Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Berita Lingkungan

Menolak Tanah Mati, Merajut Masa Depan Pangan Lewat Aksi Pertanian Organik

Klikhijau.com - Benih-benih perubahan bagi masa depan sistem pangan yang sehat, adil, dan berkelanjutan di Indonesia sejatinya berada di tangan kolaborasi lintas sektor. Mengingat urgensi tersebut,...

Oleh Tim Redaksi 07 Jul 2026 13:23 5 menit baca

Klikhijau.com - Benih-benih perubahan bagi masa depan sistem pangan yang sehat, adil, dan berkelanjutan di Indonesia sejatinya berada di tangan kolaborasi lintas sektor. Mengingat urgensi tersebut, media lingkungan Klikhijau.com kembali mengambil peran strategis dengan menyelenggarakan diskusi interaktif berskala nasional melalui webinar bertajuk "Suara Aksi Volume II" yang berlangsung dinamis pada Selasa, 7 Juli 2026.

Mengusung tema utama “Masa Depan Narasi dan Aksi Pertanian Organik di Indonesia”, ruang diskusi virtual ini menjadi panggung penting untuk menguliti tantangan, membongkar mitos, sekaligus merumuskan aksi nyata dalam transisi menuju kedaulatan pangan berbasis pertanian organik ekologis.

Diskusi ini dengan tajam menyoroti sejauh mana peran lintas sektor, media massa, komunitas akar rumput, kebijakan pemerintah, hingga kesadaran konsumen urban dapat bergerak seirama demi menyelamatkan bumi dan isi piring kita.

Sinergi Gagasan Lintas Sektor di Ruang Digital

Diskusi edukatif yang berlangsung menghadirkan kombinasi perspektif yang sangat kaya, segar, dan aplikatif dari para narasumber yang bergelut langsung di garda depan perubahan. Hadir membagikan buah pikirannya yang mendalam, antara lain, Iptu Purnawanto, Kapolsek Batang Polres Jeneponto, seorang perwira polisi yang mendedikasikan energinya untuk membawa solusi praktis pemulihan hara melalui inovasi pupuk hayati cair berbasis agen hayati lokal.

Juga Direktur Aliansi Organis Indonesia (AOI), Sukmi Alkausar seorang aktivis dan pemikir agraria yang memaparkan cetak biru transformasi sistem pangan nasional melalui reorientasi menyeluruh pada ekosistem pertanian organik.

[irp]

Acara dibuka dengan opening speech yang menggugah oleh Anis Kurniawan, Direktur Klikhijau.com, yang kembali menegaskan komitmen kuat media dalam mengawal isu-isu krisis iklim dan lingkungan global. Jalannya diskusi yang penuh energi ini dipandu secara interaktif oleh jurnalis Klikhijau.com, Arman Jaya.

Solusi Praktis dari Lapangan: Memutus Ketergantungan Input Kimia

Menjawab tantangan konseptual tersebut, Iptu Purnawanto membawa potret riil, solutif, dan sangat membumi mengenai problem mendasar yang setiap hari dihadapi oleh jutaan petani di berbagai daerah.

Ia menyoroti fenomena tanah pertanian yang mulai kehilangan kesuburan alaminya, menjadi keras, bantat, rusak, dan berkadar asam tinggi akibat hantaman pupuk kimia sintetis secara terus-menerus selama bertahun-tahun. Tanah yang mati secara biologis membuat tanaman rentan terhadap serangan hama, yang ironisnya, kembali direspons petani dengan dosis pestisida yang lebih tinggi lagi.

Sebagai langkah nyata untuk memutus rantai ketergantungan tersebut, ia memperkenalkan formula Bio Teratai, sebuah produk pupuk hayati cair pembenah tanah inovatif yang memanfaatkan kekuatan biokonversi mikroorganisme hidup, termasuk pemanfaatan cairan bernutrisi tinggi hasil budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF).

[irp]

"Aplikasi pupuk hayati yang kaya akan mikroba baik sering kali dilupakan oleh pertanian modern, padahal alam semesta ini diciptakan dengan hukum keseimbangan. Ketika mikroba tanah mati akibat racun pestisida, tugas kita adalah menghidupkannya kembali agar tanah berfungsi seperti spons alami yang mampu mengikat air dan menyalurkan nutrisi secara optimal ke akar tanaman," jelas Purnawanto secara gamblang.

