Peringkat Ketiga Pengguna Pestisida Dunia, Indonesia Perlu Transformasi Sistem Pangan Berbasis Pertanian Organik

Klikhijau.com - Krisis iklim global yang kian nyata, masa depan sistem pangan Indonesia kini berada di persimpangan jalan. Pertanian konvensional yang mengandalkan asupan kimia sintetik terbukti telah...

Peringkat Ketiga Pengguna Pestisida Dunia, Indonesia Perlu Transformasi Sistem Pangan Berbasis Pertanian Organik
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Krisis iklim global yang kian nyata, masa depan sistem pangan Indonesia kini berada di persimpangan jalan. Pertanian konvensional yang mengandalkan asupan kimia sintetik terbukti telah melahirkan dampak ekologis yang destruktif. Menjawab tantangan tersebut, Klikhijau.com menggelar webinar bertajuk "Suara Aksi Volume II: Masa Depan Narasi dan Aksi Pertanian Organik di Indonesia" pada Selasa 7 Juli 2026.

Webinar yang dipandu oleh jurnalis Klikhijau, Arman Jaya, serta dibuka dengan sambutan pemantik (opening speech) dari Direktur Klikhijau.com, Anis Kurniawan, ini menghadirkan dua narasumber utama: Kapolsek Batang Polres Jeneponto, Iptu Purwanto, dan Direktur Aliansi Organis Indonesia (AOI), Sukmi Alkausar. Dalam paparan mendalamnya, Sukmi Alkausar, tokoh yang telah mendedikasikan dirinya dalam gerakan pertanian organik sejak tahun 2015, menyoroti pentingnya melakukan transformasi radikal pada sistem pangan nasional. Bagi pria lulusan Ilmu dan Industri Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 2012 yang kini tengah menempuh studi Magister Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan (NREMS) di IPB University ini, pertanian organik bukan lagi sekadar tren gaya hidup sehat atau komoditas premium, melainkan sebuah keharusan ekologis untuk menyelamatkan bumi.
Warisan Rumit Revolusi Hijau: Indonesia Posisi ke-3 Penggunaan Pestisida Dunia
Sukmi mengawali pemaparannya dengan menyuguhkan realita pahit mengenai dampak buruk pertanian konvensional modern. Mengutip data dari United Nations Environment Programme (UNEP), bumi saat ini tengah menghadapi triple planetary crisis (tiga krisis utama planet) yakni perubahan iklim, polusi, dan hilangnya keanekaragaman hayati (biodiversity loss). [irp] Sektor pertanian konvensional disebutkan menyumbang porsi besar dalam kerusakan ini. Berdasarkan data Our World in Data, sistem pangan global menyumbang sekitar 26% dari total emisi gas rumah kaca di seluruh dunia. Selain itu, sekitar 50% lahan layak huni di bumi digunakan untuk sektor pertanian, yang mengonsumsi hingga 70% dari total ekstraksi air tawar dunia, serta memicu 78% pencemaran air (eutrophication). "Model Revolusi Hijau konvensional telah meninggalkan warisan yang sangat rumit. Meskipun pada awalnya model ini berhasil meningkatkan angka produksi pangan secara masif, efek jangka panjangnya adalah kerusakan lingkungan yang parah dan kerentanan ekonomi bagi petani kecil yang merupakan tulang punggung sistem pangan kita," ungkap Sukmi lugas. Salah satu fakta paling mencengangkan yang dibeberkan Sukmi adalah posisi Indonesia dalam penggunaan pestisida global. Saat ini, Indonesia menempati peringkat ke-3 di dunia sebagai negara pengguna pestisida kimia tertinggi. "Ini adalah alarm keras. Penggunaan bahan kimia berlebih tidak hanya meracuni tanah, air, dan udara kita, tetapi juga menimbulkan risiko kesehatan fatal bagi petani serta konsumen yang memakan produknya," ia menambahkan. Ketergantungan pada pupuk dan pestisida kimia ini juga merusak agrobiodiversitas akibat sistem monokultur, sekaligus menjebak petani kecil dalam lingkaran utang yang tak berujung akibat tingginya biaya modal asupan kimia non-asli dari luar.
Menghindari Perang Istilah: Esensi Pertanian Organik
Menanggapi ramainya perdebatan akademis maupun praktis mengenai istilah-istilah lingkungan—mulai dari pertanian alami, natural, biologis, ekologis, ramah lingkungan, berkelanjutan, hingga pertanian regeneratif, Sukmi mengajak seluruh pihak untuk tidak terjebak dalam dikotomi bahasa. Ia mengutip refleksi mendalam dari tokoh gerakan pertanian organik Indonesia, Fr. Gregorius Utomo, Pr. (SPTN-HPS, Yogyakarta, 1990) dan Fr. Agatho Elsener, OFM Cap (Yayasan Bina Sarana Bhakti, Bogor, 1984), tempat di mana Sukmi pertama kali merintis kariernya sebagai fasilitator pendidikan organik. "Kita tidak perlu terjebak pada perang istilah. Yang paling penting adalah sejauh mana sistem pertanian tersebut benar-benar mampu memulihkan bumi dan memuliakan petani," tegas Sukmi, menirukan wejangan para perintis. Menurut perspektif filosofis AOI, kata "organis" berakar dari kata "organ" dan "organisme". Sifat hubungannya adalah saling melengkapi, mendukung, dan bersinergi harmonis (The Organic Way, All in Harmony). Pertanian organik harus diletakkan dalam segitiga keseimbangan yang kokoh:
