5 Fakta dan Data Perihal Badai Polusi Plastik Sekali Pakai yang Mencengankan!

Klikhijau.com -  Badai polusi plastik seperti musim barat yang meluluhlantah pemukiman. Dalam dua puluh tahun terakhir penggunaan plastik global khususnya yang sekali pakai terus meningkat tajam. Bumi...

5 Fakta dan Data Perihal Badai Polusi Plastik Sekali Pakai yang Mencengankan!
Bacakan Artikel

Wajar saja, jika manusia di bumi semakin cemas dengan ancaman polusi plastik yang kini menghantui bumi. Plastik yang merajalela bahkan menjelma sebagai mikroplastik dan mengancam kesehatan makhluk khususnya manusia.


  • Tindakan Daur Ulang Plastik Hanya Sekira 9 Persen


Jadi, dari 8 miliar ton plastik yang diproduksi itu, rupanya hanya sekira 9 persen saja yang didaur ulang. Angka yang terbilang sangat kecil.

Pertanyaannya, kemana plastik-plastik lainnya, terutama plastik sekali pakai? Tentulah mencemari lingkungan. Jika dibakar, plastik-plastik tersebut mencemari udara. Jika terbuang akan mendehem di lautan dan mencemari biota laut.

Data ini menunjukkan betapa pentingnya terus mendorong upaya daur ulang plastik. Setidaknya berupaya mengurangi timbulan plastik di bumi.

Skala produksi plastik secara global mengalami peningkatan drastic melebihi kapasitas manusia dalam mengolahnya. Barangkali daur ulang bahkan sudah tak cukup untuk mengatasi limbah plastik.

Pemicunya adalah material plastik terbilang kompleks. Plastik dibuat dari ragam jenis polimer yang butuh proses daur ulang bervariasi. Penyortiran jadi rumit dan mahal, prosesnya tidak efisien dan aksi daur ulang sulit meningkat.

Namun, sekali lagi upaya kecil melalui praktik daur ulang perlu terus ditumbuhkan di masyarakat demi mengurangi beban sampah plastik.


  • Data Sampah Plastik


Jadi, sekira 79 persen sampah plastik yang tidak didaur ulang itu rupanya berakhir di Tempat Pembuangan Akhir. Sisanya ada 12 persen terlepas di udara melalui pembakaran.

Lihatlah di keseharian kita, pembatasan kresek di swalayan misalnya tak cukup mengurangi plastik sekali pakai. Bukankah kemasan plastik di item belanjaan kita jauh lebih banyak dari satu kresek?


  • Sengkarut Perdagangan Plastik Global


Perdagangan plastik global menunjukkan suatu indikasi buruk. Bayangkan, negara kaya sangat akrab mengekspor sampah plastiknya ke negara-negara berkembang, khususnya negara dengan regulasi lemah.

Di negara tujuan, sampah kiriman itu hanya dipilah asal-asalan, dibuang juga dibakar. Di Indonesia, sampah ekspor itu berkubang di Jawa Timur. Badai plastik di sana kian merajalela. Upaya pembersihan sampah, tampaknya tidak selaju arus masuk perdagangan sampah plastik.


  • Menutup Kran Produksi


Jika mengamati beberapa poin sebelumnya, sejatinya produksi plastik bisa diselesaikan dengan menutup kran produksinya. Apakah ini bisa dilakukan?

Menghentikan dari hulunya adalah jalan terbaik dengan catatan upaya ini seiring dengan pembatasan pemakaian plastik baru.

Bayangkan saja, emisi plastik dapat mencapai 19 persen dari anggaran karbon global pada 2040. Karena iru, perlu menggeser paradigma “produksi-pakai-buang” dengan model sirkular ekonomi.

Pengurangan produksi tentu dimaksudkan untuk melindungi kesehatan dan mengurangi ketidakadilan. Poinnya adalah kita semua punya peran strategis untuk mengurangi penggunaan plastik menuju model konsumsi berkelanjutan.

Sumber: aliasizerowaste.id

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2