Kolaborasi Dapat Membantu Tingkatkan Keanekaragaman Hayati

Klikhijau.com - Profesor Johannes Knops belum lama ini mengungkapkan, hilangnya keanekaragaman hayati adalah salah satu tantangan lingkungan terbesar kita di dunia. Mungkin lebih penting daripada peru...

Kolaborasi Dapat Membantu Tingkatkan Keanekaragaman Hayati
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Profesor Johannes Knops belum lama ini mengungkapkan, hilangnya keanekaragaman hayati adalah salah satu tantangan lingkungan terbesar kita di dunia. Mungkin lebih penting daripada perubahan iklim.

Menurutnya permasalahan perubahan iklim dapat diperbaiki dengan menghentikan emisi lebih banyak karbon dioksida ke atmosfer. Namun, jika kita kehilangan suatu spesies, itu akan hilang selamanya.

“Hilangnya keanekaragaman hayati terjadi di banyak tempat yang berbeda. Dan ada kesenjangan dalam pemahaman kita bersama tentang hal itu. Kolaborasi ini dapat membantu kami mencapai konsensus tentang di mana melakukan upaya untuk meningkatkan keanekaragaman hayati, ”kata Profesor Knops sperti dikutip dari Earth.

Prof Knops sendiri merupakan seorang peneliti di  Xi'an Jiaotong-Liverpool University. Belum lama ini ia terlibat menulis studi global utama tentang hilangnya keanekaragaman hayati.

Studi tersebut diikuti oleh lebih dari 60 ahli dan hasilnya diterbitkan dalam jurnal  Frontiers in Ecology and the Environment.

Hasil dari studi itu mengungkapkan bahwa lebih banyak spesies terancam punah daripada yang diperkirakan sebelumnya. Sebanyak 50% spesies telah terancam punah atau didorong kepunahan sejak tahun 1500, menurut hasil survei.

Data itu mereka dapatkan  pada survei baru terhadap 3.331 ilmuwan, mereka mempelajari keanekaragaman hayati di 187 negara.

Faktor yang paling berpengaruh

Faktor paling berpengaruh yang mendorong hilangnya keanekaragaman hayati, menurut para ahli, adalah perubahan iklim, polusi, dan perubahan dan eksploitasi penggunaan lahan dan laut.

Studi tersebut dilakukan untuk membantu mengisi kesenjangan informasi tentang keanekaragaman hayati di seluruh dunia. Hasilnya mengejutkan karena mereka menerima 3.331 tanggapan dari para ilmuwan yang berfokus pada semua spesies, habitat, dan ekosistem utama di Bumi.

Meski begitu, menurut Forest Isbell , penulis utama dan profesor di College of Biological Sciences di Universitas Minnesota mengatakan, para ahli juga mengakui ketidakpastian substansial seputar perkiraan mereka, dengan mungkin hanya 16% atau sebanyak 50% spesies terancam atau punah selama ini.

“Sambil mempertimbangkan jenis spesies dan ekosistem yang paling mereka ketahui. Para ahli memperkirakan bahwa sekitar 30% spesies telah terancam atau punah secara global sejak tahun 1500,” katanya.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2