Menjejaki Budaya Masyarakat Buang Sampah di Halaman Belakang

Klikhijau.com – Nyaris tak ada anak-anak suka bermain di halaman belakang rumah. Pun orang akan menghindari mengunjunginya. Halaman belakang rumah bukan hanya tempat yang agak privasi. Namun, juga...

Menjejaki Budaya Masyarakat Buang Sampah di Halaman Belakang
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Klikhijau.com – Nyaris tak ada anak-anak suka bermain di halaman belakang rumah. Pun orang akan menghindari mengunjunginya.

Halaman belakang rumah bukan hanya tempat yang agak privasi. Namun, juga bisanya menjadi lumbung pembuangan sampah. Tempat menimbun barang-barang yang tak lagi digunakan.

Halaman belakang biasanya pula menjadi tempat beternak ayam. Juga menjadi tempat membuang air limbah dari kamar mandi.

Maka bermain atau mengunjungi halaman belakang rumah, khususnya di kampung-kampung adalah hal yang agak “menjijikkan’.

Di kampung saya misalnya, Kindang, Bulukumba. Halaman belakang adalah tempat terindah membuang mantan (baca sampah). Selain tersembunyi, juga dianggap lebih aman.

Masyarakat tentu saja tak bisa dilarang, bukan karena tanah di halaman belakang rumahnya adalah milik sendiri. Namun, di kampung atau desa tak ada tempat pembuangan akhir (TPA) sampah yang disediakan pemerintah. Pun tak ada armada pengangkut sampah yang bisa menyelamatkan sampah dari rumah-rumah masyarakat.

Jika di kota, setiap sampah dengan enteng saja diletakkan di pinggir jalan, dan tak lama kemudian akan ada petugas kebersihan datang mengambilnya. Di kampung-kampung hal serupa itu tak ditemukan. Sampah jika diletakkan di depan rumah akan dihambur ayam atau anjing.

Masyarakat  harus belajar menjauhkan harapan akan ada petugas kebersihan datang mengambilnya. Hingga lumutan pun tak akan ada yang datang. Pemerintah dan petugas kebersihan menganggap sampah seolah hanya ada di kota.

Setahu saya, satu-satunya kabupaten di Sulawesi Selatan yang menyediakan armada pengangkut sampah hingga ke desa hanyalah Kabupaten Gowa. Meski kehadirannya juga banyak diprotes warga.

Kampung seolah lepas dari sampah

Persoalan sampah  lebih banyak disorot adalah sampah di kota. Kampung seolah kebal dari sampah, padahal itu tak benar. Sampah yang bertumpuk di laut saya juga yakini itu sebagian disumbang oleh masyarakat kampung.

Sampah tak semuanya diam di tempat pembuangannya. Ada yang terseret ke selokan, terus ke sungai lalu air sungai membawanya ke laut. Dan lautlah muara dari sampah itu.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2