Nggak Perawan Lagi, Cara Slank Mengajak Kita Melihat Kerusakan Alam
Klikhijau.com – Slank merupakan band papan atas tanah air yang terkenal kritis. Termasuk dalam hal menyuarakan tentang alam. Vokalis Slank, Kaka pernah mengutarakan jika Slank selalu menyelipkan...
Nggak Perawan Lagi
Berenang di tepi pantai Banyak minyak sampah dan kotoran Aku nyebur menerjang ombak Bikin lengket badan dan rambut
Lepas kail tepi sungai Airnya coklat dan berbusa Nggak ada ikan yang nyangkut Malah bikin gatel kulit dan bau
Lautku nggak biru nggak biru lagi Sungaiku nggak jernih nggak jernih lagi Alamku nggak bagus nggak bagus lagi Alamku nggak perawan nggak perawan lagi
Lereng dan pegunungan Penuh lapangan golf dan villa Nggak ada yang nahan air Bikin banjir kota-kota
Lihat hutan dari pesawat Mana solusi Indonesia Imajiku hutan rimba Yang ada botak dan tandus
Gunungku nggak hijau nggak hijau lagi Hutanku nggak lebat nggak lebat lagi Alamku nggak bagus nggak bagus lagi Alamku nggak perawan nggak perawan lagi
Mendengar lagu tersebut, kita diajak untuk mengoreksi diri, betapa banyak alam yang rusak karena ulah manusia. Alam “nyaris” tak ada lagi yang perawan. Karena semua telah dijamah oleh “kerakusan manusia. Manusia senang mengambil terlalu banyak dari apa yang disediakan alam. Akibatnya banyak bencana alam yang terjadi, yang menimpa manusia itu sendiri. [irp] Selain Nggak Perawan Lagi, masih banyak lagu dari band yang pernah berganti personil hingga 14 kali ini. Sumba Humba misalnya. Lagu ini tercipta dari rasa kagum Bimo Setiawan Almachzumi alias Bimbim selama menghabiskan waktu liburannya di Sumba “Sewaktu gua liburan sama keluarga dan Kaka dari Timur sampai Barat NTT selama empat hari. Nah, selama perjalanan itu, gua rekam semuanya dan gua tuangkan kedalam sebuah lagu,” ungkapnya. Keterpesonaan Bimbim akan alam Sumba yang indah membuatnya menciptakan lagu ini . Berikut lirik lagunya:Sumba Humba
Petikan jungga di Ratenggaro Sunset yang gagal di Pantai Pero Ombak besar pasir madorak Basuh asin laguna weekuri
Angkat anak desa, Desa Praijing Selami air sejuk lapopu Susuri jalan pagar pohon kesi Tanjaki purukambera savana
Lepas lelah santai bukit morinda Dingin merinding di wairinding Tiga kolam terjun waimarang Tawa generasi baru walakiri
Perfect sunset bukit persaudaraan Waingapu pagi puncak tenau Welcome dance raja raja prailiu Sumba humba from Sumba with love
Sumba Humba, Humba ailulu
Apa berhenti di situ? Jawabannya tidak, pada lagu Seleksi Alam. Slank menegur kita (manusia) yang selama ini sangat “puas” merusak alam tanpa ada rasa bersalah. “Ini merupakan teguran bagi banyak orang, sekaligus renungan bagi manusia yang selama ini menjadi penyebab kerusakan alam. Hal yang memicu terjadinya bencana alam, serta pandemi saat ini. Alam akan baik kepada kita [manusia], jika kita juga baik kepada mereka [alam],” kata Bimbim.Seleksi Alam
kau terlalu banyak melihat kau tak pernah mau mengamat semua gambar terlewat
kau terlalu banyak mendengar kau tak pernah mau menyimak semua tanda tertolak
suara seleksi alam yang lewat di depan hidung kita tak disadari naluri hmmm
kau terlalu banyak merasa kau tak pernah mau mengecap semua firasat lenyap
suara seleksi alam yang lewat di depan hidung kita tak disadari naluri
kau tak pernah mengasah kau biarkan instingmu tumpul
kau tak pernah mengasah kau biarkan instingmu tumpul naluri naluri naluri
Sebenarnya masih banyak lagu-lagu slank yang bercerita tentang alam. Namun, pada kesempatan kali ini, cukup tiga lagu itu saja sahabat hijau. [irp]