Nama pada Masa Depan

Di Gelas Teh Mana Kita Minum Kelak   segelas teh menunggu di ruang tamu roti maros menanti kau cicipi ada aroma kampung halaman semalam puisi berceceran lalu berkumpul jadi cokelat pada...

Nama pada Masa Depan
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

lelah di matamu dan lirihnya doaku
jembatan kecil menuju detak jantung

di dada, rindu menggerus hingga ke tulang-tulang.
deras menggerimis.

ikan kecil terus saja berenang. antara arus dan celah batu.
dan kita memancing dengan kesungguhan

bau rumah sakit tak membuatmu lupa,
ada jembatan kecil tempat menyebrang hingga kampung halaman

waktu mulai menagih janji.
aku menyulam akar pelangi.
kau merenda gerimis, menanti-nanti..

Pinisi Bagi Negeri, 17 Agustus 2018

=====


Kamu di Kelak


 

kelak adalah kamu jadi dahandahan.
naungi jalan setapak menuju kampung halaman
tempat burungburung melatih cericit

kelak adalah kamu jadi alur cerita
pada lagulagu yang dinyanyikan perantau
dan orangorang kehilangan kenangannya di sebuah rumah tua

kelak adalah kamu
kamu adalah kelak
adalah kamu kelak

kelak adalah kamu dinamai pulang
bagi yang pergi mencari esok
yang bingung di persimpangan jalan

kelak adalah kamu bagi dahaga
setelah perjalanan jauh melewati sungai
dan jalan setapak menuju rumah

Rumah Kekasih, 25 Mei 2018

=======


Nama pada Masa Depan


 

bukubuku masih terbakar di halaman rumah, di bawah pohon mangga.
asapnya sampai kamar, perihkan mata.
gedunggedung diselubunginya.
tetangga batukbatuk

abu berhamburan di halaman, di bawah pohon mangga itu.
semalam hujan tiba.
segala akan tumbuh setelah hujan, selain cinta di hatimu.

api masih jilati bukubuku di halaman, di bawah pohon mangga itu.
matahari tiba pagi ini menagih pepuisi yang semalam lelap dalam hujan.

tetes hujan semalam tak padamkan api yang bacai buku-buku di halaman rumah,
di bawah pohon mangga itu, kekasih.

pagipagi aku bangun, di halaman rumah, di bawah pohon mangga itu,
segala yang bisa tumbuh akan tumbuh, selain cinta di hatimu.

aku telah membakar bukubuku di halaman rumah, di bawah pohon mangga itu, kekasih,
bukan satu, tapi tiga karung.

bukubuku itu tak menyimpan kisah kita, pun tak ada namamu.
apa pentingnya menyimpan barangbarang yang tak mengingatkan kenangan.

bukubuku terbakar di halaman rumah, di bawah pohon mangga itu.
semuanya akan tumbuh setelah semalam hujan turun dan tak padamkan api, selain cinta di hatimu.

aku masih menyiram banyak doa,
di atas abu bekas bukubuku yang telah terbakar di halaman rumah,
di bawah pohon mangga itu.
namamu tumbuh di sana dan aku bisa petiki hurufhurufnya untuk sebuah nama pada masa depan...

Rumah kekasih, 11 Mei 2018

=====

Yang Tak Matimati


 

hujan turun di Muntea, alirkan daundaun ke tempat tidur
dingin bacai tubuh
lebih ritmis dari lagu wajib di upacara hari senin di halaman sekolah
atau kantorkantor pemerintah, yang berpagar tinggi

seorang lelaki menekuk lututnya menyentuh dadak.
gemeratak giginya menggertak malam, mengusir pagi

muntea pagi hari adalah kabut, orangorang sibuk menghitung jumlah sayuran,
di sana ia menitip napasnya, dan masa depan di bangku sekolah

rerumputan kuyup, sayang,
rindu langit tiba menumbuhkan apa saja, juga cinta di hatimu

pada puisi lalu, hujan tak menumbuhkan cinta itu.
semalam hujan turun membawa sampahsampah di kepala.
lalu hujan reda di hatimu. cinta tumbuh, entah untuk siapa.
ia ingin itu untuknya, agar kamu tetap puisi, tak matimati.

Muntea, Bantaeng, 13 Mei 2018

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2