Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Pangan Lokal dan Kuliner

Menyaksikan Ibu Menyulap Songkolo Menjadi Baje'

Oleh Irhyl R Makkatutu 23 Sep 2026 15:22 4 menit baca

Klikhijau.comSongkolo yang dibawa Deang Ina itu telah mengeras. Sulit untuk dikonsumsi kembali sebelum dipanaskan (dikukus).

Setelah dikukus, songkolo akan lembek sehingga lebih mudah dimakan. Memakan nasi dari beras ketan ini bukan pilihan utama, sehingga agak jarang ditemukan. Biasanya akan tersedia saat ada acara—semacam ritual, yang lebih dikenal dengan a’baca-baca (berdoa).

Songkolo yang dibawa Daeng Ina itu adalah sisa dari a’baca-baca. Karena jumlahnya lumayan banyak, sehingga tak habis, maka dibagikan pada tetangga atau sanak famili.

Dan Ibu mendapat jatah tersebut. Pagi-pagi, ponakannya itu datang membawakannya songkolo. Sebagian dimakan, separuhnya lagi tinggal menunggu jadi sampah makanan.

Namun, Ibu tak membiarkan itu terjadi, beliau selalu punya inisiatif jitu dan bijak agar makanan, khususnya songkolo tak berakhir jadi sampah. Ibu mengolahnya menjadi baje’.

Bagi orang yang pernah merasakan bagaimana susahnya mendapat makanan, akan memperlakukan sisa makanan dengan bijak. Tak langsung membuangnya—mereka akan mencarikan jalan agar bisa kembali dikonsumsi. Selagi masih layak.

Untuk songkolo (nasi dari beras ketan), mengolah menjadi baje adalah pilihan yang paling tepat. Apalagi cara membuatnya tak rumit, pun bahannya ringan saja—mudah didapatkan.

Bahan dan cara yang simple

Saat membuat baje dari songkolo yang dibawa Daeng Ina, Ibu hanya membutuhkan empat bahan saja. Songkolo, gula merah, kelapa parut, dan sedikit air.

Saya memerhatikan cara ibu membuatnya. Songkolo yang sudah dingin dan mengeras itu, terlebih dahulu dikukus ulang—cara memasak songkolo memang harus dikukus—biasanya sebelum dikukus, beras ketan terlebih dahulu direndam hingga sedikit melunak. Di Desa Kindang namanya niramme (rendam).

Setelah selesai dikukus, Ibu membiarkannya saja hingga suhu panasnya berkurang dan menyisa rasa hangat saja.

Selanjutnya, Ibu menyiapkan kelapa—memarutnya. Untuk takarannya, Ibu tak menggunakan takaran berapa gram kelapa parut yang digunakan. Dibiarkannya pengalaman yang berbicara.

Setelah kelapa parut selesai, Ibu mengambil gula aren (gula merah). Gula itu kemudian dikoro (diiris tipis-tipis) tujuannya agar saat dilelehkan atau dicairkan proses akan lebih cepat.

Berapa takaran gula merah yang digunakan, pun tak dihitung. Hanya diperkirakan saja berdasarkan pengalaman membuat baje yang entah keberapa ratus kalinya.

Langkah selanjutnya yang disiapkan ibu adalah pammaja’ (wajan) lalu menyalakan kompor. Dulu sebelum kompor gas hadir di dapur rumah, Ibu membuat baje’  menggunakan api dari kayu bakar. Baje’ yang dimasak dari tungku menggunakan kayu bakar. Rasanya lebih enak.

Sebelum menyalakan kompor, Ibu meletakkan wajannya terlebih dahulu di atasnya, lalu menuanginya sedikit air—lagi takaran airnya tak dihitung. Setelahnya, gula merah yang telah dikoro’ dimasukkan ke dalam wajan. Dibiarkan mencair sambil digaru (aduk).

Begitu gula merahnya mencair, Ibu memasukkan kelapa parut yang telah disiapkan. Mengaduknya hingga menyatu dengan gula merah. Dan terakhir, Ibu memasukkan songkolo.

Setelah keempat bahan itu bertemu di atas wajan, maka saatnyalah mengeluarkan tenaga ekstra untuk mengaduknya agar bahan-bahan itu menyatu dengan mesra—tak terpisahkan oleh apa pun.

Ibu terus mengaduknya hingga mengental, lagi tak ada takaran waktu berapa lama harus diaduk. Semuanya dilakukan berdasarkan pengalaman.

Setelah semuanya menyatu dengan rata dan mengental, Ibu kemudian mematikan kompornya. Itu tandanya baje’ telah masak dan siap dica’ma-ca’ma (dimakan).

Satu lagi catatannya, Ibu membuatnya dengan menggunakan api sedang. Tak terlalu besar, pun tak terlalu kecil.

Dan setelah agak dingin, saya mengambil baje’ itu. Mencobanya. Rasanya bikin nagih. Ibu membuatkan dengan penuh rasa cinta yang dipersembahkan kepada Ayah, juga pada anak dan cucunya.

Sobat hijau,  baje’ telah menjadi kuliner yang tak terpisahkan dari spiritualitas masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya di Desa Kindang, Bulukumba. Kuliner ini wajib ada saat acara a’baca-baca  “ritual” khususnya syukuran.

Banyak makna filosofis yang dikandungnya, dan tentu semua makna ini bernilai positif untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk pesan bijak, jangan membuang makanan yang masih layak dikonsumsi atau diolah menjadi makanan dengan wajah lain, semisal songkolo menjadi baje’.

Topik terkait
kuliner tradisional baje' beras ketan songkolo ibu