Pasokan Kayu Bitti Langka, Industri Kapal Pinisi Terancam

Klikhijau.com – Industri kayu di Sulawesi Selatan (Sulsel) benar-benar menjerit selama pandemi Covid-19. Pendapatan industri kayu merosot antara 30 sampai 70 persen di masa pandemi. Bahkan di Makas...

Pasokan Kayu Bitti Langka, Industri Kapal Pinisi Terancam
Bacakan Artikel

Industri phinisi terancam tinggal kenangan

Menurut peserta lokakarya JURnaL Celebes dengan industri, suatu ketika kemungkinan pinisi yang tersohor sebagai produksi kebudayaan Bugis tersebut kemungkinan hanya tinggal nama.

Setelah Kayu Bitti berkurang di Bulukumba, pembuat pinisi mendapatkan pasokan dari daerah lain  di Sulawesi Selatan.

Tetapi, ketika daerah lain di Sulsel juga kesulitan, pembuat perahu mendatangkan dari Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, hingga Maluku, Maluku Utara dan Papua. Tetapi ketergantungan ke daerah lain, tidak akan menjamin pasokan Kayu Bitti bisa berlanjut.

Sebagai produk kebudayaan dari peradaban bahari Bugis, JURnaL Celebes mengharapkan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan perlu memikirkan keberlanjutan perahu pinisi berbahan baku kayu.

‘’Jangan sampai suatu ketika, pinisi terpaksa dibuat dari fiber glass. Lalu apa perbedaannya dengan industri kapal fiber tersebar di seluruh dunia. Pinisi menjadi produk kultural bernilai tinggi, tersohor di dunia bahari, menjelajahi berbagai samudera, dengan teknologi tradisional berbasis kearifan lokal, sebelum kapal modern didukung teknologi canggih,’’ ungkap Mustam.

JURnaL Celebes mengharapkan Pemerintah Sulawesi Selatan mengambil langkah untuk keberlanjutan industri perahu pinisi. Industri pinisi tidak boleh tergantung pada ketersediaan Kayu Bitti di hutan alam yang akan habis.

Perlu upaya budidaya, tetapi tantangannya bukan hanya lahan atau teknologi budidaya, tetapi perkembangan kayu jenis ini yang membutuhkan waktu sekitar 30 hingga 40 tahun untuk mencapai ukuran dan kualitas terbaik untuk pembuatan pinisi.

JURnaL Celebes mengusulkan salah satu cara dengan mengembangkan program konservasi berbasis Kayu Bitti yang bermanfaat ganda, untuk keberlanjutan industri pinisi sekaligus berfungsi ekologis. Pengembangan melalui budidaya silvikultur untuk menjamin proses secara ekonomi dan ekologi.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2