Polusi Udara dan Kualitas Tidur yang Terampas
Klikhijau.com - Sejak Amir pindah ke kota. Tidurnya tak pernah lelap. Ia selalu gelisah. Kualitas tidurnya terampas. Awalnya ia menyalahkan nyamuk yang ganas mengisap darahnya. Namun, saat berhasil...
Klikhijau.com - Sejak Amir pindah ke kota. Tidurnya tak pernah lelap. Ia selalu gelisah. Kualitas tidurnya terampas. Awalnya ia menyalahkan nyamuk yang ganas mengisap darahnya.
Namun, saat berhasil mengatasi gangguan nyamuk. Tidurnya juga tak membaik. Saat beraktivitas di siang hari, tubuhnya melunglai.
Seperti malam ini, kantuk telah mengepungnya dari segala arah. Tapi, ia tak bisa tidur. Iseng ia membuka situs The Guardian. Lalu ditemukannya satu artikel yang membahas jika polusi udara dapat memengaruhi kualitas tidur kita.
Hal itu diungkapkan oleh Dr. Junxin Li, dari Sekolah Keperawatan Universitas Johns Hopkins, yang memimpin tinjauan. Pada tinjauan bukti internasional Li menemukan ada keterkaitan antara polusi udara dan kualitas tidur.
[irp]
“Selama bertahun-tahun, tim kami telah mempelajari kualitas tidur pada lansia yang tinggal di wilayah Baltimore. Kualitas udara luar ruangan dapat berubah di setiap blok, dan di beberapa tempat tinggal, kami melihat asap knalpot dari lalu lintas di sekitar. Hal ini membawa kami pada pertanyaan sederhana namun kritis, mungkinkah udara yang dihirup lansia di dalam ruangan – serta di luar pintu depan mereka – memengaruhi kualitas tidur mereka?” ungkapnya.
Fakta tersebut ditemukan tim Li berkat penelusurannya pada studi dari seluruh dunia. Mereka berfokus pada orang-orang berusia di atas 45 tahun, mereka menemukan 25 studi berkualitas tinggi sejak 2015. Studi-studi ini mengamati 1,2 juta orang di enam negara, termasuk Tiongkok, India, AS, dan Jerman.
[irp]
"Sinyalnya lebih kuat dan lebih luas dari yang kami perkirakan. Dalam puluhan penelitian, paparan jangka panjang terhadap polutan luar ruangan seperti polusi partikel, nitrogen dioksida, dan bahkan karbon dioksida dikaitkan dengan tidur yang lebih pendek atau berkualitas rendah," tambah Li.
Beberapa penelitian mengukur tidur dengan perangkat yang dikenakan di pergelangan tangan, sementara yang lain menggunakan wawancara. Mereka mengamati perubahan jangka pendek dalam polusi udara serta dampak paparan polusi udara selama bertahun-tahun.
Sembilan studi memiliki pendekatan serupa, yang memungkinkan Li dan timnya menggabungkan data untuk menciptakan satu metastudi baru. Hasil ini dapat digunakan untuk memprediksi beban masalah tidur akibat polusi dan manfaat dari tindakan udara bersih di lokasi lain.
[irp]
“Kita dapat menyimpulkan bahwa mengurangi polusi partikel rata-rata (PM2.5) hingga setengahnya – dari tingkat yang biasa ditemukan di sepanjang jalan raya London yang sibuk hingga sesuai pedoman Organisasi Kesehatan Dunia – dapat mengurangi kemungkinan kurang tidur pada orang dewasa paruh baya dan lebih tua sekitar satu dari 10,” urainya.