Perkuat Kolaborasi Global, BRIN–FAO Dorong Transformasi Industri Peternakan Berkelanjutan

oleh -14 kali dilihat
Ilustrasi peternakan-foto/Pixabay-Pixel-Sepp

Klikhijau.com – Dalam upaya memperkuat kolaborasi global di sektor peternakan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) menyelenggarakan International Strategic Meeting on Scientific Pathways for Sustainable Livestock Industry Transformation.

Acara berlangsung selama dua hari, Jumat–Sabtu, 27–28 Maret 2026 di Jakarta, dengan fokus utama mendorong transformasi industri peternakan yang berkelanjutan melalui pendekatan ilmiah dan kerja sama internasional.

Forum strategis ini dihadiri lebih dari 470 peserta dari 33 negara, melibatkan pakar, pembuat kebijakan, ilmuwan, pelaku usaha, dan organisasi masyarakat sipil.

Sektor peternakan sendiri memiliki peran vital dalam sistem agripangan global. Selain memenuhi sekitar sepertiga kebutuhan protein dunia, sektor ini juga menjadi sumber penghidupan bagi lebih dari 1,3 miliar orang, terutama peternak kecil dan komunitas pedesaan. Namun, di tengah meningkatnya kebutuhan pangan, sektor ini juga dihadapkan pada tantangan keberlanjutan, perubahan iklim, dan efisiensi sumber daya.

KLIK INI:  Paragon Wardah Hadirkan Akses Air Bersih Demi Kualitas Hidup Masyarakat di NTT

Kepala BRIN, Arif Satria, menegaskan bahwa sektor peternakan Indonesia memegang peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan, perbaikan gizi, serta penguatan ekonomi pedesaan.

“Pertemuan strategis ini menegaskan komitmen Indonesia dalam menjawab tantangan global melalui ilmu pengetahuan, inovasi, dan kolaborasi. Dengan memperkuat kapasitas riset dan mengadopsi praktik berkelanjutan, kita tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga memperkuat ketahanan sektor peternakan terhadap perubahan iklim,” ujarnya.

Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor-Leste, Rajendra Aryal, menambahkan bahwa kolaborasi yang terbangun dalam forum ini akan memperkuat upaya Indonesia dalam mengembangkan sistem peternakan yang lebih efisien, inklusif, dan berkelanjutan.

“Diskusi dan kemitraan yang lahir dari pertemuan ini akan menjadi fondasi penting dalam membangun sistem peternakan yang selaras dengan prioritas nasional dan tujuan global. FAO berkomitmen untuk terus mendukung Indonesia dalam transformasi ini melalui pendekatan berbasis sains dan kemitraan strategis,” jelasnya.

KLIK INI:  Mikroplastik Telah Menyusup ke Awan dan Jadi Pemicu Perubahan Iklim?

Forum ini menghadirkan berbagai sesi diskusi, mulai dari pleno, panel pakar, hingga forum ilmiah paralel yang membahas temuan terkini di bidang peternakan berkelanjutan. Selain itu, kompetisi riset pemuda juga digelar untuk mendorong lahirnya inovasi dari generasi muda dalam mendukung transformasi sektor ini.

Hadirkan sistem peternakan yang lebih tangguh

Salah satu agenda penting dalam konferensi ini adalah peluncuran fase terbaru Global Livestock Environmental Assessment Model (GLEAM) dari FAO. Model ini merupakan kerangka analisis komprehensif yang dirancang untuk mengukur dampak lingkungan dari sistem peternakan sekaligus memberikan rekomendasi strategi untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan.

GLEAM diharapkan menjadi alat penting bagi pembuat kebijakan, peneliti, dan pelaku industri dalam merancang kebijakan berbasis data, mengurangi dampak lingkungan, serta menjaga keseimbangan antara keberlanjutan ekonomi, sosial, dan lingkungan dalam jangka panjang.

KLIK INI:  Penguatan Regulasi Tata Kelola Lingkungan Harus Dibuat Pemerintah Jokowi Jilid II

Sebelum konferensi berlangsung, FAO juga telah menggelar pelatihan teknis bagi 100 pakar dan spesialis terkait penggunaan model GLEAM dan pedoman teknis terbaru yang dikembangkan melalui kemitraan Livestock Environmental Assessment and Performance (LEAP). Inisiatif ini mendukung negara-negara dalam menilai dan mengoptimalkan nilai jasa ekosistem dalam sistem peternakan.

Asisten Direktur Jenderal FAO, Thanawat Tiensin, menekankan pentingnya pendekatan kolaboratif global dalam menghadapi tantangan sektor peternakan.

“Dunia membutuhkan visi bersama, tanggung jawab kolektif, dan pendekatan One Health sebagai solusi menyeluruh untuk transformasi peternakan yang berkelanjutan. Sains dan inovasi menjadi kunci dalam memastikan ketahanan pangan, gizi, serta keberlanjutan mata pencaharian masyarakat,” tegasnya.

Melalui forum ini, BRIN dan FAO menegaskan komitmen untuk memperkuat sinergi global dalam membangun sistem peternakan yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan. Transformasi berbasis sains diharapkan tidak hanya menjawab tantangan masa kini, tetapi juga menjadi fondasi bagi masa depan agripangan yang lebih resilien.

KLIK INI:  Rp53 Triliun Ekspor Pertanian Afrika Timur Terancam: Regulasi Semakin Ketat

Dari BRIN