Menggugat Ekosida di Indonesia, Mengapa Perempuan Jadi Korban Paling Rentan Sekaligus Penyelamat Bumi?

Klikhijau.com - Istilah "bencana alam" kini dinilai tak lagi cukup untuk menggambarkan hancurnya ekosistem di Indonesia. Komisi Nasional (Komnas) Perempuan secara tegas menyebutkan bahwa situasi saa...

Menggugat Ekosida di Indonesia, Mengapa Perempuan Jadi Korban Paling Rentan Sekaligus Penyelamat Bumi?
Bacakan Artikel

Pendekatan partisipasi bermakna yang mencakup akses informasi yang setara, representasi yang adil, dan penguatan kepemimpinan perempuan harus menjadi pilar utama. Tanpa adanya perlindungan terhadap perempuan dan peninjauan ulang terhadap praktik ekstraktif, keadilan ekologis di Indonesia hanya akan menjadi jargon tanpa makna di tengah kepungan krisis iklim yang kian nyata.

Proyek Strategis Nasional Penyumbang Kerusakan

Catatan dari berbagai organisasi masyarakat sipil, termasuk WALHI dan Yayasan Pusaka, menunjukkan bahwa percepatan PSN sering kali menjadi pintu masuk bagi penghancuran ekosistem yang tak terpulihkan.

Di Merauke, misalnya, proyek lumbung pangan dan energi telah melahap lebih dari 19.000 hektar hutan adat hanya dalam kurun waktu satu tahun hingga Agustus 2025, memicu pelepasan emisi gas rumah kaca yang masif sekaligus memutus relasi spiritual masyarakat adat dengan tanahnya.

Fenomena serupa juga terlihat pada konflik di Pulau Rempang hingga proyek-proyek ekstraktif di wilayah timur Indonesia, di mana kemudahan izin dan ambisi infrastruktur justru berujung pada krisis keadilan ekologis.

Proyek-proyek ini sering kali dijalankan tanpa konsultasi yang bermakna bagi warga terdampak, yang pada akhirnya menempatkan negara dalam risiko melakukan "etnosida" dan "ekosida" sekaligus demi pertumbuhan ekonomi yang tidak inklusif.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2