Menelusuri Jejak Kelelawar Endemik Sulawesi yang Kharismatik di TN Babul

Klikhijau.com - Awal November 2021, saya menjelajah hutan perawan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul). Mengunjugi wilayah kerja Resor Balocci. Resor adalah unit tata kelola terkecil tama...

Menelusuri Jejak Kelelawar Endemik Sulawesi yang Kharismatik di TN Babul
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Awal November 2021, saya menjelajah hutan perawan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul). Mengunjugi wilayah kerja Resor Balocci. Resor adalah unit tata kelola terkecil taman nasional. Mengarungi hutan yang berada di Kampung Kaliberang, Kelurahan Balocci Baru, Balocci, Pangkep.

Mencari sosok misterius mamalia pemangsa: musang sulawesi, menjadi tujuan utama. Menurut warga Kaliberang, sang musang kadang mengunjungi sadapan nira mereka. Bertandang kala kemarau tiba. Meminum nira dan memakan buah aren.

Pencarian jejaknya pun, mengantarkan saya bersama tim, menjelajah hutan yang begitu lebat di sana. Hutan primer yang berada di ketinggian sekitar 600 m dpl.

Saat menjejakkan kaki di lantai hutan, ada beberapa satwa yang kami temui. Mulai dari kupu-kupu aneka warna, burung-burung dengan senandung merdunya hingga seekor kelelawar.

Pertemuan dengan  burung raja udang sulawesi (Ceyx fallax) dan kelelawar-lah begitu berkesan. Apalagi dengan panniki', nama lokal untuk kelelawar, begitu membekas. Mengapa? Karena biasanya saya menjumpai kelelawar di dalam gua atau di pohon besar dengan jumlah tak sedikit.

Tapi pertemuan dengan kelelawar yang belakangan saya tahu nama latinnya adalah Styloctenium wallacei ini, sedikit berbeda. Bertemunya hanya seekor saja. Itu pun bukan di gua dan pohon besar. Hanya di pohon tingkat tiang. Tempat bertenggernya hanya berkisar empat meter dari permukaan tanah.

Kala itu, saat melintas di bawah rimbun pepohonan, sang kelelawar menampakkan diri. Boleh jadi merasa terganggu. Kemudian ia terbang berpindah tempat. Dari sanalah, seorang kolega melihatnya. "Ada burung sakit," teriak Rely Krisbiantoro, Polisi Kehutanan taman nasional. Menganggapnya burung sakit karena gaya terbangnya yang kurang lincah.

Ia kemudian memanggil saya. Menunjukkan posisi kelelawar untuk dipotret. Maklum hari itu, saya menenteng kamera.

"Itu Mas, di pohon mahoni," sembari Rely menunjukkan arahnya. Saya pun dengan sigap membidiknya. Memotretnya dari beberapa sisi. Ia tak bergeming. Tidak terganggu. Wah, saya begitu senang mengabadikannya. Saya pun mengamatinya dengan seksama.

Ukurannya cukup besar. Berwarna coklat dengan variasi garis putih di wajahnya. Tak seperti warna kelelawar pada umumnya: coklat dan hitam, tanpa variasi warna.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2