Penerbangan Lebih Ramah Lingkungan Jika Ketinggian Pesawat Diubah
Klikhijau.com – Masih ingat kisah sepasang kekasih Lorenz Keyßer dan Giulia Fontana. Keduanya menolak naik pesawat jika bepergian. Keduanya menganggap pesawat adalah penyumpang polusi udara yang be...
Klikhijau.com – Masih ingat kisah sepasang kekasih Lorenz Keyßer dan Giulia Fontana. Keduanya menolak naik pesawat jika bepergian.
Keduanya menganggap pesawat adalah penyumpang polusi udara yang besar. Maka, demi cintanya kepada lingkungan, sepasang kekasih itu pun enggan naik pesawat.
Gerakan yang dilakukan sepasang kekasih itu, juga dilakukan oleh aktivis iklim Greta Thunberg. Ia berlayar dengan kapal bertenaga surya dari Swedia melintasi Samudra Atlantik selama 15 hari. Saat itu Thunberg akan memenuhi undangan KTT perubahan iklim di Kantor PBB, New York, AS. Transportasi tersebut ia pilih lantaran tidak menimbulkan polusi udara.
Gerakan seperti itu dikenal dengan flight shaming. Sebuah gerakan yang lahir di Swedia itu merupakan gerakan menolak naik pesawat untuk mengurangi polusi udara yang disebabkan oleh pesawat.
[irp]
Bagi penganut flight shaming, industri penerbangan dianggap musuh bagi lingkungan. Namun, sepertinya anggapan itu akan berubah arah.
Kini ada sebuah studi yang menunjukkan ada langkah sederhana yang bisa dilakukan untuk mengurangi emisi karbon dari pesawat, yakni mengubah ketinggian pesawat saat terbang. Langkah sederhana itu diyakini dapat mengubah dampak pesawat kepada lingkungan secara drastis.
Studi itu dilakukan oleh pada para ilmuwan di Imperial College London. Mereka menyimpulkan bahwa kerusakan iklim yang disebabkan oleh satu konsekuensi dari penerbangan dapat dikurangi sebanyak 59% dengan mengubah ketinggian terbang beberapa ribu kaki.
Jika temuan itu benar, tentu akan menjadi kabar bagus bagi dunia penerbangan. Menurut NASA, pesawat membentuk contrails, yakni sejenis awan es yang dibentuk oleh pesawat ketika uap air mengembun di sekitar partikel debu kecil, yang memberi uap energi yang cukup untuk membeku.