6 Tempat Bersejarah Saat ke Hutan Melalui Jalur Tassika di Bulukumba

Klikhijau.com - Hutan yang ada di Bulukumba, khususnya yang berada di Kecamatan Kindang berada di atas gunung. Jika ingin ke sana, bersiaplah untuk mendaki. Karena berada di atas gunung, maka masya...

6 Tempat Bersejarah Saat ke Hutan Melalui Jalur Tassika di Bulukumba
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Sahabat hijau hanya perlu mendaki dengan jarak tidak terlalu jauh sebelum bertemu dengan tanah lapang.  Tanah lapang itu dikenal dengan nama Lembanna Cengkeng.

Lembang adalah tanah datar atau lapang. Pengabadian nama Cengkeng pada tempat tersebut karena Cengkenglah yang pernah menggarap tanah itu untuk ditanami jagung.

Cengkeng menjadi orang pertama dan terakhir yang menggarapnya. Namun, kapan pertama dan terakhir digarap oleh Cengkeng, tidak ada yang tahu pasti, tidak ada catatan tahun yang mengabadikannya. Namun, tanah lapang itu telah abadi menjadi Lembanna Cengkeng (tanah lapang kepunyaan cengkeng)



  • Lembanna Ceddeng



Selepas dari Lembanna Cengkeng, sahabat kembali akan menemukan jalan mendaki. Selepas pendakian yang seolah ingin merampas semua napas itu, akan terhampar pula tanah lapang dengan pepohonan menjulang tinggi dan tetumbuhan lain yang tumbuh mengagumkan.

Hamparan tanah datar atau lapang itu akan memulihkan lutut yang ngilu dan mengembalikan napas yang keropos. Tanah lapang itu namanya Lembanna Ceddeng (tanah lapang milik Ceddeng).

"Dulu saat tempo gerilya, Ceddeng silariang ‘kawin lari’. Dia lari ke sini dan tinggal di sini sambil menanam jagung," jelas Puang Mili saat kami istirahat di Lembanna Ceddeng.



  • Lianna Summang



Liang atau gua yang dinamai Lianna Summang terlalu berlebihan jika dikatakan gua. Namun begitulah kenyataannya. Masyarakat terlanjur melekatkan nama Summang pada "gua" tersebut.

Gua itu adalah sebuah batu besar yang condong ke depan seperti kanopi. Panjangnya kurang lebih semeter. Bagian bawahnya ketika hujan, dapat digunakan untuk bernaung bagi satu atau dua orang saja.

Di tempat itulah, Summang pernah bermalam. Bermalam yang tidak disengaja. Saat pulang dari mengambil rotan, dia kemalaman. Summang tidak membawa alat penerang, baik senter ataupun obor.

Summang tidak bisa lagi melihat jalan jika harus melanjutkan perjalanan, maka dia memutuskan bermalam dalam cekungan batu besar itu. Menunggu pagi datang.  Sejak saat itu, tempat bermalamnya dinamai Lianna Summang.



  • Kaloro Rakkoa



Entah apa nama tempat ini, tidak ada keterangan khusus. Jadi, saya lebih suka menamainya kaloro rakkoa (sungai yang kering) karena saat kami menyusurinya, hanya terdapat beberapa titik genangan air saja.

Sementara batu yang terdapat pada sungai kering itu telah lumutan. Sepertinya sungai tersebut baru akan terisi air saat hujan melebat.



  • Lumu'a



Bagian lain yang menarik adalah lumut. Ada satu lokasi yang ditumbuhi lumut dengan sangat tebal menyerupai kasur. nama tempatnya terkadang dinamai lumu'a. Artinya lumut.

Namun, karena kemarau baru saja berlalu, area lumut itu tidak banyak ditumbuhi lumut saat saya berkunjung.



  • Parang-parang



Lokasi ini adalah akhir dari jelajah hutan kami. Di tempat ini, tanah yang tidak ditumbuhi pohon tidak terlalu luas. Namun, dulu tidak ada pohon besar yang tumbuh. Jadi, dulu saat berada di Parang-parang penglihatan akan terhampar luas tanpa halangan pohon-pohon besar.

Dari tempat ini,  saat cuaca tidak mendung, sahabat hijau bisa leluasa melihat Kabupaten Sinjai dan Bulukumba

Jika perjalanan tetap dilanjutkan, tempat bersejarah dan penuh cerita lainnya akan ditemukan, misalnya Bonto Bintoeng hingga Pasar Anjayya (arwah). Dan tentu saja sahabat hijau akan menemukan Gunung Lompobattang dan Gunung Bawakaraeng.

Menarik bukan, berkunjunglah..!!!

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2