Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

Perjalanan Menuju Laut

Perjalanan Menuju Laut   aku pernah mengirim pesan padamu. pesan itu kumasukkan ke dalam botol plastik. lalu kuhanyutkan di selokan depan rumah. saat hujan sedang deras-derasnya. pesan itu...

Oleh Idris Makkatutu 19 Nov 2023 09:11 3 menit baca

Perjalanan Menuju Laut

  aku pernah mengirim pesan padamu. pesan itu kumasukkan ke dalam botol plastik. lalu kuhanyutkan di selokan depan rumah. saat hujan sedang deras-derasnya. pesan itu mungkin berakhir di kepalamu atau terus saja ke laut jadi ikan teri kesukaanmu. aku tak ikuti akhirnya, kata ibu semua perjalanan berakhir di laut sebagai anak kecil. aku selalu percaya pada ibu, ia tak pernah lihai berbohong kepadaku—kecuali tentang perutnya yang kosong dan pura-pura tidur untuk mengelabuiku agar ikut tidur pula suatu hari, saat hari pertama memulai kemarau. ibu membeli ikan teri. aku mengingatmu seluruhnya, sepenuh-penuhnya. ibu menggoreng ikan teri itu, namun tak matang-matang. “serasa menggoreng plastik,” kata ibu aku ingat pesan yang kukirim padamu, dalam botol plastik itu. mungkin benar telah menjelma ikan teri kesukaanmu. dan kau tak pernah betul-belut membacanya. 2023 [irp]

Jadi Hujan di Matamu

  kemarin kabut turun di lereng gunung tempat nenek menanak kenangan mata tuanya berharap hujan segera tiba hujan tak juga tiba hingga malam bunga mawar nenek mulai meranggas disiramnya sekali lagi, sebelum gelap memalut seluruh pagi ini, hujan turun memecah semua ingatan nenek membuka jendela mata tuanya berubah bunga mawar nenek menatapku ia tersenyum hujan mengusir murung dari wajahnya "hujan itu kehidupan, adalah bunga-bunga," katanya. "kau mesti jadi hujan!" sarannya aku mulai bayangkan, tiba di matamu sebagai hujan tumbuhkan benih mawar yang lama diperam kemarau 2023 [irp]

Inrallang

  di bawah rumpun bambu betung. inrallang tumbuh sembunyikan dirinya. meski tak ada lagi yang peduli akannya. sejak sabun tiba di kamar mandi di pinggir sumur. inrallang pernah meratu baunya usiri bau tak sedap dari pakaian. inrallang dipuja, dicari, dipelihara penuh kasih lalu sabun tiba, dengan busa dan bau beragam aroma. inrallang terbantai. ia menyingkir ke tebing jauh dari jangkauan parang dan pestisida hidup inrallang adalah kita, diabai saat tak lagi dibutuhkan ngeri…. 2023

[irp]

Mecemece tak ada penunjuk waktu sesetia dirimu leluhur menyandar pada daunmu yang mungil itu lanjut kerja atau pulang berbalut selimut saat daunmu berdoa menyembah tuhan. itu tanda sore telah tiba saat mulai mengatup, sore semakin menua semakin dekat ke malam orang-orang akan berjalan pulang ke rumah tinggalkan ladangnya dijagai malam jika telat, gelap akan menelannya hidup-hidup ketika daunmu yang mungil itu mengatup orang-orang berpuasa mengucap syukur tanda berbuka hampir tiba bagi mereka yang muntah darah daunmu yang mungil itu jadi tangan syafii waktu lalu berjalan, berlari dan kau tertinggal di belakang jam tangan, jam dinding, radio masuk kampung terlupalah dirimu sebagai penunjuk waktu terabailah daunmu sebagai penyembuh mecemece, namamu hanya fasih disebut para tetua jasamu hanya diingat para tetua yang semakin tipis kini kau bertumbuh di pinggiran dan terpinggirkan mecemece, namamu semakin menuju senja 2023 [irp]
Topik terkait
#puisi #puisi lingkungan #laut #inralang #mecemece