Menariknya, gerakan kembali ke alam (back to nature) di wilayah Sulawesi Selatan terbukti bukan lagi sekadar pemanis wacana di atas kertas. Inovasi-inovasi berbasis komunitas di lapangan telah menorehkan rekam jejak emas yang diakui secara luas. Salah satu contoh nyata yang menginspirasi adalah kiprah Kelompok Tani Kanre Apia di Kabupaten Gowa.

Komunitas ini secara konsisten mampu memproduksi dan mendistribusikan lebih dari 100 ton sayuran segar secara gratis kepada masyarakat luas yang membutuhkan, sebuah aksi kemanusiaan berdampak ekologis besar yang mengantarkan mereka meraih penghargaan tertinggi Kalpataru tahun 2026. Tidak berhenti di situ, dedikasi kolektif ini bahkan sukses membawa nama Indonesia berkiprah di panggung internasional dalam ajang Kampung Iklim Lestari yang diselenggarakan di Dubai.

Warisan Pahit Revolusi Hijau dan Urgensi Pemulihan Bumi

Direktur AOI Sukmi Alkausar, membedah akar sejarah dan warisan rumit yang ditinggalkan oleh model 'Revolusi Hijau' konvensional yang masif diterapkan sejak beberapa dekade lalu. Di balik gemerlap klaim keberhasilan peningkatan produksi pangan masa lalu, dunia pertanian kita hari ini harus membayar mahal akibat terjadinya degradasi lingkungan yang terstruktur dan sistemik.

Penggunaan input kimia yang tak terkendali tidak hanya merusak struktur biologi tanah, melainkan juga melahirkan lingkaran setan ketergantungan ekonomi yang mencekik para petani kecil di pedesaan.

[irp]

Fakta mencengangkan turut dibeberkan bahwa posisi Indonesia kini berada di peringkat ketiga global dalam hal intensitas penggunaan pestisida kimia. Kenyataan pahit ini menjadi alarm keras bahwa ekosistem pertanian kita sedang berada dalam kondisi lampu kuning yang kritis.

"Jika pertanian hari ini tega merusak tanah hanya demi memberi makan manusia secara instan, maka pertanian masa depan harus bertumpu pada filosofi yang lebih luhur: mampu memberi makan umat manusia sekaligus memulihkan kesehatan bumi yang kita pijak," ungkap Sukmi dengan penuh penekanan saat menguraikan esensi gerakan organik sejati.

Lebih jauh, Sukmi menjabarkan bahwa masa depan pertanian organik di Indonesia harus bertransformasi dari sekadar komoditas gaya hidup pasar kelas atas (niche market) atau jebakan formalitas sertifikasi yang mahal.

Gerakan ini harus berevolusi menuju penguatan ekosistem ketahanan pangan masyarakat secara inklusif. Konsep pertanian organik yang utuh wajib menyentuh pemulihan kesehatan tanah, konservasi biodiversitas hayati, perlindungan hak kekayaan benih lokal, hingga penciptaan kemitraan multipihak yang adil dari hulu ke hilir demi kesejahteraan petani ekologis.

Antusiasme Publik di Ruang Digital dan Harapan Masa Depan

Diadakan sepenuhnya secara daring melalui platform Zoom Meeting serta disiarkan secara langsung melalui kanal resmi YouTube, webinar Suara Aksi Volume II ini mendapatkan sambutan yang luar biasa meriah. Ruang virtual dipenuhi peserta interaktif yang datang dari beragam latar belakang profesi. Para peserta secara kritis melayangkan pertanyaan.

Melalui sinergi pemikiran yang tertuang dalam webinar ini, lahir sebuah kesimpulan kolektif: bahwa pertanian organik bukanlah masa lalu yang tertinggal, melainkan jalan masa depan yang mutlak ditempuh demi keselamatan generasi mendatang. Bagi publik yang tidak sempat mengikuti jalannya diskusi yang menginspirasi ini secara langsung, rekaman utuh dan siaran ulang webinar Suara Aksi Volume II tetap dapat diakses kapan saja melalui kanal YouTube resmi Klikhijau.com, atau tonton di sini.

Topik terkait
#climate change #pertanian alami #tanah