Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Berita Lingkungan

Mengubah Cara Pandang Lewat Mobil Mikroplastik Journey, Kala Lorong Madrasah Bergerak Menuju Zero Waste

Oleh Arman Jaya 12 Aug 2026 20:51 4 menit baca

Klikhijau.com - Matahari pagi di Mojokerto mulai memancarkan hangatnya ketika sebuah kendaraan dengan corak edukasi khas terparkir anggun di halaman Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 2 Mojokerto. Bagi ratusan pasang mata mungil yang lalu-lalang, kendaraan itu bukan sekadar armada singgah. Ia adalah Mobil Mikroplastik Journey milik lembaga konservasi Ecoton yang membawa misi penting: menyingkap misteri partikel berbahaya yang selama ini tak kasat mata di sekeliling ruang hidup kita.

Hari itu, Rabu, 12 Agustus 2026, suasana sekolah berubah menjadi laboratorium alam. Lebih dari 200 siswa dari kelas satu hingga enam secara bergantian memasuki armada edukasi tersebut. Udara riuh oleh celoteh penuh rasa ingin tahu ketika mereka mulai dikenalkan pada siklus panjang material plastik. Benda yang semula utuh dan serbaguna itu, akibat terpapar cuaca, gesekan, serta cara penanganan yang keliru, perlahan terdegradasi menjadi serpihan renik yang kini kita kenal sebagai mikroplastik.

Menemukan Pertikel Renik di Tempat yang Paling Dekat

Edukasi tidak berhenti pada ruang diskusi teoretis. Antusiasme memuncak tatkala anak-anak melangkah keluar membawa seperangkat alat pengamatan sederhana. Mereka bertransformasi menjadi peneliti cilik yang bertugas mengidentifikasi keberadaan mikroplastik di area indoor, luar ruangan, permukaan daun, air, hingga pada kulit tangan mereka sendiri.

Temuan di lapangan langsung membuka mata para siswa. Kelompok 7 yang dipimpin oleh Jazila, siswa kelas 5A, berfokus mengamati sampel udara di dalam dan luar ruangan. Dari pemindaian mikroskopis yang mereka lakukan, teridentifikasi 2 partikel berbentuk fiber (serat), 2 filamen, dan 9 fragmen (potongan pipih) di dalam ruang kelas. Sementara pada udara luar ruangan, terdeteksi 3 fiber dan 2 fragmen.

Pengamatan pada media lain menghasilkan temuan yang tak kalah mengejutkan. Pada permukaan daun tanaman di lingkungan sekolah ditemukan 4 fiber, 6 fragmen, dan 2 filamen. Bahkan, uji usap pada kulit tangan anak-anak merekam angka yang cukup tinggi: 35 fiber, 5 filamen, dan 1 fragmen. Penemuan ini menegaskan realitas ekologis hari ini bahwa pencemaran mikroplastik telah menyusup ke dalam ruang terdekat manusia.

Bagi Jazila, temuan tersebut menjadi momen yang memantik kesadaran baru. Ia teringat pada kepulan asap yang kerap membubung di sekitar kediamannya.

"Rumahku dekat tempat pembuangan sampah, baunya sering sampai rumah. Ada juga tetanggaku yang bakar sampah, asapnya sampai kecium di rumahku. Awalnya aku ngira kalau asap bakar sampah dan sampah dibakar itu bisa hilang terkena angin. Ternyata bakar sampah malah bikin mikroplastik terbentuk dan mengotori udara," tuturnya polos.

Penjelasan sains sederhana mengenai termodegradasi plastik, proses di mana ikatan polimer plastik terputus akibat paparan panas pembakaran dan terlepas ke udara sebagai partikel mikro, kini menjadi sangat masuk akal bagi anak-anak tersebut. Pembakaran tidak melenyapkan materi; ia hanya memecahnya menjadi bentuk yang lebih berbahaya dan mudah terhirup masuk ke paru-paru.

Siswa lain, Alby dari kelas 5, mengamati pola serupa pada sampel daun yang diambil dari area dekat lokasi pembakaran sampah.

"Berarti membakar plastik itu menghasilkan mikroplastik, karena kita menemukan banyak mikroplastik di daun yang ada di dekat pembakaran sampah," ujar Alby menyimpulkan keterkaitan tersebut.

Kesadaran Sains Menuju Aksi Sekolah

Kehadiran unit edukasi keliling ini menjadi pemantik perubahan bagi pihak pengelola madrasah. Kesadaran akan ancaman partikel mikro memperkuat tekad pendidik untuk menata kembali tata kelola sampah di sekolah. Yuli Indah Lestari, S.Pd., salah seorang guru kelas 5, menyoroti tantangan riil yang kini dihadapi sekolah, salah satunya adalah pemilahan sisa organik dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Limbah makanan yang tidak terkelola dengan baik berpotensi memperburuk rantai masalah sampah di tingkat lokal. Untuk itu, pihak sekolah mulai merancang langkah konkrit berupa pelatihan pembuatan ecoenzym, cairan serbaguna hasil fermentasi sampah organik, serta merencanakan kunjungan belajar langsung ke markas Ecoton.

Lebih jauh, MIN 2 Mojokerto tengah menyiapkan gagasan Madrasah Mart dan menjajaki kerja sama dengan penyedia stasiun isi ulang (Refilin) guna memangkas ketergantungan pada kemasan plastik sekali pakai di lingkungan kantin.

Langkah ini mendapat penguatan penuh dari Kepala MIN 2 Mojokerto, Saichul Adenan, S.Pd.I., M.Pd.I. Menurutnya, pembelajaran langsung yang dihadirkan Ecoton beririsan tepat dengan visi madrasah berbudaya lingkungan yang sedang dibangun. Pengalaman empiris mengamati sampel di bawah mikroskop memberikan dorongan moral yang jauh lebih kuat dibanding sekadar instruksi di atas kertas.

Menanam Benih Etika Lingkungan

Pengalaman di MIN 2 Mojokerto memperlihatkan bagaimana edukasi sains populer berbasis komunitas mampu mengubah cara pandang generasi muda terhadap lingkungan sekitar mereka. Ketika anak-anak memahami bahwa partikel plastik renik dapat melayang di udara, menempel di dedaunan tempat mereka berteduh, hingga melekat di jemari tangan mereka, kepedulian itu tumbuh dari dasar kesadaran, bukan ketakutan.

Inisiatif mobilitas edukasi semacam ini membalikkan narasi keputusasaan iklim menjadi aksi reflektif yang membumi. Dari langkah kecil membiasakan diri untuk tidak membakar sampah, mengolah sisa makanan, hingga mendorong budaya guna ulang (reuse), sebuah generasi baru di Mojokerto sedang belajar menjaga ruang hidup mereka agar tetap bersih, sehat, dan berkelanjutan.

Topik terkait
Mojokerto Madrasah Mikroplastik Konservasi Ecoton Laboratorium Alam Peneliti Sains