Barelle Cippo-Cippo

Hati sepasang suami istri itu selalu saja banjir—tak pernah ingin surut. Meski di permukiman warga, banjir telah lama tiada, telah pergi. Sudah lima tahun lamanya mereka menjadi penghuni baru kampu...

Barelle Cippo-Cippo
Bacakan Artikel

Isinya masih setengah penuh, yang kemudian dia hamburkan begitu saja di lantai papan rumahnya. Ia menyuruh anak tertuanya mengambil pisau, sedangkan anak bungsunya mengambil baskom. Kemudian dengan lincah tangannya mulai memisahkan biji jagung dengan tongkolnya.

Lalu bunyi speaker penanda waktu magrib  tiba juga di telinga.

-----

Saat aku hendak memutuskan mengambil air wudhu, tanpa sengaja mataku melihat dengan jelas ia sedang menangis.  Tapi jemarinya tetap bekerja. Air matanya bahkan menetes ke pupil jagung di tangannya.

Entah penasaran akan kejadian selanjutnya atau mungkin dorongan rasa kasihan, aku terpaku di tempat. Meneruskan memerhatikannya dari jauh. Perlahan isaknya mulai muncul, hingga nampak jelas bahunya terguncang begitu hebat.

-----

Aku berkali-kali mengecek temperatur suhu di layar hape, sambil sesekali menyeka biji keringat yang membanjir. Kubuka baju, dan kini hanya menyisa celana bola saja.

Sudah lima bulan belakang ini, suhu udara di sini terlalu panas. Apalagi jika jarum jam sudah menunjukkan angka satu atau dua siang.

Panasnya terasa memanggang. Kena sinar matahari sedikit saja kepala mendadak pening.

Padahal awal-awal kedatanganku di sini, pada siang hari pun harus mengenakan jaket karena hawa yang begitu dingin.

Namun, setelah terjadi pengerukan dan penebangan pohon pinggir sungai serta pelebaran jalan, terasa perubahan yang begitu drastis.

Dulu hujan seminggu tak berhenti baru mengakibatkan banjir. Sekarang hujan sehari semalam besoknya sudah banjir.

“Semakin ke sini semakin jelas bahwa sebenarnya tangan-tangan manusia jualah yang berperan penting dalam kepunahan ekosistem di muka bumi ini,” gumamku sambil menatap sisa hamparan jagung yang di sapu banjir beberapa waktu lalu.

Pandanganku bisa merentang jauh—sejauh mata memandang karena tak ada lagi pepohonan yang menghalanginginya. Tatapanku juga jatuh padanya, aku ingin melihat matanya, mencari sisa tangisnya semalam. Tapi tak berhasil.

Dan sejak pepohonan itu ditiadakan, banjir mulai acap bertamu di kampung kami. Seperti setahun ini, banjir bertandang dua kali. Kali pertama di bulan Agustus, kali kedua di bulan Desember.

Namun, banjir di mata sepasang suami istri yang terkenal sangat akur itu tak kenal musim dan menetap. Bahkan banjir pun meluap hingga ke mata anak-anak mereka.

----

Suatu sore, dari rumah mereka kudengar suara ribut. Anak-anak mereka bertengkar cukup keras. Ibunya dengan sabar melerai. Sedangkan ayahnya memilih untuk memukul si sulung dan juga istrinya yang tak terima anaknya dipukuli. Itu kejadian yang kesekian kalinya.

Lalu mertuanya, yang maaf kuceritakan paling terakhir karena tak terlalu penting dalam kisah ini—ikut menimpali. Ia menyalahkan didikan menantunya, menekan begitu kuat mentalnya dengan ujaran-ujaran kebencian. Menyalahkan kemiskinan yang tak kunjung pergi dari mereka karena kesialan menantunya itu.

Mungkin memang ia setype dengan mertua-mertua yang sering muncul di film-film. Merasa tersaingi dengan menantu sendiri. Tak jarang kudengar ia mengghibahi menantunya sendiri jika kebetulan ada acara kumpul-kumpul tetangga, menantu yang di mataku tak terdapat cela sedikit pun. Ah, sayang sekali, ia bahkan salah memilih mertua.

----

Pagi belum begitu ranum ketika suara gedoran pintu terdengar di kamar tidurku. Aku bergegas membuka pintu, sudah kutebak pasti siapa yang bertamu sepagi itu. Sambil membayangkan buah apalagi yang akan disodorkannya tepat di depan pintu tanpa berani masuk untuk sekadar duduk di ruang tamuku. Barangkali nangka, atau bisa jadi semangka.

Tetapi alangkah terkejutnya aku ketika membuka pintu.

Suaminya tanpa ba-bi-bu melayangkan tinjunya ke wajahku, mengucapkan sumpah serapah seperti orang kesurupan setan dan mengancamku untuk menjauhi istrinya, yang kukakugumi senyum bijaksananya itu.

Kuraih parang yang bertahun-tahun hanya menjadi pajangan di ruang tamuku. Dengan sekali sabetan, kuputuskan kedua belah tangannya. Tangan yang senantiasa menyiksa istri dan anak-anaknya.

Aku sebenarnya ingin menamatkan hidupnya saat itu juga. Namun, kuurungkan saat istrinya berlari keluar dari rumahnya, memohon dengan suara khasnya yang lembut untuk mengampuninya. Kali ini tak ada senyuman seperti sebelumnya. Sebab laki-laki yang sangat ingin kuhabisi nyawanya itu telah membuatnya kehilangan gigi. Tak ubahnya barelle cippo-cippo yang pernah ia berikan padaku.

Ah, andai saja aku membunuh suaminya, atau seumpama saja ia memilih bercerai saja, aku bahkan tak akan menolak  jika disuruh menikahinya.

Aku mencintai dia? Entahlah. Yang kutahu pasti, banjir kini bukan hanya datang dua kali setahun di pekarangan rumahku maupun pekarangan rumahnya, kebunku ataupun kebunnya, tapi banjir menetap di mata suami istri itu, di mata anak-anak mereka dan juga mataku. ***

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2