Dari Cerita Rakyat ke Halaman Bergambar: Komik yang Menjaga Ingatan Maros Pangkep

Klikhijau.com - Di sebuah sore hangat di Makassar, Jumat, 5 September 2025, Cafe Agung yang biasanya dipenuhi pengunjung dengan secangkir kopi dan obrolan santai, kali ini terasa berbeda. Suasana penu...

Dari Cerita Rakyat ke Halaman Bergambar: Komik yang Menjaga Ingatan Maros Pangkep
Bacakan Artikel

“Kami mengerjakan proyek ini sekitar satu tahun, dan melibatkan banyak pihak termasuk budayawan. Tantangannya, tentu karena dalam menuliskan cerita ini, tetap harus mempertahankan keaslian dari cerita ini,” kata Alena dengan nada serius, seolah masih merasakan beratnya beban itu.

Ia tak bekerja sendirian. Daniel Becker dari Invisible Ink Studio Australia ikut menyumbang ilustrasi yang penuh ekspresi. Bersama-sama, mereka mencoba meramu cerita lokal Sulawesi Selatan agar tetap memikat, tanpa kehilangan ruhnya.

Komik sebagai Jembatan

Sejak awal, Dedy Irfan Bachri percaya bahwa komik adalah medium yang tepat. Ia tahu anak-anak lebih akrab dengan layar ponsel dan gambar bergerak ketimbang duduk mendengar dongeng panjang dari orang tua.

“Sekarang kami sudah bagikan kurang lebih 500 eksemplar di Kabupaten Maros dan Pangkep, dan kita target 1.000 eksemplar. Karena ini adalah hibah dengan keterbatasan, maka kita berharap nanti bisa disupport oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Maros dan Pangkep, dan Dinas Perpustakaan Provinsi Sulsel untuk memperbanyak ini,” jelasnya.

Di ruang peluncuran, beberapa guru dan mahasiswa tampak memegang komik itu, membuka halaman demi halaman. Wajah mereka berbinar, seakan menemukan cara baru untuk memahami budaya mereka sendiri.

Lebih dari Sekadar Buku

Komik ini hadir dalam berbagai format: cetak, digital, dan barcode yang bisa diakses siapa saja. Namun yang lebih penting dari bentuknya adalah jiwanya.

Di balik warna-warni ilustrasi, ada upaya untuk menjaga agar cerita rakyat tidak hilang ditelan waktu. Ada niat untuk mempertemukan generasi muda dengan leluhur mereka melalui medium yang lebih dekat dengan keseharian mereka.

Bagi masyarakat Maros Pangkep, mungkin ini baru langkah kecil. Tapi langkah kecil inilah yang suatu hari bisa membawa cerita Toakala, Bissu, dan Raja Lipan ke ruang-ruang kelas di Australia, ke perpustakaan di kota-kota besar, bahkan ke hati pembaca yang sebelumnya tak pernah mengenal Sulawesi Selatan.

Dan pada sore itu, di sebuah kafe sederhana, halaman-halaman komik seakan berbisik: bahwa warisan budaya tak akan hilang selama ada yang mau menuliskannya kembali, menggambarnya kembali, dan menyampaikannya kembali.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2