Pencemaran Abu Batubara di Perairan Permukaan Lebih Persisten, Benarkah?
Klikhijau.com – Protes terhadap penggunaan batubara sebagai bahan bakar pembangkit listrik nyaring terdengar. Karena diduga kuat sebagai salah satu pemicu terjadinya perubahan iklim. Batubara sendi...
Klikhijau.com – Protes terhadap penggunaan batubara sebagai bahan bakar pembangkit listrik nyaring terdengar. Karena diduga kuat sebagai salah satu pemicu terjadinya perubahan iklim.
Batubara sendiri merupakan salah satu bahan bakar fosil. Pengertian lainnya adalah batuan sedimen yang bisa terbakar. Bahan bakar ini terbentuk dari endapan organik, khususnya dari sisa-sisa tumbuhan.
Proses terbentuknya, yakni melalui pembatubaraan. Unsur-unsur utamanya terdiri dari karbon, hidrogen, nitrogen, dan juga oksigen
Batubara merupakan pula batuan organik yang mempunyai sifat-sifat kimia dan fisika yang kompleks. Bentuknya beragam, mulai fari bentu balok, kubus, bulat, atau segitiga.
[irp]
Ketika dibakar menjadi untuk menghasilkan energi listrik. Batubara akan menyisa abu. Abunya ini diketahui mengandung logam yang berbahaya seperti timbal, selenium, kromium, arsenik, kadmium, merkuri, dan molibdenum, banyak di antara kandungannya itu diduga dapat menyebabkan perkembangan kanker dan penyakit lainnya.
Selain itu, rupanya abu batubara tidak mudah hilang. Abunya bisa terus bergerak, bahkan dapat sampai ke sungai atau danau.
Bukti itu diungkapkan oleh sebuah tim peneliti dari Duke University dan Appalachian State University yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Science & Technology.
Tim peneliti itu melakukan analisis sedimen dari lima danau North Carolina. Kelima danau itu adalah Danau Hyco, Mayo, Belews, Mountain Island, dan Danau Sutton.
Danau-danau tersebut berada di dekat pembangkit listrik tenaga batu bara. Para peneliti menemukan bahwa pencemaran abu batubara di perairan permukaan lebih persisten dan meluas daripada yang diperkirakan sebelumnya.
[irp]
Dapat memasuk rantai makanan
Menurut para peneliti, kontaminan tidak terkunci ke dalam sedimen danau dan dapat dengan mudah memasuki rantai makanan akuatik. "Sedimen dasar danau mewakili sejarah lengkap tentang apa yang telah jatuh ke air danau dan mengendap di dasar," kata penulis senior studi Avner Vengosh, seorang profesor Kualitas Lingkungan di Duke. “Menggunakan metode penanggalan usia kami, kami dapat kembali ke masa lalu, dalam beberapa kasus bahkan sebelum pabrik batu bara dibangun, dan merekonstruksi sejarah danau,” lanjutnya, seperti dikutip dari Earth Kemungkinan besar ada tiga rute yang menjadi jalur abu batubara mencapai danau, yakni:-
Adanya emisi atmosfer
-
Peristiwa cuaca ekstrem
-
Aliran limbah