Jalan Terjal Nan Berliku Pelepasliaran Satwa Liar ke Alam Bebas

Klikhijau.com – Pelepasliaran satwa liar kembali ke habitatnya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Rintangan dan jalan berliku lagi terjal menghantui, karena itu kolaborasi multi-pihak menjadi p...

Jalan Terjal Nan Berliku Pelepasliaran Satwa Liar ke Alam Bebas
Bacakan Artikel

Klikhijau.com – Pelepasliaran satwa liar kembali ke habitatnya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Rintangan dan jalan berliku lagi terjal menghantui, karena itu kolaborasi multi-pihak menjadi pintu masuk untuk meretas jalan agar satwa dapat menari di alam bebas.

Diskursus tentang hal itu berkembang dalam sebuah Webinar yang digelar Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sulawesi Selatan, Jumat 29 Mei 2020.

Webinar kali ini berlangsung menarik, tidak hanya karena dihadiri sekitar 1000 peserta (dari berbagai kalangan)—narasumber yang hadir juga mewakili multi-peran antara lain akademisi, peneliti, media, praktisi satwa dan pihak dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH) KLHK, Drh. Indra Exploitasia, M.Sc hadir sebagai pembicara utama bersama Kepala BBKSDA Sulsel, Ir. Thomas Nifinluri. M. Sc.

Pembicara lainnya antara lain Prof. Dr. Ir Ngakan Putu Oka, M.Sc (Guru besar Unhas, Kepala Balai Gakkum Wilayah Sulawesi, Dodi Kurniawan, S.Pt, MH, dan Drh. Zulfikar Basrul, M.Sc (Dosen Fakultas Kedokteran Hewan Unhas).

Hadir pula Praktisi konservasi dari Komunitas Sahabat Penyu, Yusri Mampie, Idris (Gowa Discovery Park), Dr. Ikeu Sri Rejeki, SSi., M.Sc (analis data dan kebijakan DIT KKH), dan Anis Kurniawan (Direktur Klikhijau).

Digelar dalam satu momen penting memperingati Hari Keanekaragaman Hayati (Kehatai) Internasional 2020 yang bertema “Our solution are in nature”. BBKSDA Sulsel mengambil tema “Meretas Jalan Satwa Liar Kembali ke Alam dimasa Pandemi Covid-19”—satu tema solutif yang mencoba menarik benang merah dari kompleksnya masalah satwa dan bagaimana pula kita bertindak untuk tetap menjaga satwa di masa pandemi.

Ancaman kepunahan satwa

Thomas Nifinluri dalam pembahasannya, mengatakan Webinar ini memberi pesan kuat arti pentingnya kelestarian kehati pada masyarakat, keluarga dan lingkungan dengan nilai-nilai untuk menjaga, merawat dan melestarikan kehati (Satwa).

Menurut Thomas, Indonesia sebagai negara mega biodiversity memiliki kekayaan sekitar 17% kehati di dunia yang terdiri 13% Mamalia,14 % Reptil, 17% Burung, 10000 jenis Pohon. Namun, ancaman kepunahan terus mengintai.

Bisa dibayangkan, ada sebanyak 300.000 jenis satwa liar yang terancam punah dengan rincian 184 jenis mamalia, 119 jenis burung, 32 jenis reptil, dan 32 jenis ampibi. Sedang jumlah total spesies satwa Indonesia yang terancam punah dengan kategori kritis (critically endangered) ada 69 spesies. Kategori endangered 197 spesies dan kategori rentan (vulnerable) 539 jenis (IUCN, 2013).

Penyebab terjadinya keterancaman kelestarian satwa liar di Indonesia bervariasi seperti deforestasi dan degradasi hutan, perburuan dan perdagangan satwa liar, serta konflik satwa dan manusia. Sejauh ini, Thomas mengakui betapa pelepasliaran satwa liar penuh liku dan rintangan.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2