Nyadran Perdamaian 2020 dan Upaya Menjaga Tradisi Lintas Generasi

Publish by -122 kali dilihat
Penulis: Redaksi
Nyadran Perdamaian 2020 dan Upaya Menjaga Tradisi Lintas Generasi”-Foto/Ist

Klikhijau.com – Nyadran adalah sebuah tradisi menjaga kearifan lokal dengan yang kental dengan nuansa alam. Orang berbondong-bondong pergi ke sebuah makam di tengah-tengah dusun Krecek dan Gletuk desa Getas Kaloran Temanggung. Jalan berliku dan naik-turun tak membuat mereka surut dan lelah.

Dengan berjalan kaki dan memikul “Tenong”—tempat berbagai makanan dan jajanan yang khas—memompa semangat mereka untuk sampai pada tujuan. Tidak hanya laki-laki tapi juga perempuan. Tidak hanya orang dewasa tapi juga anak-anak.

Bahkan mereka yang berbeda agama sekalipun. Tumplek blek di area makam. Duduk berbaris di atas alas tikar dengan menghadap tenongnya masing-masing.  Itulah acara Nyadran yang sarat dengan nilai.

Tentang Nyadran

Nyadran merupakan kearifan lokal yang hampir ada di semua wilayah, khususnya di Jawa. Setiap tahun masyarakat Jawa melaksanakan tradisi Nyadran sebagai bentuk rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa atas segala karunia yang diberikan.

KLIK INI:  Lomba Baca Puisi Tema Lingkungan Antar SMA se-Sulawesi Selatan

Di sisi lain, Nyadran adalah sarana untuk mendo’akan para leluhur yang sudah mendahuluinya dan mengingat semua perjuangan yang telah dilakukan. Tidak hanya perjuangan fisik namun juga perjuangan spiritual saat melakoni hidup di desanya dengan masyarakat dan keluarganya.

Bagi anak cucunya, moment Nyadran sangat istimewa untuk memupuk relasi spiritual yang diekspresikan dalam berbagai aktifitas. Mereka tak pernah menghitung berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk acara tahunan ini, Yang terpenting adalah masih bisa mendoakan para leluhurnya dan dapat merekatkan keluarga dan sanak saudara.

Mengapa penting mengikuti Nyadaran? Ada banyak nilai yang dapat diambil dari tradisi Nyadran. Mulai dari persiapan hingga prosesi nyadran itu sendiri. Disitu tampak Guyup-rukun dan gotong royong diantara masyarakat yang mempunyai latarbelakang yang berbeda termasuk mereka yang berbeda agama karena di dusun tersebut ada Islam, Budha, dan Kejawen.

Dalam do’a-pun mereka secara bergantian dengan cara masing-masing sesuai dengan agama dan keyakinannya. Pemandangan keberagaman inilah yang mahal ditengah situasi masyarakat yang fanatik dan saling menyalahkan satu dengan yang lain.

KLIK INI:  Malam Ini, Earth Hour 2020 Dilakukan Secara Virtual di Tengah Pandemi Covid-19
Kegiatan dikemas ramah lingkungan

Untuk tetap menjaga tradisi Nyadran yang penuh dengan nilai-nilai luhur kepada generasi lintas zaman, maka nyadran di dusun Krecek berbeda dengan nyadran-nyadran lainnya. Panitia merancang kegiatan dengan apik dan ramah terhadap lingkungan.

Ada banyak rangkaian kegiatan yang telah dirancang selama tiga hari, mulai dari tanggal 11-13 Maret 2020. Salah satu kegiatannya adalah olah batin awas lan waspodo, belajar karawitan, tarian jaran Kepang, Jamasan merawat pusaka, belajar tata sesaji, dan pentas seni tradisional.

Kegiatan ini juga sebagai bentuk merawat tradisi dan nilai-nilai yang terkandung dalam berbagai kesenian yang bisa diambil dari peserta. Mengingat peserta Nyadran Perdamaian tidak hanya warga dusun Krecek, Getas Kaloran Temanggung namun juga tamu dari berbagai daerah di dalam negeri dan luar negeri.

Upaya kegiatan tersebut juga diharapkan mampu mempromosikan nilai-nilai kepada khalayak umum dan dapat menginspirasi mereka dalam merawat tradisi di masing-masing kampungnya.

Acara Nyadran Perdamaian 2020 banyak didukung oleh instansi Pemerintah dan lembaga swasta diantaranya Pemerintah Desa Getas, Bupati Temanggung, ICRP (Indonesian Conference on Religion and Peace), The Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia, Komunitas Wulangreh, Peace Leaders, Kampus Nelanda, Sekolah Perempuan Perdamaian, Cenas (Centre of Asian Studies), Budhazine dan masih banyak lagi.

Ayo ramaikan!

KLIK INI:  Akhir Pekan Ini, KP2K dan Klikhijau Kolaborasi “Memeluk Alam”
Editor: Anis Kurniawan

KLIK Pilihan!