Perkuat Ketahanan Iklim dan Pangan Sehat, Petani Sulsel Rajut Gerakan Agroekologi Berkelanjutan

Perkuat Ketahanan Iklim dan Pangan Sehat, Petani Sulsel Rajut Gerakan Agroekologi Berkelanjutan
Perkuat Ketahanan Iklim dan Pangan Sehat, Petani Sulsel Rajut Gerakan Agroekologi Berkelanjutan. - Foto; Ist
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Tekanan lonjakan harga pupuk dan pestisida kimia, ketergantungan benih fabrikasi, hingga ancaman krisis iklim kian melilit kehidupan petani di Sulawesi Selatan. Juga kepungan alih fungsi lahan dan ancaman konflik agraria, sejumlah komunitas perdesaan memilih berkumpul di Makassar untuk merajut kembali simpul gerakan pertanian mandiri yang selama ini berjalan secara terpisah.

Konsolidasi gerakan tersebut diwujudkan melalui Workshop Gerakan Agroekologi dan Kedaulatan Pangan yang digelar oleh Komunitas Swabina Pedesaan Salassae (KSPS) bersama Kemitraan Agroekologi di Red Corner Café, Makassar, Senin (28/9/2026).

 

Pertemuan ini menjadi ajang konsolidasi bagi 15 perwakilan komunitas petani, kelompok perempuan, pemuda desa, dan pendamping lapangan serta media massa. Perhelatan ini tidak menghadirkan narasumber khusus, seluruh peserta memosisikan diri sebagai sumber pengetahuan dengan membawa fakta, masalah, hingga praktik baik dari wilayah masing-masing.

Praktik mandiri sejatinya telah berakar di beberapa titik, salah satunya di Desa Salassae, Kabupaten Bulukumba. Melalui KSPS, warga setempat secara swadaya mengembangkan pertanian organik, pembuatan pupuk dan pestisida alami, pemuliaan benih lokal, hingga jalur pasar alternatif. Kendati demikian, inisiatif serupa di kawasan lain dinilai masih sporadis dan belum terhubung ke dalam satu jaringan yang solid.

Ketua Kemitraan Agroekologi sekaligus fasilitator kegiatan, Armin Salassa, menegaskan bahwa agroekologi tidak hanya teknik bercocok tanam tanpa bahan kimia, pendekatan tersebut merupakan gerakan sosial politik untuk merebut kembali hak dasar petani atas tanah, air, benih, dan pengetahuan.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2