Pembakar Kisah di Danniari

Menua malam, jam 02: 48 danniari ‘dini hari’. Ia melihatmu sedang remasi sunyi seorang sendiri di  balai-balai bambu  depan rumahmu.  Terisak penuh duka. Ia  menghampirimu dengan was-was. Takut kamu t...

Pembakar Kisah di Danniari
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Menua malam, jam 02: 48 danniari ‘dini hari’. Ia melihatmu sedang remasi sunyi seorang sendiri di  balai-balai bambu  depan rumahmu.  Terisak penuh duka. Ia  menghampirimu dengan was-was. Takut kamu terkejut dan lupakan sedihmu. Terasa anehkan, biasanya orang takut jika bahagia seseorang hilang. Tapi ia takut sedihmu hilang. Kamu jadi perempuan dalam kesedihanmu.

Cahaya dari teras rumah menerangimu. Pakian hijau muda terlihat serasi paluti tubuhmu.  Jika saja kamu memakai baju warna putih ia pasti takut menghampiri. Pagar  rumah sengaja  tak ditutup. Barangkali kamu  menunggu seseorang atau  telat pulang hingga pintu  terkunci dan kamu tak bisa masuk. Tapi, gadde-gadde ‘toko kecil menjual barang campuran’ masih terbuka.

“Sejak lima tahun lalu aku selalu di balai-balai ini ketika malam jatuh pada titik larutnya yang sunyi,” katamu sambil terisak tanpa menoleh. Ia  menatapmu tak mengerti.

“Kenapa, sedang menunggu seseorang?” tanyanya dengan kehati-hatian yang lumut, takut kamu tersinggung. Kamu mendongak, tersenyum sekilas dan entah kenapa kamu mulai menceritakan kisahmu

“Tolong ceritakan kisah ini pada yang lainnya. Aku ingin orang tahu ada perempuan yang memelihara mimpinya sedemikian rupa!” pintamu.

Cerita yang diceritakan dengan cerita

Tak ada kisah yang benar-benar selesai selama ada mulut mengisahkannya dan telinga mendengarnya. Aku ingin kisahku tak lesap pada tiada. Mengering lalu dilupakan begitu saja. kisah yang dilupakan adalah kengerian yang dahsyat. Aku tak ingin berakhir pada tiada. Seseorang harus mengingatku.

Aku tinggal berdua dengan nenekku yang telah menua.  Kedua orangtuaku hilang dalam hujan sebelas tahun lalu. Dan tiap malam, sejak lima tahun lalu aku terbiasa terjaga tengah malam. Aku menunggu seseorang seperti tebakanmu.  Ia seorang lelaki yang telah kukagumi. Kagum itu mengental lalu berubah cinta yang rumit dan brengsek. Aaah, mencintai rupanya adalah pekerjaan rumit yang sulit berhenti. Mencintai adalah kegilaan yang indah.

Balai-balai bambu ini jadi saksi penantianku yang malang. Tiap malam aku akan keluar ke balai-balai ini menatapi pagar. Berharap dia melangkah masuk ke sini—menemuiki dan menceritakan kisah tualangnya yang jauh dan lama. Harapan itu selalu saja pergi seiring perginya malam, namun tetap kembali—tak pernah ingkar janji pada malam berikutnya. Selalu saja begitu. Penantian ini tak mengenal kata usia.

Aku akan masuk ke rumah saat azan subuh tiba di pendengaranku, membangunkan nenek  untuk salat subuh, dan  tetap memelihara harapan dan tersenyum atas senyumnya dengan perempuan itu.  Aku tahu kamu mendengar  tangis tertahan dalam tegarku yang basa basi.

Bukan hanya  kepergian orangtuaku yang akan kubagi, tapi juga kisahku yang rahasia, lelaki yang kucinta  mencintai perempuan lain. Sialnya aku memelihara cinta dan janjinya akan tetap bersamaku, bukan satu tahun, dua tahun, tapi selamanya.  Aku menjaganya tetap biak dalam diriku.

 Mimpi yang Terus Kembali

“Kenapa kamu menceritakan kisahmu kepadaku?” tanyanya. Kamu menatapnya dengan terkejut

“Tidak bisakah kamu menunggu  hingga selesai ceritaku,” katanya dengan nada protes

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2