Pohon Pinus, Tanaman Pionir yang Kontroversi

Klikhijau.com – Pohon pinus tidak hanya tumbuh meneduhkan. Di banyak tempat telah disulap menjadi tempat wisata. Kayunya yang menjulang tinggi bisa menahan laju sinar matahari untuk sampai ke permu...

Pohon Pinus, Tanaman Pionir yang  Kontroversi
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Klikhijau.com – Pohon pinus tidak hanya tumbuh meneduhkan. Di banyak tempat telah disulap menjadi tempat wisata.

Kayunya yang menjulang tinggi bisa menahan laju sinar matahari untuk sampai ke permukaan tanah. Karena itulah, pohon pinus yang tumbuh banyak pada suatu area. Kemudian berubah jadi hutan pinus yang kerap menjadi pilihan untuk berkemah atau berwisata.

Saat ini di Sulawsei Selatan, sedang menggeliat destinasi wisata hutan pinus, sebut saja Hutan Pinus Malino, Gowa, Hutan Pinus Rombeng,  Bantaeng, hingga Hutan Pinus Bissoloro, Gowa.

Sebenarnya pohon ini telah lama ditanam di berbagai tempat di Indonesia sebagai tanaman reboisasi. Ia merupakan  tanaman pionir yang dapat tumbuh di berbagai kondisi dan produk utamanya sebagai penghasil getah.

Bahkan di pulau Jawa, hutan pinus yang telah banyak dikembangkan  sejak zaman pemerintahan kolonial Belanda.

Menimbulkan kontroversi

Hanya saja, perkembangannya tidak berjalan baik. Sebab banyak masyarakat yang menentangnya. Pohon ini dianggap sebagai pohon yang ‘rakus’ akan air. Karenanya  kontroversi di masyarakat perihal pohon ini terus saja membiak. Itu karena ada dua pendapat yang berkembang.

Pendapat pertama, seperti yang disinggung di atas, yakni ada yang  mengangap pinus sebagai penyababkan kekeringan di musim kemarau, karena pinus mengonsumsi banyak air.

Sementara pendapat kedua mengatakan pinus dapat menyimpan air di musim penghujan dan mengalirkannya di musim kemarau.

Kedua pendapat itu masing-masing ada benarnya. Suatu hari ketika saya berkunjung ke Desa Bontosalama, Sinjai. Masyarakat di sana banyak yang mengeluhkan adanya pohon pinus karena menjadi salah satu penyebab kekeringan.

Oleh karena itu,  penelitian yang dilakukan oleh Yonky Indrajaya dan Wuri Handayani 2018 lalu—yang mengutip pendapat Pujiharta (2008) menyarankan  agar pinus ditanam pada daerah dengan   curah hujan di atas 3.000 mm/tahun.

Melalui cara tersebut masyarakat tidak perlu khawatirkan akan terjadi kekeringan atau kehilangan ketersediaan air tanah pada musim kemarau akibat konsumsi air yang tinggi oleh pinus.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2