Cerita dari Kampung Apung dan Lingkungannya yang Mencemaskan

Klikhijau.com - Bukan sebuah rahasia lagi jika keberadaan Indonesia sebagai Negara kepulauan terbesar di dunia. Ada 17.504 pulau yang masuk dalam kawasan kedaulatan Negara. Di Sulawesi Tenggara ter...

Cerita dari Kampung Apung dan Lingkungannya yang Mencemaskan
Bacakan Artikel

Salah satunya ialah kurangnya atau bahkan tidak adanya sanitasi lingkungan di sana. Dari 265 rumah tangga yang ada hanya sebagian kecil yang memiliki sanitasi lingkungan.

Ada beberapa masalah yang ada di sana yang berkaitan dengan lingkungan. Seperti tidak adanya toilet di hampir semua rumah warga. Umumnya masyarakatnya membuang kotoran tinja dan air seni langsung ke laut.

Hal ini sangat membahayakan kesehatan masyarakatnya. Pasalnya hampir setiap hari anak kecil dan orang dewasa disana mandi air laut jika air laut dalam keadaan pasang. Ini sangat berbahaya dan sangat mengancam kesehatan mereka.

Ada beberapa bahaya yang ditimbulkan akibat aktivitas dan kebiasaan yang buruk ini. Seperti artikel yang dipublis oleh Kompas 31 Mei 2012 menyebutkan bahaya yang dapat diakibatkan antara lain:

Mikroba

Tinja manusia mengandung puluhan miliar mikroba, termasuk bakteri koli-tinja. Sebagian diantaranya tergolong sebagai mikroba patogen, seperti bakteri Salmonela typhi penyebab demam tifus, bakteri Vibrio cholerae penyebab kolera, virus penyebab hepatitis A, dan virus penyebab polio.
Materi Organik

Kotoran manusia (tinja) merupakan sisi dan ampas makanan yang tidak tercerna. Ia dapat berbentuk karbohidrat, dapat pula protein, enzim, lemak, mikroba dan sel-sel mati.

Satu liter tinja mengandung materi organik yang setara dengan 200-300 mg BODS (kandungan bahan organik).

Telur Cacing

Seseorang yang cacingan akan mengeluarkan tinja yang mengandung telur-telur cacing. Beragam cacing dapat dijumpai di perut kita. Sebut saja, cacing cambuk, cacing gelang, cacing tambang, dan keremi.

Satu gram tinja berisi ribuan telur cacing yang siap berkembang biak di perut orang lain. Anak cacingan adalah kejadian yang biasa di Indonesia.

Penyakit ini kebanyakan diakibatkan cacing cambuk dan cacing gelang. Prevalensinya bisa mencapai 70 persen dari balita.

Nutrien

Umumnya merupakan senyawa nitrogen (N) dan senyawa fosfor (P) yang dibawa sisa-sisa protein dan sel-sel mati. Nitrogen keluar dalam bentuk senyawa amonium, sedangkan fosfor dalam bentuk fosfat.

Satu liter tinja manusia mengandung amonium sekitar 25 gram dan fosfat seberat 30 mg. Senyawa nutrien memacu pertumbuhan ganggang (algae). Akibatnya, warna air menjadi hijau. Ganggang menghabiskan oksigen dalam air sehingga ikan dan hewan lainnya mati.

Di sisi lain, tidak ada tempat penampungan sampah di setiap rumah. Sehingga masyarakat sesuka hati membuang sampah dan kotoran rumah tangga ke laut. Akibatnya kejahatan terhadap lingkungan tidak terhindarkan.

Memang secara tidak langsung sampah-sampah yang mereka buang tidak mengganggu lingkungan sekitar mereka. Sebab jika kondisi air laut pasang sampah-sampah tersebut ikut terbawa arus air laut.

Dan ini menjadi masalah bagi daerah lain sebab kawasan sekitar pantai akan dipenuhi sampah yang dibawah oleh air laut.

Ini penyebabnya

Ada beberapa faktor penyebab dari semua aktivitas yang memprihatinkan di Pulau Bangko ini. Pertama, rendahnya kesadaran masyarakat setempat dalam hal hidup sehat.

Hal ini disebabkan karena minimnya pemahaman dan rendahnya kualitas pendidikan disana sehingga aktivitas ini terus berulang sampai saat ini.

Memang secara statistik, jumlah murid sekolah dasar (SD) dan sekolah menegah pertama (SMP) pulau Bangko menempati urutan kedua dari semua desa yang ada. Dengan jumlah 297 siswa SD dan 77 SMP, (BPS, Muna Barat 2018).

Namun dari jumlah yang ada, sangat sedikit pula yang melanjutkan ke jenjang SMA dan Universitas. Kedua, tidak adanya penyuluhan dan arahan dari pemerintah desa, kecamatan, kabupaten dan seterusnya.

Sehingga masyarakat tidak pernah mengetahui dan memahami pentingnya hidup dan menjaga lingkungan.

Ketiga, tidak adanya sarana dan prasarana yang disediakan oleh pemerintah. Sehingga asumsi mereka bahwasanya laut adalah tempat sampah dan kotoran.

Keempat, masyarakat bersikap apatis terhadap keadaan dan lingkungan mereka. Mereka tidak pernah memikirkan bahaya dari tindakan mereka.

Yang ada dalam benak mereka ialah terpenuhinya kebutuhan mereka, makan, melaut sehingga urusan lingkungan bukan tanggung jawab mereka.

Terlebih lagi ketersediaan air bersih di wilayah ini juga sangat terbatas. Permasalahan ini menjadi salah satu faktor yang sering melanda mereka semenjak keberadaan mereka di pulau tersebut.

Mereka harus naik ke daratan untuk memenuhi kebutuhan mereka akan air bersih dengan membawa sejumlah wadah untuk penampungan air bersih.

Hal ini lakukan dengan rentan waktu satu atau dua kali dalam satu minggu untuk mengambil air. Sehingga tidak jarang dari mereka harus mandi menggunakan air asin sebab keterbatasannya air tawar.

Dari semua permasalahan yang ada ini, seharusnya pemerintah turun tangan mengatasi permasalahan yang ada. Mereka memiliki kewajiban yang besar untuk membina masyarakat Pulau Bangko.

Artinya kontribusi pemerintah sangat berperan besar dengan menghadirkan sarana dan prasarana pendukung untuk menjawab masalah-masalah tersebut.

Selebihnya, tentu kembali pada perilaku warga tentang kebersihan lingkungan.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2