Menutup Jejak Hijau: Perjalanan Magang, Literasi, dan Panggilan Jiwa di Kaki Gunung Lompobattang

Klikhijau.com – Perjalanan magang saya di Klikhijau menjadi salah satu proses mendalam dan berharga, juga menjadi yang paling berkesan selama menjalani proses perkuliahan sebagai mahasiswa sosiologi d...

Menutup Jejak Hijau: Perjalanan Magang, Literasi, dan Panggilan Jiwa di Kaki Gunung Lompobattang
Bacakan Artikel
Putri

Artikel terbaru dari Putri (lihat semua)

Belum ada artikel terbaru lain dari penulis ini.

Klikhijau.com – Perjalanan magang saya di Klikhijau menjadi salah satu proses mendalam dan berharga, juga menjadi yang paling berkesan selama menjalani proses perkuliahan sebagai mahasiswa sosiologi di Universitas Negeri Makassar (UNM).

Magang yang awalnya kupikir hanya belajar menulis berita lingkungan atau mengikuti kegiatan-kegiatan sosial, tetapi rupanya juga tentang bagaimana saya harus memahami manusia, alam, dan hubungan keduanya dengan lebih dekat dari beberapa kegiatan luar ruangan yang saya ikuti, berbagai dinamika sosial dan isu lingkungan yang terus berkembang, saya menemukan banyak pelajaran yang tidak saya dapatkan di ruang kelas.

Selama masa magang, saya terlibat dalam berbagai kegiatan lingkungan, diskusi sosial, hingga kampanye kesadaran ekologis.

Saya belajar bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tugas aktivis atau pemerintah, tetapi menjadi tanggung jawab semua orang, terutama generasi muda. Lewat Klikhijau, saya melihat bagaimana media dapat menjadi alat penyadaran sosial yang kuat. Bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menggerakkan hati dan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan hidup.

Hari-hari terakhir saya dalam masa magang, saya memasuki pedesaan yang berrrrghhh sejuknya, mengikuti kegiatan peringatan International Day for Biological Diversity di Desa Kindang, Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba.

Pengalaman penuh warna

Perjalanan dari Makassar menuju Kindang menjadi pengalaman yang penuh warna bagi saya. Kami menempuh perjalanan panjang melewati hamparan sawah, perbukitan hijau, dan jalanan yang perlahan membawa kami mendekati kaki Gunung Lompobattang. Udara yang semakin sejuk dan suasana desa yang tenang membuat perjalanan itu terasa berbeda dari aktivitas perkotaan yang biasa saya jalani.

Di sepanjang perjalanan, saya mulai membayangkan bagaimana masyarakat yang hidup di sekitar kawasan pegunungan memiliki hubungan yang sangat dekat dengan alam. Mereka hidup berdampingan dengan hutan, sungai, dan keanekaragaman hayati yang menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari.

Perasaan saya saat itu campur aduk antara penasaran, kagum, dan haru. Saya merasa sedang menuju sebuah ruang belajar baru yang tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga pengalaman batin.

Sesampainya di Kindang, saya melihat suasana yang begitu hidup. Anak-anak muda berkumpul dengan membawa buku bacaan mereka masing-masing. Mereka datang bukan karena kewajiban, melainkan karena kesadaran dan keinginan dari dalam diri mereka sendiri.

Hal itu menjadi sesuatu yang sangat menarik bagi saya. Di tengah era digital dan kehidupan modern yang serba cepat, masih ada anak muda yang memilih duduk bersama untuk berdiskusi, membaca, dan berbicara tentang lingkungan.

Salah satu kalimat yang paling saya ingat dalam kegiatan itu datang dari Anis Kurniawan. Ia mengatakan bahwa anak-anak muda yang hadir datang karena panggilan jiwa.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2