Menilik Peran Perempuan dalam Pengelolaan Sampah di Kota Makassar

Klikhijau.com – Perempuan memiliki peran penting dalam penanganan sampah. Bagaimana peran perempuan sejauh ini? Sampah selalu menjadi masalah dari masa ke masa. Faktanya, timbunan sampah di Indones...

Menilik Peran Perempuan dalam Pengelolaan Sampah di Kota Makassar
Bacakan Artikel
Yusrawati

Mahasiswa Magang Klikhijau dari Prodi Sosiologi UNM

Dari fakta yang ada menandakan mayoritas sampah berasal dari sektor rumah tangga/domestik. Titik permasalahannya adalah seringkali dalam pengelolaan sampah jenis sampah organik dan anorganik tidak dipisah terlebih dahulu.

Inilah yang begitu menyulitkan saat proses pemilahan ketika sampai di TPA. Hal ini diungkapkan oleh Makmur Payabo, aktivis persampahan di Makassar.

“Yang menjadi kendala kami mengelola sampah adalah ketika sampah plastik yang akan kami kumpulkan bercampur dengan sampah organik dari rumah tangga, baunya sudah busuk, agak susah dipisahkan untuk ditimbang,” ungkap makmur.

Inspirasi dan Peran Ibu Rumah Tangga

Menyikapi fakta dimana ternyata sebagian besar sampah berasal dari ranah domestik/rumah tangga, maka seharusnya penangannya dimulai dari sana pula. Ibu rumah tangga dalam hal ini memiliki kendali utama dalam management keluarga.

Ainun Qalbi Muthmaninnah seorang aktivis zerowaste mengungkapkan pentingnya peran ibu ibu dalam penanganan sampah.

“Ibu rumah tangga itu memiliki peran yang penting dalam mengelolah sampah. Mengapa? Karena faktanya sampah rumah tangga kan penyumbang terbesar ke TPA, maka harusnya semua dimulai dari yang mengelola, yaitu ibu rumah tangga,” ujar wanita yang kerap disapa Ainun itu.

Hal yang sama dikatakan Mazhud azikin, selaku Ketua Komunitas Manggala Tanpa sekat. Menurutnya, harus di perhatikan agar sampah tidak sampai ke TPA Tamangapa. Menurutnya, ibu rumah tangga sebagai aktor yang bergerak di dapur sangat memiliki posisi strategis dalam mengelola sampah.

“Ada banyak jalan untuk mengolah sampah bagi ibu rumah tangga seperti yang sedang dirintis komunitas kami yaitu melalui pembuatan eco enzyme,” ungkapnya.

Paparan mengenai peranan ibu rumah tangga dalam mengelola  sampah ini bukanlah sekedar cuap cuap saja. Pasalnya, penulis sudah menemui beberapa ibu rumah tangga inspiratif yang sudah membuktikan.

Mereka tak hanya mampu menjadi inspirasi, menyelamatkan bumi namun juga mampu membantu suami memenuhi kebutuhan ekonomi lewat sampah yang seringkali di anggap menganggu.

Ibu Windy salah satunya. Ibu rumah tangga sekaligus pegiat sampah tersebut sudah menjalani perannya itu mulai dari tahun 2018 Dirinya menyebut bahwa ia memang suka kebersihan, sampai ia di percaya menjadi penanggung jawab bank sampah di panakukang.

“Saya orangnya memang suka kebersihan, saya juga aktif mengikuti pelatihan untuk tahu apa saja potensi sampah. Saya bersyukur selain mengolah plastik, kini saya juga merintis budidaya maggot, dan itu sangat jelas membantu perekonomian,” paparnya.

Cerita inspiratif lain datang dari ibu Atma seorang pensiunan yang akhirnya menjadi penanggung jawab bank sampah Kemuning di BTN Minasa Upa. Kini Ibu Atma sendiri memiliki nasabah sekitar 100 orang. Berbekal ketekunan akhirnya ibu atma sudah bisa menambung untuk naik haji.

“Dalam satu bulan saya bisa dapat 1-2 juta tergantung kalau cepat dipilah banyak didapat. Kalau setahun bisa mencapai RP. 16.431.000,” ungkapnya.

“Alhamdulillah, saat ini saya sudah bisa beli emas batangan 40 gram, memberbaiki rumah, sampai sudah mulai menabung untuk umroh dan haji,” ucapnya penuh syukur.

Tantangan penanganan sampah

Menyimak kisah kisah inspiratif di atas memberikan titik terang bahwa ibu rumah tangga mempunya potensi strategis dalam menangani sampah. Namun faktanya menurut Ibu Windy, masih sedikit ibu-ibu yang mau mengolah dan memanfaatkan sampahnya sendiri.

“Sejauh ini saya melihat masih sedikit ibu ibu yang mau mengolah sampahnya, mereka ada yang masih gengsi,acuh tak acuh dan adapun juga karena memang belum di edukasi saja,” katanya.

Jika dilihat dari perspektif sosiologi, Bahrul Amsal, S.sos, M.Pd mengungkapkan bahwa fenomena ini merupakan bentuk mindset yang masih memandang bahwa urusan sampah adalah pekerjaan rendahan.

“Ini soal mindset. Dalam konteks yang lebih luas urusan sampah menjadi bagian pekerjaan rendahan yang sudah ditugaskan kepada petugas sampah atau kebersihan. Ini yang menjadi sebab setiap orang tidak ingin terlibat jauh dalam pengelolaannya,” ucapnya.

Hal ini terjadi karena biasanya yang mengurus sampah adalah petugas kebersihan, pemulung atau petugas sampah.

Jadi, 0rang-orang cenderung menghindari keterlibatan dirinya dalam mengelola, karena melihat status orang yang mengelola sampah rendahan sehingga hal tersebut akan memengaruhi pula cara orang lain memandangnya.

Taufik Djabbar, ST., MT., mengatakan ibu rumah tangga tidak mau mengelola sampahnya karena masyarakat masih menganggap sampah itu tidak ada nilainya.

“Masyarakat utamanya ibu ibu masih menggunakan cara pandang lama bahwa sampah itu bau, kotor, sumber penyakit dan tidak menganggap bahwa justru sampah itu justru bernilai ekonomis," katanya.

Sementara itu, seorang ibu rumah tangga di Makassar bernama Hawaisah (41) menyebut  ia tak mengelola sampah karena menganggap urusan sampah sudah jadi tugas pertugas kebersihan serta dirinya juga tak tahu menahu perihal  pemanfaatan sampah.

“Saya kira urusan sampah serahkan saja sama petugasnya,” ungkapnya.

“Begitu ya.. kalau untuk sampah plastik saya tau sih kalau ada bank sampah, tapi untuk pengolahan sampah organik ini saya baru tahu kalau ternyata bisa diolah juga,” lanjutnya.

Founder Manggala Tanpa Sekat Mazhud Azikin mengungkap bahwa dari awal memang harus ada pembekalan pengetahuan pada ibu rumah tangga tentang tata cara mengolah sampah.

“Harus ada edukasi bagaimana memilah sampah dari rumah. Mengapa masalah sampah ini tidak pernah selesai karena tidak ada pemilahan. Jalan yang bisa dilakukan contohnya adalah eco enzyme,” tandasnya.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2