Menyatukan Semangat Pengelolaan Sumber Daya Air Berkelanjutan

Klikhijau.com - Air menjadi salah satu sumber kehidupan penting di bumi. Secara global, hampir 850 juta orang di seluruh dunia tidak memiliki akses air bersih. Angka ini diprediksi akan terus berta...

Menyatukan Semangat Pengelolaan Sumber Daya Air Berkelanjutan
Bacakan Artikel

Pembangunan waduk seakan hanya menambah masalah, padahal bencana banjir justru diakibatkan oleh perubahan keseimbangan ekologis, di antaranya ahli fungsi lahan yang dijadikan perkebunan gambir dan kelapa sawit di daerah aliran sungai.

Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat setempat juga menggunakan waduk PLTA Koto Panjang sebagai media keramba yang menggunakan zat nitrat, sehingga terjadi pencemaran dan pendangkalan waduk yang memengaruhi kualitas air.

"Masyarakat harus ikut terlibat dalam pola pertanian yang berkelanjutan. Harus ada sinkronisasi antar-lembaga seperti penerapan teknologi dan edukasi agar debit air terjaga, tentunya dengan peran multipihak," tegas Suwondo.

Kepedulian terhadap keberlanjutan sumber daya air juga datang dari sektor swasta yang bergerak dalam bidang industri keuangan, PT Bank HSBC Indonesia.

Salah satu komitmen HSBC Indonesia dalam upaya membangun bisnis jangka panjang adalah dengan adanya sustainability risk policies untuk memastikan kegiatan bisnis dan operasional dilakukan dengan memperhatikan aspek lingkungan, sosial dan ekonomi.

Nuni Sutyoko, Head of Corporate Sustainability HSBC Indonesia, menuturkan bahwa air memiliki peranan penting dalam menciptakan masyarakat yang sehat sehingga dapat membangun perekonomian nasional.

Sinergi pengelolaan sumber daya air

Oleh karena itu peran aktif dari seluruh lapisan masyarakat termasuk dari pelaku bisnis dari berbagai sektor sangat penting dalam memastikan pengelolaan sumber daya air.

Pada 2012, HSBC sendiri telah memulai program global "HSBC Water Program" bersama dengan lebih dari 50 LSM di seluruh udnia dalam rangka penanganan isu air, edukasi, dan riset ilmiah.

Di Indonesia, HSBC menggandeng Yayasan WWF Indonesia untuk menjaga kelestarian air dengan program konservasi air, di antaranya yang berlokasi di Rimbang Riau dan Koto Panjang Sumatera Barat.

Semangat untuk mengkampanyekan gerakan hemat air pernah diinisiasi oleh Nana Firman, dari Yayasan Greenfaith berbasis di Amerika Serikat, yang menggunakan pendekatan unik untuk menyampaikan pesan tentang pentingnya air pada masyarakat.

Salah satu tantangan yang pernah Nana lakukan dengan mempraktekkan "Eco-wudu", yaitu wudu ramah lingkungan sesuai sunah. "Bagaimana berwudhu dengan 500ml air. Sebotol kecil air dan lebih dekat dengan sunah," jelasnya.

Semangat menjaga keberlanjutan sumber air, khususnya sungai-sungai di Indonesia, juga lahir dari gerakan yang digaungkan oleh anak muda pendiri "Sungai Watch" dan Yayasan "Make A Change World", Gary Benchegib.

Setelah aksinya membersihkan sungai Citarum viral pada 2017 lalu, Gary masih tetap konsisten untuk melakukan upaya-upaya pembersihan sampah di sungai.

Saat ini, Gary bersama timnya sedang mengembangkan inovasi penggunaan trash barrier atau trash block untuk ditempatkan pada daerah aliran sungai, yang berfungsi menyaring sampah-sampah sebelum akhirnya bermuara ke laut. Sampah yang dikumpulkan kemudian dipisahkan dan didaur ulang menurut jenisnya.

"80% sampah di laut datangnya dari sungai, kita harus mengubah perspektif kita mengenai darimana sampah plastik di laut berasal. Kita harus mulai dari sungai," pungkas Gary.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2