Cerita Seekor Lumba-Lumba Air Tawar yang Kembali Berenang Riang di Sungai Kampar

Publish by -134 kali dilihat
Penulis: Redaksi
Cerita Seekor Lumba-Lumba Air Tawar yang Kembali Berenang Riang di Sungai Kampar
Cerita Seekor Pesut Jantan yang Kembali Berenang Riang di Sungai Kampar - Foto/Ist

Klikhijau.com – Seekor pesut jantan atau lumba-lumba air tawar (Orcaella brevirostris)  berhasil dievakuasi pada Sabtu 19 September 2020, di Desa Segati, Langgam, Kabupaten Pelalawan.

Lumba-lumba air tawar yang dievakuasi tersebut berjenis kelamin jantan dengan ukuran panjang 2,20 meter dan diperkirakan berusia 30 tahun.

Kepala Balai Besar KSDA Riau, Suharyono, mengatakan bahwa Sebelum tindakan evakuasi, Tim gabungan yang terdiri Balai Besar KSDA Riau, Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) KKP dan JAAN (Jakarta Animal Aid Network), bersama masyarakat setempat melokalisir area dengan cara memasang penghalang berupa jaring pada dua sisi, yaitu di hulu dan hilir sungai berjarak 50 meter.

Kronologi penyelamatan

Kronologi penyelamatan pesut jantan berjalan cukup dramatis. Pertama kali, tim melakukan pengamatan pergerakan satwa liar Pesut di sungai Desa Tambak pada Rabu 16 September 2020.

KLIK INI:  Google Doodle Earth Day 2020, Aksi Interaktif Mengajak Kita Peduli Bumi

Keesokan harinya, pada Kamis 17 September 2020, Pesut berpindah ke Desa Segati. Kedua Desa tersebut masih berada pada satu wilayah yaitu Kecamatan Langgam Kabupaten Pelalawan. Namun, pada Jumat 18 September, Pesut berhasil melewati jaring pembatas dan bergerak ke arah hulu sungai sejauh 3 km.

“Tim kembali melokalisir area untuk memperkecil ruang gerak Pesut agar pergerakannya dapat terpantau dengan lebih baik. Akhirnya, sesuai hasil pengamatan dan observasi, Tim menyatakan kondisi Pesut dalam keadaan stabil dan normal. Maka diputuskan utk dapat dievakuasi keesokan harinya yaitu Sabtu, 19 September 2020,” jelas Suharyono.

Evakuasi Pesut tersebut didukung oleh masyarakat Desa Segati dan Desa Tambak dengan menggunakan 8 perahu dan 2 jaring.

Kepala Bidang KSDA Wilayah I, Andri Hansen Siregar, menjelaskan kronologi proses evakuasi yang dimulai dengan melakukan pemasangan perangkap jaring sampai Pesut akhirnya berhasil ditangkap.

KLIK INI:  Paus Fransiskus: Pandemi Covid-19 Akibat Manusia yang Abai Terhadap Alam

Selanjutnya pesut dibawa menggunaka perahu motor dari Desa Segati ke Desa Tambak. Setibanya di Desa Tambak, tim memodifikasi alat angkut pada bak mobil sebagai media bak berisi air dengan menggunakan terpal plastik.

Setelah Pesut diberikan perlakuan khusus agar tidak stress dalam pengangkutan, Tim membawa satwa tersebut ke lokasi pelepasliaran via jalan darat.

Begitu tiba di lokasi pelepasliaran yaitu di Kelurahan Pelalawan, Kecamatan Pelalawan Kabupaten Pelalawan, 30 menit kemudian, didukung oleh pihak Kepolisian Sektor Pelalawan dan masyarakat setempat, Pesut tersebut dipindahkan ke perahu untuk dibawa ke lokasi release yaitu di Sungai Kampar.

Namun sekitar 3 menit setelah direlease, Pesut kembali muncul kepermukaan air yang berjarak sekitar 30 meter di depan perahu, dan akhirnya berenang ke arah hilir Sungai Kampar.

Suharyono menyampaikan bahwa proses evakuasi ini memakan waktu kurang lebih sembilan jam karena memperhatikan banyak faktor terutama menjaga agar Pesut tidak mengalami stres.

“Kami mengharapkan Desa Tambak selalu berkoordinasi dengan Balai Besar KSDA Riau bila menemui kejadian yang sama, serta bersama-sama menjaga kebersihan sungai dari kegiatan pencemaran lingkungan,” pungkasnya.

KLIK INI:  Masyarakat Adat Sulsel Dilatih Memantau Hutan dan Kayu
Editor: Anis Kurniawan

KLIK Pilihan!