Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

Pisang Goreng Hilang di Meja Tamu

Berlari ke Pelukmu Saja   Aku ingin berlari saja ke pelukmu membuat peta dengan sisa kopi di dadamu seperti yang pernah-pernah Sekarang hujan mulai lupa cara reda tapi sangat rajin hadi...

Oleh Idris Makkatutu 05 Mar 2022 00:15 2 menit baca
Berlari ke Pelukmu Saja
  Aku ingin berlari saja ke pelukmu membuat peta dengan sisa kopi di dadamu seperti yang pernah-pernah Sekarang hujan mulai lupa cara reda tapi sangat rajin hadirkan resah, juga ribang Ibu sejak pagi sudah bertarung di dapur mendidihkan air lalu menyeduh kopi untuk ayah kopi yang dipetik sendiri oleh ayah dari kebun Kopi yang disangrai sendiri oleh ibu ditumbuk sendiri di lesung kayu di samping rumah Pagi selalu punya cerita di segelas kopi Aku ingin berlari saja ke pelukmu sesudah menyesap kopi di pagi hari agar kau rasa, agar kau nikmati aroma kopi dari mulutku Dan aku leluasa menggambar peta di seluruh tubuhmu dengan tinta pekat dari ampas kopi yang di tanam dan dipetik dari kebun sendiri disangrai di dapur sendiri dengan kayu bakar seperti yang sering dilakukan ibu di pagi hari jauh sebelum hari ini Kindang, Maret 2022 [irp]
Buntung di Puntung Rokok
  Suara riuh pemain domino di ruang tamu tembus ke kamar aku ingin bangun, menyeduhkan kopi untuk mereka tapi rammusu menyergap tubuhku mengakrabkanku pada selimut Rebusan tujuh helai daun pepaya belum bekerja baik tubuhku masih digigit gigil Aku lelap sejenak atau mungkin lama ketika terjaga, suara riuh pemain domino mereda sepi menerkam-nerkam Pagi, aku bangun tergesa di ruang tamu puntung rokok berhamburan meninggalkan asbak kuabai sisa rammusu semalam Aku menyapunya lalu membuangnya ke selokan depan rumah biar puntung rokok itu berumah di laut Dan berhari hari setelah itu di hari kamis yang manis aku temukan berpuluh-puluh puntung rokok di perut ikan. suamiku mencak-mencak ketika melihatnya mengira aku akan memasak puntung rokok untuknya Kindang, Maret 2022 [irp]
Pisang Goreng Hilang di Meja Tamu
  Baco datang ke rumah masih amat pagi ibu menjamunya dengan kopi dan setandang pisang masak Sejak minyak goreng lenyap diringkus kuasa pisang goreng pun lenyap di meja tamu Baco berkisah betapa luasnya sawit di kalimantan. ia pernah merantau ke sana, lima tahun, lima tahun lalu Ketika minyak sawit hilang, ia kaget dan enggan percaya dilumbung sawit minyak sawit tiada Kisahnya terus saja mengalir sesekali ia menyesap kopinya lalu melanjutkan kisahnya dan aku mendengarnya penuh setia sesetia geram dan kaget di matanya sebab tak dijamu pisang goreng oleh ibu Kindang, Maret 2022 [irp]
Topik terkait
#puisi #minyak sawit #kopi #ekologi sastra #puisi lingkungan #sastra dan lingkungan #pisang goreng #puisi indonesia