu tidak kita pikirkan sekarang,  yang diharapkan, generasi ilmuwan berikutnya akan memikirkannya di masa depan,” kata Sohngen.

“Saya pikir laporan ini adalah kesempatan bagi orang untuk belajar dan mengembangkan metode baru. Juga solusi yang lebih baik untuk krisis iklim,” tambahnya.

Dengan adanya laporan itu, semoga memberi semangat kepada para petani untuk tetap setia menggarap lahannya. Karena bukan hanya untuk diri mereka, tetapi juga untuk bumi ini.

[irp]

Sumber: newswise

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2