Workshop Makrame dan Merajut di Desa Taeng, Merawat Simpul dan Menenun Kebersamaan
Klikhijau.com - Hujan turun pelan sore itu. Rintiknya jatuh di sela atap rumah warga Desa Taeng, seolah ikut menyertai langkah-langkah para ibu yang datang satu per satu. Mereka tidak sekadar berteduh...
Klikhijau.com - Hujan turun pelan sore itu. Rintiknya jatuh di sela atap rumah warga Desa Taeng, seolah ikut menyertai langkah-langkah para ibu yang datang satu per satu. Mereka tidak sekadar berteduh dari cuaca yang basah. Mereka datang membawa rasa ingin tahu. Di tangan mereka belum ada benang, tetapi di kepala sudah ada banyak pertanyaan tentang satu hal: makrame dan merajut.
Pertemuan itu bermula dari rasa penasaran yang sederhana. Kursi-kursi disusun tidak terlalu rapi, tetapi cukup untuk membentuk lingkar kebersamaan. Di tengah ruang itulah simpul-simpul pertama diperkenalkan—bukan hanya simpul tali, tetapi juga simpul percakapan dan tawa yang pelan-pelan menghangatkan suasana.
Workshop Makrame dan Merajut ini merupakan bagian dari pra-rangkaian “Festival Bantarang Sungai Jeneberang 2026”, sebuah agenda kebudayaan yang mencoba menghadirkan ruang pertemuan antara keterampilan, ingatan, dan kehidupan masyarakat sekitar sungai. Kegiatan berlangsung pada 2–4 Maret 2026, setiap pukul 15.30 WITA di Desa Taeng, Kabupaten Gowa.
[irp]
Bagi sebagian peserta, makrame terdengar seperti istilah yang jauh. Padahal pada dasarnya ia hanya perkara simpul. Namun, seperti banyak hal dalam hidup, yang tampak sederhana sering kali menyimpan kesabaran di dalamnya.
“Makrame ini gampang-gampang susah sebenarnya. Tapi kalau orang mau belajar pasti bisa, hanya saja tidak cukup dengan sehari,” ujar Lulu, fasilitator workshop makrame, sembari memperlihatkan cara membuat simpul pertama kepada peserta.
Tali-tali yang semula hanya berupa benang panjang mulai berubah menjadi pola. Tangan-tangan yang awalnya kaku perlahan menemukan ritmenya sendiri. Ada yang masih ragu, ada yang tertawa karena simpulnya terlepas, dan ada pula yang diam-diam mulai menikmati prosesnya.
Di sisi lain ruangan, kegiatan merajut berjalan dengan tempo yang berbeda. Jarum rajut bergerak pelan, menyusuri benang demi benang seperti membaca kalimat yang panjang.
[irp]
“Merajut menjadi sangat penting untuk melatih kefokusan mata dan otak. Perpaduan itu merupakan rajutan yang bakal terus dirawat dalam simpul ikatan,” kata Linda, fasilitator merajut.
Kalimat itu tidak hanya berbicara tentang teknik. Ia juga tentang bagaimana ketekunan dilatih melalui gerakan kecil yang diulang-ulang. Dalam rajutan, kesalahan tidak selalu berarti kegagalan; ia hanya bagian dari pola yang belum selesai.