Pameran "Anti-Estetika" Asman Djasmin Dobrak Bukit Baruga di Kedai Deskopidi
Klikhijau.com - Seniman kontemporer Makassar, Asman Djasmin, menggelar pameran tunggal bertajuk Anti-Estetika di Kedai deskopidi pada 25–27 April 2026. Pameran ini menghadirkan karya-karya yang menola...
Klikhijau.com - Seniman kontemporer Makassar, Asman Djasmin, menggelar pameran tunggal bertajuk Anti-Estetika di Kedai deskopidi pada 25–27 April 2026. Pameran ini menghadirkan karya-karya yang menolak jadi “pemanis dinding” dan mengajak publik menatap kebenaran tanpa riasan.
Dikurasi oleh Achmad Fauzi, pameran Anti-Estetika menjadi pernyataan sikap Asman Djasmin terhadap dominasi “keindahan morfin” — istilah yang ia gunakan untuk menyebut keindahan komersial yang membius saraf kritis, meninabobokan kecemasan, dan membungkus realitas berdarah dengan sutra halus.
“Sebuah karya seni tidak selalu datang untuk menyenangkan mata. Ia bahkan tidak menawarkan kenyamanan. Tapi ia mampu meninggalkan bekas. Karya-karya ini tidak minta disukai. Ia hanya menolak dilupakan,” kata Asman Djasmin.
[irp]
Lahir di Makassar 1 Agustus 1967, Asman memulai perjalanan seninya sejak usia 11 tahun di Fort Rotterdam. Dengan latar belakang Seni Murni UNM, Ilmu Komunikasi Unhas, hingga PGSD UNM, ia memandang seni sebagai proses membaca dan merespons realitas. Alam menjadi guru sekaligus cermin dalam karyanya. Salah satu karya kunci, Simfoni Hujan, memaknai hujan sebagai simbol kesetaraan dan “demokrasi alam”.