Menolak Tanah Mati, Merajut Masa Depan Pangan Lewat Aksi Pertanian Organik

Klikhijau.com - Benih-benih perubahan bagi masa depan sistem pangan yang sehat, adil, dan berkelanjutan di Indonesia sejatinya berada di tangan kolaborasi lintas sektor. Mengingat urgensi tersebut,...

Menolak Tanah Mati, Merajut Masa Depan Pangan Lewat Aksi Pertanian Organik
Bacakan Artikel

Menariknya, gerakan kembali ke alam (back to nature) di wilayah Sulawesi Selatan terbukti bukan lagi sekadar pemanis wacana di atas kertas. Inovasi-inovasi berbasis komunitas di lapangan telah menorehkan rekam jejak emas yang diakui secara luas. Salah satu contoh nyata yang menginspirasi adalah kiprah Kelompok Tani Kanre Apia di Kabupaten Gowa.

Komunitas ini secara konsisten mampu memproduksi dan mendistribusikan lebih dari 100 ton sayuran segar secara gratis kepada masyarakat luas yang membutuhkan, sebuah aksi kemanusiaan berdampak ekologis besar yang mengantarkan mereka meraih penghargaan tertinggi Kalpataru tahun 2026. Tidak berhenti di situ, dedikasi kolektif ini bahkan sukses membawa nama Indonesia berkiprah di panggung internasional dalam ajang Kampung Iklim Lestari yang diselenggarakan di Dubai.

Warisan Pahit Revolusi Hijau dan Urgensi Pemulihan Bumi

Direktur AOI Sukmi Alkausar, membedah akar sejarah dan warisan rumit yang ditinggalkan oleh model 'Revolusi Hijau' konvensional yang masif diterapkan sejak beberapa dekade lalu. Di balik gemerlap klaim keberhasilan peningkatan produksi pangan masa lalu, dunia pertanian kita hari ini harus membayar mahal akibat terjadinya degradasi lingkungan yang terstruktur dan sistemik.

Penggunaan input kimia yang tak terkendali tidak hanya merusak struktur biologi tanah, melainkan juga melahirkan lingkaran setan ketergantungan ekonomi yang mencekik para petani kecil di pedesaan.

Fakta mencengangkan turut dibeberkan bahwa posisi Indonesia kini berada di peringkat ketiga global dalam hal intensitas penggunaan pestisida kimia. Kenyataan pahit ini menjadi alarm keras bahwa ekosistem pertanian kita sedang berada dalam kondisi lampu kuning yang kritis.

"Jika pertanian hari ini tega merusak tanah hanya demi memberi makan manusia secara instan, maka pertanian masa depan harus bertumpu pada filosofi yang lebih luhur: mampu memberi makan umat manusia sekaligus memulihkan kesehatan bumi yang kita pijak," ungkap Sukmi dengan penuh penekanan saat menguraikan esensi gerakan organik sejati.

Lebih jauh, Sukmi menjabarkan bahwa masa depan pertanian organik di Indonesia harus bertransformasi dari sekadar komoditas gaya hidup pasar kelas atas (niche market) atau jebakan formalitas sertifikasi yang mahal.

Gerakan ini harus berevolusi menuju penguatan ekosistem ketahanan pangan masyarakat secara inklusif. Konsep pertanian organik yang utuh wajib menyentuh pemulihan kesehatan tanah, konservasi biodiversitas hayati, perlindungan hak kekayaan benih lokal, hingga penciptaan kemitraan multipihak yang adil dari hulu ke hilir demi kesejahteraan petani ekologis.

Antusiasme Publik di Ruang Digital dan Harapan Masa Depan

Diadakan sepenuhnya secara daring melalui platform Zoom Meeting serta disiarkan secara langsung melalui kanal resmi YouTube, webinar Suara Aksi Volume II ini mendapatkan sambutan yang luar biasa meriah. Ruang virtual dipenuhi peserta interaktif yang datang dari beragam latar belakang profesi. Para peserta secara kritis melayangkan pertanyaan.

Melalui sinergi pemikiran yang tertuang dalam webinar ini, lahir sebuah kesimpulan kolektif: bahwa pertanian organik bukanlah masa lalu yang tertinggal, melainkan jalan masa depan yang mutlak ditempuh demi keselamatan generasi mendatang. Bagi publik yang tidak sempat mengikuti jalannya diskusi yang menginspirasi ini secara langsung, rekaman utuh dan siaran ulang webinar Suara Aksi Volume II tetap dapat diakses kapan saja melalui kanal YouTube resmi Klikhijau.com, atau tonton di sini.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2