Perihal Tambang Pasir Laut Boskalis, WALHI Sulsel Desak Penghentian Proyek

Klikhijau.com - Tambang pasir laut dan reklamasi pesisir dinilai merusak lingkungan dan menimbulkan bencana sosio-ekologis di pesisir dan laut Sulawesi Selatan. Hal ini ditegaskan Wahana Lingkungan...

Perihal Tambang Pasir Laut Boskalis, WALHI Sulsel Desak Penghentian Proyek
Bacakan Artikel

Dalam pantauan WALHI Sulsel, sejak tanggal 13 Februari 2020, Kapal Boskalis, Queen of Netherland yang memiliki kapasitas 33.423 Gross Ton (GT) kembali memulai penambangan pasir laut di perairan Bonemalonjo.

Pasir laut hasil tambang ini digunakan untuk keperluan reklamasi Makassar New port tahap II. Dalam sehari, kapal Boskalis melakukan tiga kali penambangan (3 ret kapal).

[irp]

Lokasi penambangan Boskalis berada di wilayah tangkap nelayan Galesong dan Kepulauan Sangkarang. Nelayan memberinya nama Coppong Lompo, Coppong Caddi, Bonemalonjo, dan Pungangrong.

โ€œPemberian nama-nama lokal ini menunjukkan betapa kuatnya relasi nelayan dengan wilayah tangkapnya. Selain itu, ini juga merupakan tanda bahwa di lautan yang begitu luas, ada daerah tertentu yang dijadikan wilayah tangkap andalan karena kelimpahan sumber daya ikannya,โ€ tulis rilis WALHI.

Tambang pasir merusak penghidupan nelayan

WALHI Sulsel menilai, penambangan Boskalis di wilayah yang menjadi sumber penghidupan nelayan merupakan bentuk penghancuran ruang hidup sehingga mengancam keberlanjutan nelayan di Sulawesi Selatan.

Sejak penambangan dilakukan, nelayan Pulau Kodingareng Lompo dan Galesong mulai merasakan dampaknya. Air laut di sekitar wilayah penambangan menjadi keruh. Kekeruahan membuat hasil tangkapan nelayan berkurang drastis, terutama nelayan-nelayan yang mencari ikan tenggiri dan nelayan rawe yang mencari ikan-ikan karang.

[irp]

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: