CARE International Latih Anak Kampanye Sanitasi Melalui Tulisan

[hijau]Lima puluh orang anak berkumpul belajar sanitasi[/hijau] Klikhijau.com - Ada banyak cara melakukan kampanye untuk membangun kepedulian tentang sanitasi. Bisa dengan puisi, cerita, juga poste...

CARE International Latih Anak Kampanye Sanitasi Melalui Tulisan
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

[hijau]Lima puluh orang anak berkumpul belajar sanitasi[/hijau]

Klikhijau.com - Ada banyak cara melakukan kampanye untuk membangun kepedulian tentang sanitasi. Bisa dengan puisi, cerita, juga poster. Itulah yang dilakukan CARE International Indonesia, melalui Workshop Penulisan Cerita, Puisi, Poster, yang melibatkan lebih dari 50 anak dari 18 sekolah dasar di Kota Makaasar.

Workshop diadakan setengah hari, di SD Inpres Pai 2, Sudiang, Makassar, 30 Juli 2019. Trainer workshop terdiri dari Madia Gaddafi (menulis cerita), Rusdin Tompo (menulis puisi), dan Melina Jauw (membuat poster).

Berani tuangkan gagasan

"Di Kelas Menulis Cerita, saya kasih judul materinya "Menulis dengan Gembira"," kata Madia Gaddafi, yang dikenal sebagai penulis cerita anak dan pendongeng.

Madia menggunakan pendekatan itu untuk memotivasi anak agar berani menuangkan gagasan mereka. Karena menurutnya, anak-anak dituntut sudah bisa menghasilkan 1 cerita dalam waktu 2 jam. Teknik menulis sambil bersenang-senang itu rupanya cukup berhasil.

"Awalnya anak-anak kaku, diam, bingung mau menulis apa. Jadi saya kasih tahapan. Materi dulu sedikit. Lalu senam jari, biar kuat. Kemudian menulis cepat 15 menit. Minimal selesai 1 paragraf," demikian Madia berbagi tips mengajarkan menulis untuk anak-anak SD.

Madia menjelaskan, butuh strategi dan metode agar anak-anak tidak terkena syndrom writer block. Ia bukan hanya mengajak anak-anak ngobrol dan makan kudapan yang disediakan panitia, bahkan 18 anak di kelas menulis cerita itu diajak jalan ke kelas puisi dan poster.

"Kalau di Jepang itu namanya jalan-jalan Gingko. Pulang jalan, ganggu kelas orang, eeeeh nuliiiiis terus pake gas poool," kisah Madia bersemangat.

Di kelas puisi yang didampingi Rusdin Tompo, aktivis anak sekaligus penulis buku, tak kalah semangatnya. Anak-anak terkesan memahami apa yang menjadi tema besar workshop. Mereka bisa menyebut dengan baik bahwa sanitasi itu berkaitan dengan kebersihan, sampah, jajanan sehat, mencuci tangan, BAB tidak boleh sembarangan, kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dan segala hal yang berkaitan pola hidup bersih dan sehat.

Karya-karya puisi anak-anak juga berkisar tentang sanitasi. Tema lingkungan aktual termasuk yang mereka tulis, seperti isu sampah plastik dan pembabatan hutan. Mereka tak hanya menulis satu puisi tiap peserta, tapi mampu membuat 3-4 puisi bebas.

Membaca karya sendiri

Sebagai bentuk apresiasi, setiap anak kemudian diminta membacakan sendiri karyanya. Di akhir workshop, setiap peserta diberi tumbler sebagai cinderamata sekaligus bagian dari pembiasaan anak tidak minum melalui botol plastik sekali pakai.

Muhammad Idhan dari CARE International Indonesia mengatakan, semula kegiatan ini mau dikemas dalam bentuk lomba tapi dirasakan kurang pas. Kegiatan dalam bentuk workshop dilakukan untuk meningkatkan pemahaman anak-anak, sekaligus keterampilan teknis mereka dalam membuat cerita, puisi dan poster.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2