Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

Menikmati Weekend dengan Puisi Bernuansa Hijau dari Nizar Qabbani

Klikhijau.com – Bagi pencinta sastra, khususnya puisi tentu tidak asing dengan nama Nizar Qabbani. Ia termasuk salah satu penyair dunia yang sangat berpengaruh. Nizar lahir di Damaskus, Suriah, pad...

Oleh Tim Redaksi 16 Jul 2023 01:51 4 menit baca
Klikhijau.com – Bagi pencinta sastra, khususnya puisi tentu tidak asing dengan nama Nizar Qabbani. Ia termasuk salah satu penyair dunia yang sangat berpengaruh. Nizar lahir di Damaskus, Suriah, pada 21 Maret tahun 1923. Selama hidupnya penyair ini pernah bekerja di Departemen Luar Negeri Suriah. Ia   bertugas di Mesir dan Inggris. Selama hidupnya, Nizar telah menulis 35 buku puisi. Jumlah tidak sedikit bukan? Ia juga termasuk salah satu penyair Arab yang paling terkenal. Dalam puisi-puis Nizar, pembaca akan menemukan banyak ungkapan dengan menggunakan diksi alam. Lelaki yang konon, karena sikap politiknya, ia pernah dimusuhi oleh para pemimpin negara Arab, yang membuanya  mengasingkan diri ke Inggris. Dan ia meninggal dunia “di perantuannya” itu pada tanggal 30 April 1998. [irp] Dikutip dari berbagai sumber, berikut ini sejumlah puisi dari Nizar Qabbani dengan diksi alam yang memikat:  

Hukum Baru Penciptaan

  Pada mulanya adalah Fatimah Unsur-unsur semesta tersusun Api dan tanah Air dan udara Bahasa dan nama-nama tercipta Musim panas dan musim semi Pagi dan sore Mata Fatimah tercipta Semesta menyibak rahasia Mawar-mawar hitam Selang seribu masa Perempuan mengada [irp]

Klarifikasi Kepada Pembaca Puisiku

  Orang-orang bodoh menuduhku: Telah kumasuki kamar perempuan Dan tak pernah ke luar Mereka berseru-seru Untuk menggantungku Karena kekasihku Aku, puisi, tercipta Aku bukan penjual hasis Aku tak pernah mencuri Aku tak membunuh Layaknya para pengacau Aku, di siang cerah, hanya bercinta Adakah aku berdosa? *** Orang-orang bodoh menuduhku: Aku, dengan puisiku, menentang titah Langit Adakah cinta Menyaingi keagungan Langit? Aku berteman dengan langit Ia menangis bila aku menangis Ia tertawa bila aku tertawa Dan pendar bintang-bintangnya Kian berkilauan Ketika aku jatuh cinta Adakah yang salah Jika aku bernyanyi atas nama kekasih Dan seperti pohon kastanye Kutanam dia Di penjuru kota? *** Akan terus kukabarkan cintaku Seperti pekabar para nabi Akan terus kukabarkan masa kanakku Begitu murni Dan suci Akan terus kutulis ihwal kekasihku Hingga kuleburkan warna emas rambutnya Dalam keemasan langit Aku—aku berharap Tetap menjadi seorang bocah Mencoret dinding-dinding langit Sesuka hati Hingga di negeriku Cinta menjelma udara Aku akan menjadi kamus Bagi para pecinta Dan pada kedua bibir mereka Aku menjelma alif dan ba’ (Penerjamah: Muhammad Aswar) [irp]

Pada Musim Panas

  Pada musim panas, kubawa diriku ke pantai berbaring dan memikirkanmu. Kutumpahkan ke dada laut seluruh perasaanku kepadamu. Laut akan menanggalkan pantai, meninggalkan karang-karang, kerang-kerang, juga ikan-ikan, dan berjalan mengikutiku pulang. [irp]

Puisi tentang Laut

  Di pelabuhan biru matamu berembus hujan dan kilau suar ibarat suara-suara yang merdu. Matahari gemetar dan layar melukis perjalanan mereka ke keabadian. Di pelabuhan biru matamu lautan terbuka seperti jendela. Burung-burung datang dari jauh, mencari pulau-pulau yang tiada dalam peta. Di pelabuhan biru matamu salju jatuh menyelimuti bulan Juli. Kapal sarat dengan bebatuan mulia tumpah ke laut dan tidak tenggelam. Di pelabuhan biru matamu aku menyusur pantai bagai anak kecil. Menghirupembuskan aroma garam dan memulangkan burung-burung yang kelelahan ke sarang. Di pelabuhan biru matamu karang bersenandung pada malam hari. Siapa gerangan yang menyembunyikan ribuan puisi ke dalam lembaran buku tertutup di matamu? Andai saja, andai saja aku seorang pelaut, andai saja ada seorang memberiku perahu, aku akan menggulung layarku setiap malam dan bersandar di pelabuhan biru matamu. (Penerjamah: M. Aan Mansyur) [irp]

Surat Kecil untuk Cintaku

  Cintaku, banyak hal hendak kulihat dari mana untuk ku mula wahai penyalaan kalimatku, memberi maknanya ini lagu bernyanyiku, dan aku sendiri besok, jika kertas mulai membuka halaman baru dan aku terhiris durinya, dari beberapa huruf maka janganlah pula kau berkata: Apa kena pemuda ini? cahaya lampu kan leluasa kamar malam kan menyanyi surat-surat lama akan menjadi kehijauan koma-koma yang ada akan mulai berantai saat itu jangan kau bertanya: Apa kena pemuda ini? bercakap-cakap mengenai saya ke jalanan dan muara sungai kekacang almond dan bunga tulip Oh maknanya dunia akan mengiringiku ke mana saja ku pergi? Dan kenapa dia menyanyi lagu-lagu itu? Nah, bintang sudah hilang dan itu tidak pernah diwangikan wangianku besok orang akan melihatku di setiap tulisannya Dengan manis syarbat mulut mulus itu, serta rambut yang menutup bahumu pedulikan apa orang kan kata kau hanya kan jadi hebat hanya karena cintaku dunia kan jadi apa jika kita tidak begini dan jika matamu tidak begini, bagaimanakah pula dunia ini? (Penerjamah: Zahid M. Naser) [irp]
Topik terkait
#puisi hijau #puisi lingkungan #puisi alam #penyair arab #nizar qabbani #penyair dunia