Hanya 10 Ribu Rupiah, Warga Katimbang Merdeka Menikmati Listrik

Klikhijau.com – Ada kebutuhan yang tak bisa terhindarkan saat ini, yakni listrik. Ketika saya mengunjungi Senggaang, kampung paling ujung barat di Bulukumba. Saya melewati satu kampung yang bernama Ka...

Hanya 10 Ribu Rupiah, Warga Katimbang Merdeka Menikmati Listrik
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

“Hanya ada uang pembukaan,” lanjutnya.

Uang pembukaan itu berjumlah satu juta rupiah per rumah. Itu dibayar ketika pertama akan mengambil listrik untuk biaya mesin, kabel, dan instalasi.

Ramah yang tak lekang waktu

Ada ciri khas dari warga Katimbang yang mayoritas petani, yakni keramahannya yang tak lekang oleh waktu.

Setiap ada warga yang melihat kami, mereka akan berteriak memanggil kami singgah. Sayangnya tak semua panggilan itu bisa kami penuhi.

Kami (saya, ayah dan saudaranya) hanya mampir di tiga rumah saja. Dan semua rumah yang kami singgahi menyuguhkan air minum. Dua menyuguhkan kopi dan satu menyuguhkan air putih.

Bahkan di rumah terakhir yang kami singgahi dengan suka rela memberi makan. Bukankah itu suatu tanda keramahan yang patut dilestarikan? Hmmm.

Pada rumah ketiga itu, pemandangan yang sama juga tersaji. Bohlam lampu di selasar rumah dan ruang tamu tidak dipadamkan

Apa yang dikatakan Ramli memang terbukti. Bahkan di masjid Katimbang yang berdinding seng pun lampu tetap menyala, padahal saat itu sedang sedang siang.

“Saya kadang matikanji,” ungkap Risna, yang rumahnya menjadi rumah ketiga yang kami singgahi.

Sebanyak apa pun warga Katimbang memakai listrik. Pembayarannya tetaplah sama, yakni sepuluh ribu rupiah perbulan.

Hal itu pula yang menjadikan masyarakat Katimang  leluasa kalau tidak ingin dikatakan  boros menggunakan sumber daya listrik.

“Hanya saja tidak boleh memakai kulkas,” terang Risna. Tapi rice cooker dan televise bisaji,” tambahnya

Sementara itu, Kammisi yang merupakan warga Katimbang, namun lebih banyak menghabiskan waktunya di Kendari mengaku jika listrik Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) itu belum terlalu lama, masih dikisaran empat tahun lalu.

“Sepertinya baru berjalan empat tahun, di kisaran tahun 2016. Karena saat itu saya belum ke Kendari. Saya masih sempat membawa pasir ke lokasi pembangunan PLTA,” jelasnya.

Mayoritas petani

Kammisi memang saat ini menjadi perantau di Kendari, pulang sesekali saja. Di sana, pekerjaan yang dilakoni tetap sama, yakni bertani. Bedanya di Kendari ia menanam cengkih.

Di Katimbang, sebenarnya Kammisi juga cengkih dan  kopi yang menjadi komoditi yang banyak dibudidayakan di kampung yang berbatasan dengan Senggaang itu.

Masyarakat Katimbang menggunakan bahasa Konjo. Perihal bahasa ini masih jadi perdebatan, sebab ada yang berpendapat Konjo hanyalah dialek yang masuk ke bahasa Makasssar, yakni bahasa Makassar berdialek Konjo. Namun banyak pula yang  menganggap bahasa Konjo adalah bahasa yang berdiri sendiri—lepas dari bahasa Makassar.

Oya, jalanan menuju  Katimbang belum beraspal, tapi sudah bisa dilalui kendaraan, termasuk kendaraan roda empat.

Ketika saya berkunjung pada hari Minggu lalu, saya lebih memilih berjalan kaki. Katimbang adalah kampung yang tidak terlalu ramai.

Rumah yang berada di sana kurang lebih dari 20 rumah saja yang di dominasi rumah panggung yang terbuat dari kayu.

Ada satu yang patut ditiru dari masyarakat Katimbang, yakni bisa memanfaatkan potensi sumber daya alam dengan baik.

 Masyarakat bisa menjadikan Katimbang sebagai contoh, yang hidup mandiri menggunakan listrik dengan cara membangun PLTA. Listrik yang  sangat ramah lingkungan dan murah meriah—  yang dari masyarakata untuk masyarakat.

Saat ini warga Katimbang telah merdeka menggunakan listrik sepuasnya, kecuali kulkas, sebab warga Katimbang  bisa damai tanpa kulkas, sebab hawanya cukup dingin.

Selamat merdeka menggunakan listrik tanpa tergantung pada PLN, wahai warga Katimbang.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2