Dosen Universitas Pertamina Perkenalkan Pirolisis Sampah Plastik di Makassar

Klikhijau.com – Nona Merry M. Mitan, seorang Dosen dan peneliti dari Program Studi Ilmu Kimia Universitas Pertamina perkenalkan sistem pirolisis sampah plastik pada para pegiat lingkungan di Makassar,...

Dosen Universitas Pertamina Perkenalkan Pirolisis Sampah Plastik di Makassar
Bacakan Artikel

Klikhijau.com – Nona Merry M. Mitan, seorang Dosen dan peneliti dari Program Studi Ilmu Kimia Universitas Pertamina perkenalkan sistem pirolisis sampah plastik pada para pegiat lingkungan di Makassar, Jumat (6/01/2023).

Merry memperkenalkan bagaimana pirolisis dapat dipakai untuk mengelola sampah plastik. Dari proses pengolahan ini, kemudian dihasilkan bahan bakar sekaliber bensin yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif.

Apa itu pirolisis?

“Piro artinya api dan lisis berarti peruraian. Jadi, pirolisis bisa disimpulkan sebagai peruraian plastik secara termal tanpa oksigen. Dari proses ini kemudian menghasilkan produk antara lain gas, cairan hingga residu berupa karbon atau tar (aspal),” kata Merry.

Dengan kata lain, pirolisis adalah suatu proses dekomposisi suatu bahan pada suhu tinggi yang prosesnya tanpa oksigen atau dengan udara sangat terbatas. Proses ini kerap pula dinamai devolatilisasi.

“Proses pembakaran ini menggunakan alat tertentu dan berlangsung dengan suhu maksimal selama 4-7 jam. Untuk melakukan pembakaran ini dibutuhkan energi listrik sekitar 3500 W,” katanya.

Merry menambahkan, sebetulnya ada opsi alternatif untuk energi pembakaran yakni dengan menggunakan gas. Untuk sekali proses pembakaran, setidaknya diperlukan sekira setengah tabung gas.

“Memang sejauh ini belum ada hitungan ekonominya yang kami lakukan. Misalnya, berapa beban biaya listrik atau gas yang dipakai dengan produk yang dihasilkan,” katanya.

Ketua Komunitas Manggala Tanpa Sekat (MTS) mengapresiasi skema pirolisis ini untuk dikembangkan dan diperkenalkan ke masyarakat.

“Menurut saya ini sangat baik, sebagai satu opsi penanganan sampah di masyarakat. Hal penting saat ini adalah bagaimana kita saling support dan berkolaborasi karena orang-orang yang bergelut dan konsisten di bidang persampahan tidak banyak,” katanya.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2