  1. Ekologi: Menjaga kelestarian alam (tanah, air, udara, dan unsur kehidupan lainnya).
  2. Ekonomi: Memberikan nafkah, kesejahteraan, dan keberlanjutan usaha tani bagi manusia.
  3. Manusia: Mengubah sikap, tindakan, dan kesadaran spiritual dalam mengelola bumi.
"Pertanian organik adalah sistem usaha tani yang mendasarkan diri pada prinsip-prinsip alam. Tujuannya adalah menyediakan pangan sehat bagi kesejahteraan manusia tanpa merusak agroekosistem," papar mantan fasilitator Organic Development Center ini.
Petani Tidak Bisa Diminta Idealis Sendirian
Sebagai Direktur AOI, organisasi masyarakat sipil independen dan non-profit yang didirikan tahun 2002 dan kini menaungi 126 anggota di 19 provinsi (terdiri dari organisasi petani, LSM, akademisi, dan swasta), Sukmi sangat memahami realitas di lapangan. Salah satu hambatan terbesar lambatnya adopsi pertanian organik adalah timpangnya pembagian risiko ekonomi. [irp] Kutipan Sukmi yang paling membekas dalam webinar tersebut menekankan pentingnya empati sosial terhadap nasib petani kecil: "Petani tidak bisa diminta idealis sendirian ketika risiko ekonomi sepenuhnya ditanggung oleh petani." Selama ini, narasi pertanian organik sering kali menuntut petani untuk segera beralih demi kelestarian alam, namun mengabaikan risiko penurunan hasil panen pada masa transisi dan sulitnya akses pasar. Oleh karena itu, AOI melakukan reorientasi arah gerakan pertanian organik: dari sekadar komoditas eksklusif berorientasi ekspor (niche market dengan sertifikasi mahal) menuju transformasi sistem pangan yang inklusif. Dalam skema ini, fokus utama dialihkan pada pembangunan kesehatan tanah, kedaulatan pangan lokal, adaptasi perubahan iklim, pelestarian keanekaragaman hayati, kesehatan masyarakat, serta peningkatan ekonomi perdesaan secara riil. Salah satu instrumen yang diusung oleh AOI di bawah kepemimpinan Sukmi adalah penguatan Penjaminan Mutu Organik Indonesia (PAMOR) yang menerapkan sistem PGS (Participatory Guarantee Systems). Sistem penjaminan berbasis komunitas ini menjadi solusi sertifikasi yang murah, terpercaya, dan inklusif bagi petani kecil domestik yang tidak mampu menjangkau biaya sertifikasi pihak ketiga berstandar ekspor.
Membangun Ekosistem Kolaboratif untuk Masa Depan Pangan
Sukmi menegaskan bahwa jalan keluar dari krisis sistem pangan ini bukanlah merombak nilai organiknya, melainkan membangun ekosistem pendukungnya secara kolektif. "Yang perlu diubah bukan nilai organiknya, tetapi ekosistem pendukungnya. Pertanian masa depan harus beralih dari pendekatan eksklusif ke inklusif," ujarnya. Ia kemudian memetakan peran strategis lima pemangku kepentingan (pentahelix) yang harus bersinergi secara nyata:
  1. Pemerintah: Menyediakan fasilitas produksi, bantuan permodalan, serta regulasi dan kebijakan pro-organik, baik di tingkat pusat maupun daerah. (Sukmi sendiri saat ini aktif memfasilitasi sekretariat Asian Local Government for Organic Agriculture / ALGOA untuk wilayah Indonesia demi mempercepat kebijakan lokal).
  2. Akademisi: Mengembangkan inovasi teknologi tepat guna, melakukan riset terapan, serta mendorong regenerasi petani muda yang melek ekologi.
  3. Sektor Swasta: Membuka akses pasar yang adil (fair trade), memberikan skema kemitraan yang saling menguntungkan, serta dukungan finansial berkelanjutan.
  4. LSM/Organisasi Masyarakat Sipil (seperti AOI): Terus melakukan pendampingan teknis kepada petani, peningkatan kapasitas kelembagaan, serta advokasi kebijakan.
  5. Media Massa: Berperan vital dalam menyajikan data dan publikasi ilmiah yang mudah dicerna, mempromosikan produk organik lokal, serta mengedukasi konsumen mengenai gaya hidup sehat.
Menutup pemaparannya yang inspiratif, Sukmi Alkausar menyampaikan sebuah kalimat reflektif yang merangkum visi masa depan pertanian Indonesia. "Jika pertanian hari ini merusak tanah hanya demi memberi makan manusia, maka pertanian masa depan harus mampu memberi makan manusia sekaligus memulihkan bumi. Mari kita pegang teguh prinsip dari Romo Agatho: Be Organis, Not Egois jadilah organis, jangan egois terhadap alam," pungkas Sukmi disambut antusiasme para peserta webinar.