Menyatukan Pandangan Pemuda dalam Menawarkan Berbagai Solusi Krisis Iklim

Klikhijau.com – Perspektif atau pandangan pemuda cukup beragam dan autentik. Hal inilah yang ditangkap oleh Institut Hijau Indonesia. Terutama dalam mendorong pelibatan anak muda dalam merespons dan m...

Menyatukan Pandangan Pemuda dalam Menawarkan Berbagai Solusi Krisis Iklim
Bacakan Artikel

Sementara itu, Laksmi Dhemawanthi menekankan persoalan perubahan iklim bukanlah persoalan biasa, sehingga butuh generasi muda yang luar biasa.

“Generasi muda sebagai calon pemimpin masa depan perlu melakukan penguatan agar memiliki keberpihakan pada perlindungan dan pelestarian lingkungan hidup. Generasi muda menjadi salah satu aktor dan berperan aktif menekan Gas Rumah Kaca,” terang Laksmi.

Laksmi menjelaskan, kenapa harus generasi muda? Karena generasi muda saat ini akan menjadi generasi penerus, yang kini memiliki akses lebih terhadap pendidikan, tumbuh di era teknologi dan media.

Syekhoh Sulthonah dari  Institut Hijau Indonesia mengungkapkan bahwa dampak terbesar dari terjadinya perubahan iklim menurut  akan sangat berimbas kepada perempuan dan anak-anak.

“Salah satu contohnya adalah sanitasi, ketika perempuan mengalami haid tentu akan sangat membutuhkan air bersih. Lalu, anak-anak yang dunianya ialah bermain dan terkadang kotor juga sangat perlu air bersih. Anak-anak yang lebih rentan dibanding orang dewasa terkena penyakit, makanya mereka sangat membutuhkan air bersih,” ungkapnya.

Menyorot masalah  sampah

Irma Yanti, salah satu peserta kegiatan tersebut mengerucutkan pembahasan lingkungan pada topik sampah. Sampah adalah isu yang terjadi dari tapak hingga menjadi perbincangan global.

Menurutnya, dalam membicarakan sampah tentu semua telah memahaminya dan menyadarinya sebagai sesuatu yang perlu ditangani secara bersama.

“Tidak perlu jauh-jauhlah ke Bantar Gebang, di TPA kita saja di Makassar yang di Antang sudah penuh, tidak perlu menunggu tahun 2050, beberapa tahun ke depan saja kita sudah bingung sampah-sampah kita mau dikemanakan,” terang Head Program Green Fluencer Indonesia itu.

“Dalam mengatasi sampah mungkin ada baiknya jika kita petakan menjadi sampah organik dan sampah anorganik,” lanjutnya

Lebih jauh, Irma mengatakan di Indonesia ketika kita ngomongin sampah, mayoritas orang pasti langsung mikirnya sampah plastik, bagaimana cara mengatasi sampah plastik? Makanya pemerintah gencar membuat bank sampah. Tapi apakah itu cukup? Tentu tidak.

“Kita perlu peran pemerintah dalam membuat regulasi terkait pemilahan sampah dan sistem pengelolaan sampah lanjutan yang tentunya tidak hanya regulasi, tapi juga difasilitasi dan diawasi, Dengan upaya ini, permasalahan tentang sampah anorganik sangat possible untuk diatasi,” tegasnya.

Selain itu, menurutnya dengan data dominasi sampah organic perlu menjadi titik focus. Sampah jenis ini acap kali dianggap enteng dengan alibi bisa dikomposkan. Meski dalam perjalanannya sampah organik belum terkelola secara maksimal.

“Pengelolaan sampah organic perlu menggunakan teknologi bio konversi maggot, yang memiliki kemampuan besar mereduksi sampah organik dalam waktu singkat dan pada porsi yang cukup besar,” sarannya.

Pada acara tersebut, berbagai isu dibahas secara terpisah dengan pengelompokan. Dari 20 kelompok masing-masing membahas topik berbeda, diantaranya Lingkungan hidup, sosial, pangan, air, dan energi, teknologi, ekonomi, Pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA), hukum dan HAM, tata kelola pemerintahan, dan politik.

Topik tersebut dikaji dan dipresentasikan dalam keterkaitannya dengan misi penyelamatan lingkungan.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2