Merespons Keresahan Midori tentang Pembalut dalam Norwegian Wods
Klikhijau.com – Perempuan yang telah memasuki usia akil balig, tak bisa lagi dipisahkan dari pembalut. Ada siklus alami yang mengharus perempuan berkawan setia dengan pembalut setiap bulan, yakni m...
Klikhijau.com – Perempuan yang telah memasuki usia akil balig, tak bisa lagi dipisahkan dari pembalut.
Ada siklus alami yang mengharus perempuan berkawan setia dengan pembalut setiap bulan, yakni menstruasi.
Maka tidaklah mengagetkan jika penggunaannya sangat tinggi. Sebab telah menjadi kebutuhan maha penting bagi perempuan.
Berkat pembalut pula, perempuan yang sedang menstrusai bisa tetap beraktivitas, tidak harus mengurung diri dalam rumah.
[irp]
Namun, meski memberi manfaat yang baik bagi si perempuan, pembalut sekali pakai juga memberi kabar buruk bagi lingkungan.
Dengan jumlah konsumsi yang tinggi, tapi tidak disertai dengan pengelolaan yang biak telah menjadi masalah tersendiri. Apalagi bahan yang dipakai adalah salah satu bahan yang sulit terurai dan jadi bahan pencemaran udara karena mengandung zat metana.
Keresahan tentang pembalut ini, telah berlangsung lama dan bisa ditemukan di mana-mana, bahkan dalam novel karya Haruki Murakami yang berjudul Norwegian Wood pun ada pembahasan singkat mengenai pembalut.
Tokoh yang mengungkapkan keresahannya adalah Kobayashi Midori, seorang perempuan yang mencoba mengkalkulasi jumlah pembalut di sekolahnya dulu, yang merupakan sekolah khusus putri
“Watanabe, kamu tahu asap apa itu?” tiba-tiba midori berkata
“Tidak tahu,” jawabku
Itu asap hasil pembakaran pembalut,”
“Oooh...,” kataky. Selain itu aku tidak tahu apa yang mesti kukatakan lagi
“Pembalut, tampon, dan sebagainya,” Midori berkata sambil tersenyum. “mereka membuang sampah-sampah itu seperti ke dalam kotak di toilet......(Murakami, 87-88)
........Jika seluruh murid SMP dan SMA, jumlahnya seribu orang. Memang ada murid yang belum menstruasi, jadi kita anggap saja 900 orang. Nah kalau seperlima dari mereka sedang menstruasi maka dalam sehari kurang lebih seratus delapan puluh orang akan membuang pembalut ke dalam kota sampah,”...(Murakami, 88).
[irp]
Kutipan-kutipan di atas menunjukkan bahwa di Jepang, khususnya sekolah putri juga dikepung masalah pembalut.
Keresesahan Midori jika ditarik ke dunia nyata memang cukup mencengangkan. Ada sebuah laporan dari National Women's Health Network bahwa di Amerika Serikat, ada sekitar 85 juta perempuan yang berada di usia reproduktif. Mereka ini rutin mengalami menstruasi.
Data dari National Women's Health Network itu menunjukkan bahwa mereka ini berkontribusi menghasilkan 12 miliar pembalut kapas.
Selain pembalut, mereka juga menghasilkan 7 juta tampon ke tempat pembuangan sampah setiap tahun. Tampon merupakan alat penyerap darah menstruasi yang ukurannya lebih kecil.